Steinmeier Minta Qatar Perhatikan Buruh Asing | dunia | DW | 02.06.2014
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Steinmeier Minta Qatar Perhatikan Buruh Asing

Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier minta Qatar memperbaiki kondisi pekerja asing di negaranya. Organisasi hak asasi mengecam eksploitasi buruh asing dalam persiapan Piala Dunia 2022.

Penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar baru akan berlangsung delapan tahun depan, tapi kritik makin santer karena eksploitasi buruh asing dalam proyek-proyek pembangunan. Kebanyakan buruh bangunan di Qatar berasal dari negara-negara Asia Selatan, seperti India dan Pakistan.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier, dalam kunjungannya ke Qatar hari Minggu (01/06), meminta pemerintah untuk memperbaiki kondisi buruh di negara itu. Terutama hak-hak buruh harus diperbaiki. "Tentu kami akan membantu Qatar melakukan perubahan ini", kata Steinmeier di Doha.

Menteri Luar Negeri Qatar Sheik Khalid Al Attiya berjanji akan melakukan perbaikan. "Jika terjadi kesalahan, kami berusaha dengan serius memperbaikinya", kata Al Attiya. Ia menerangkan, pemerintah Qatar sedang menyiapkan undang-undang perburuhan yang baru. "Kami akan menyambut setiap orang, yang ingin mengunjungi proyek-proyek itu", tambahnya.

Perbudakan modern

Selain pembangunan stadion-stadion sepakbola, Qatar juga berencana membangun jaringan kereta api bawah tanah dan pusat perbelanjaan megah sepanjang 8,5 kilometer. Banyak perusahaan Jerman yang terlibat dalam proyek ini.

Steinmeier mengatakan, Piala Dunia Sepakbola kini sudah berkembang menjadi sebuah ajang raksasa yang menjadi sorotan internasional. "Siapa yang ingin jadi penyelenggara, harus siap menghadapi sorotan publik."

Menlu Jerman menyatakan yakin, pemerintah Qatar akan menampung berbagai kritik dan melakukan perbaikan.

Organisasi hak asasi seperti Amnesty International sejak lama mengecam eksploitasi para pekerja asing yang bekerja di proyek-proyek bangunan tanpa sarana yang memadai. Mereka tidak boleh meninggalkan Qatar selama kontrak kerja dan harus tinggal di penampungan-penampungan yang terlantar. Amnesty menyebut kondisi kerja itu sebagai "perbudakan modern".

Peran diplomasi

Dengan cadangan minyak dan gas yang besar, Qatar menjadi salah satu negara terkaya dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, negara itu mencoba memainkan peran lebih besar di panggung diplomasi.

Para diplomat Qatar berhasil menengahi pembebasan tentara Amerika Serikat Bowe Bergdahl yang ditahan bertahun-tahun oleh Taliban Afghanistan. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat melepaskan lima tokoh Taliban yang ditahan di Guantanamo. Para tahanan Taliban itu diserahkan kepada pemerintah Qatar.

Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier mengatakan di Doha, Jerman sedang mengupayakan konferensi lanjutan untuk menengahi konflik di Suriah. "Setiap peluang harus dimanfaatkan untuk mencari penyelesaian politik", kata Steinmeier.

Laporan Pilihan