1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Studio Babelsberg Hadapi Perubahan Zaman

10 Juni 2011

Fritz Lang, Roman Polanski dan Quentin Tarantino pernah syuting di Babelsberg. Kompleks studio tertua di dunia dengan 16 studio di areal seluas 25 ribu meter persegi. Namun kini Babelsberg menghadapi saingan berat.

https://p.dw.com/p/11TBw
Foto: Studio Babelsberg AG

Pemandangan berbatu berdiri menjulang di bawah langit-langit setinggi sebelas setengah meter. Pemandangan bernuansa gelap dari batu-batu yang berbentuk unik ini adalah khas pegunungan Elbe Sandstone di Saxony bagian tenggara Jerman. Siapapun yang melihat pemandangan ini pasti berpikir, dibutuhkan kekuatan layaknya Superman untuk mampu mengangkat batu-batu tersebut. Batu-batu yang terlihat begitu nyata, padahal terbuat dari karet sintetis. Para seniman di balik karya seni ini sukses menciptakan gambaran yang menyerupai aslinya, meski perlu berminggu-minggu untuk menghasilkan detail latar belakang yang mempesona.

Tom Cruise sebagai Kolonel Claus von Stauffenberg dalam 'Valkyrie'
Tom Cruise sebagai Kolonel Claus von Stauffenberg dalam 'Valkyrie'Foto: AP Photo/Studio Babelsberg AG, Frank Connor

"Saat ini kami tengah memproduksi film 3 dimensi berjudul 'Hansel and Gretel: Witch Hunters' dengan Jeremy Renner dan Gemma Arterton sebagai pemeran utama dan Tommy Wirkola di kursi sutradara. Proyek besar yang tentunya akan membuat sensasi." Itulah Carl Woebcken, pemegang saham utama dan orang nomor satu di studio Babelsberg. Woebcken terdengar yakin, karena proyek-proyek besar lain yang dilahirkan dari studionya dalam beberapa tahun terakhir, berhasil merebut perhatian internasional. Seperti film action 'Speed Racer' atau film drama 'Valkyrie' mengenai konspirasi pembunuhan Adolf Hitler yang gagal dengan pemain bintang Tom Cruise. Ada juga adaptasi novel laris 'The Reader' yang mengantar Kate Winslet mendapat piala Oscar sebagai aktris terbaik tahun 2008 lalu.

"Studio Babelsberg adalah satu-satunya studio besar di Jerman yang ditargetkan bagi produksi film dengan peralatan yang begitu besar dan intensif. Baik menyangkut studio ataupun teknologi, semua anggota kru terlibat dalam produksi. Kami telah menelurkan sejumlah film yang mengangkat pengalaman kami ke tingkat internasional," jelas Woebcken.

Syuting salah satu adegan film 'Unknown' yang dibintangi Liam Neeson
Syuting salah satu adegan film 'Unknown' yang dibintangi Liam NeesonFoto: Studio Babelsberg AG

Untuk produksi skala besar, kru studio biasanya dibantu sekitar 1500 tenaga kerja profesional di bidang film yang bekerja sebagai tenaga kerja lepas. Tugas yang paling berat tentunya diemban departemen seni yang harus meyakinkan penonton bahwa syuting dilakukan di lokasi yang sesungguhnya. Seperti produksi film Tom Tykwer tahun 2007 lalu, 'The International' yang dibintangi Clive Owen dan Naomi Watts. Departemen seni berhasil membangun replika berukuran asli dari museum Guggenheim di New York. Adegan klimaks juga termasuk jatuhnya lampu gantung raksasa ke lantai. Seluruh adegan dibuat menggunakan computer-generated imagery atau pencitraan yang dihasilkan komputer.

"Ini adalah kombinasi yang hebat. Baik seninya sendiri maupun teknologi pendukung yang baru. Ini sebuah kebanggaan dan kami percaya bisa terus memproduksi film-film hebat berkelas internasional," ungkap Woebcken.

Brad Pitt di lokasi syuting film besutan Quentin Tarantino, 'Inglorious Basterds'
Brad Pitt di lokasi syuting film besutan Quentin Tarantino, 'Inglorious Basterds'Foto: Francois Duhamel/Studio Babelsberg AG

Tujuh tahun lalu, Carl Woebcken mengambil alih studio Babelsberg yang telah berdiri sejak tahun 1912 dari korporat media Perancis, Vivendi. Meski terus-terusan restrukturisasi dan mengurangi jumlah kru tetap, Babelsberg tetap saja gagal keluar dari zona merugi. Perubahan baru datang di tahun 2007, saat datang dana dari pemerintah Jerman. Setiap tahun pemerintah federal Jerman memberi angin segar dengan mengucurkan dana sebesar 60 juta Euro untuk memajukan perfilman Jerman. Sebagian dari dana ini lari ke Babelsberg.

"Di negara bagian lain di Jerman, seperti Bavaria dan Nordrhein-Westfalen, timbul hasrat untuk meniru Babelsberg. Tapi jika dibandingkan secara internasional, saingan utama kami sekelas London, Praha dan Budapest. Dan sejujurnya, dana pemerintah Jerman juga punya keterbatasan," kembali Woebcken angkat bicara. Tahun depan, Babelsberg yang akan merayakan 100 tahun hari jadi mungkin sudah tidak bisa lagi bersaing dengan tawaran menarik yang diberikan studio berskala besar di Inggris dan Perancis.

Silke Bartlick/Carissa Paramita

Editor: Edith Koesoemawiria