1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Soal Pencitraan, Pemasaran dan Politisasi ala Jokowi

Para pengamat sering gagal memahami cara berpikir Presiden Jokowi dan rasionalitas tindakannya, yang sebenarnya sederhana saja. Kolom Hendra Pasuhuk.

Presiden Jokowi memang fenomenal. Ini sebuah atribut yang sebenarnya tanpa substansi. Karena fenomenal itu keterangan sifat. Dan sifat memang bukan kategori kebendaan. Lalu apa substansinya Jokowi? Substansinya: Jokowi adalah fenomena. Tanpa L. Satu huruf saja, cukup untuk mengubah pemaknaan dan cara pandang.

Deutsche Welle Hendra Pasuhuk

Hendra Pasuhuk

Tentu para pengamat inelektual bakal segera mengeroyok, ya, mengolok-olok pernyataan diatas sebagai pernyataan bolong. Tanpa substansi. Tidak intelektual. Permainan kata-kata belaka. Dan entah apalagi. Tapi itu hak mereka. Kita sekarang hidup di era demokrasi. Tidak intelektual, adalah sebuah hak. Sama juga dengan pilihan untuk tidak menjadi substansial.

Mengapa Jokowi menjadi fenomena?

Karena dalam sejarah modernnya, Indonesia tidak pernah punya seorang pedagang yang jadi presiden, sebelum dia. Ada jenderal, ada intelektual, ada anak pembesar, ada pimpinan tradisional. Tapi pedagang? Tak pernah muncul dalam benak para teoritisi dan pengamat politik Indonesia, apalagi kalau mereka tumbuh besar di Jawa, bahwa seorang pedagang bisa, dan layak, jadi Presiden.

Tapi, Jokowi ternyata bisa. Itu jawaban pertama atas pertanyaan pada sub judul di atas. Menyadari fakta, tidak lantas berarti: tahu mengapa. Kita bisa merekam fakta bahwa sesuatu yang dilemparkan ke atas akan jatuh ke bumi. Ribuan generasi manusia tahu fakta itu. Namun perlu seorang pemikir dan imajinator handal, untuk menyusun rumus-rumus gravitasi dan menegakkannya sebagai „kenyataan“ baru, yang harus diterima rasio manusia, karena itulah kebenaran ilmiah, sampai ada bukti-bukti baru yang bisa membantahnya.

Indonesien DW-Redakteur Hendra Pasuhuk erzählt über die Medien in Deutschland

17 wartawan Jerman diundang Jokowi ke Istana Kepresidenan, Juni 2015

Kesalahan para pengeritik Jokowi adalah kegagalan mereka memahami aksi-aksi dan manajemen politik ala Jokowi. Ada yang misalnya mengeritik bahwa Jokowi sedang melakukan pencitraan. Ini sama saja dengan mengeritik sebuah konstruksi mobil yang dirancang untuk bergerak. Namanya mobil, ya memang mesti bergerak. Namanya politisi, ya tentu mesti melakukan pencitraan.

Teknik pemasaran dan politisasi

Sebagai pedagang, tentu Jokowi tahu betul pentingnya pemasaran. Membuat sebuah produk nan hebat, itu satu hal. Memasarkan produknya, itu hal lain. Memasarkan sama sekali tidak berhubungan dengan proses produksi. Banyak orang bisa membuat tulisan dan teori politik. Banyak orang bisa menyusun agenda dan program politik yang runut dan mengesankan. Tapi gagal dalam „memasarkan“ gagasan-gagasan itu. Ini sama saja dengan seorang insinyur yang mampu membuat konstruksi hebat, lalu membawanya ke atas gunung, dibuatkan altar, untuk dikaguminya sendiri. Penemuan hebat dia memang substansial, bagi dirinya. Dalam konteks sosial, konstruksi hebat itu bukan apa-apa. Sebab cuma dinikmati satu individu.

Dalam hal „pemasaran“ inilah, Jokowi berbeda dengan para politisi sebelum dia. Lalu, mengapa saya tambahkan „politisasi“ setelah pemasaran? Ya, jawaban di benak Anda sudah tepat: karena kita berbicara di bidang politik, dan peran seorang Jokowi. Seorang politisi tentu perlu memahami manajemen politisasi. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama.

Politisasi adalah „proses mengarahkan sesuatu ke dalam wacana politik“. Tak perlu mencari definisi itu di KBBI untuk membantah atau mendebat saya. Sebab definisi ini buatan saya sendiri. Politisasi bisa dilakukan dengan segala hal. Dan seorang politisi tentu akan mencobanya. Ini soal pilihan dan opsi. Dan juga soal pemasaran itu tadi. .. (lanjut ke halaman 2)..

Laporan Pilihan