1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Skenario Perang Dagang AS dan Cina

Isu perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat kembali menguat menyusul pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Cina mencoba mengendurkan ketegangan, namun Trump tetap bergeming.

Donald Trump berulangkali mengecam kebijakan dagang Cina dan mengancam bakal menghukum Beijing dengan menaikkan pajak impor menjadi 45%. Ia juga menuding Cina memanipulasi nilai mata uangnya sendiri untuk mengebiri daya saing produsen Amerika.

Trump keliru ketika mengklaim Beijing sengaja mempertahankan nilai tukar Yuan agar lebih lemah ketimbang Dollar AS. Bank Sentral Cina saat ini aktif mengucurkan uang demi menopang nilai Yuan dan menghadang arus modal ke luar negeri. Namun juga studi terakhir menyebutkan Amerika kehilangan 2 juta lapangan kerja sejak Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, WHO.

Presiden terpilih AS berjanji akan mengembalikan lapangan kerja yang hilang dengan menekan Cina. Namun Kementerian Perdagangan di Beijing memperingatkan perang dagang "cuma akan menciptakan penderitaan di kedua negara."

Cina pun bukan tanpa senjata. Beijing bisa mempersulit aktivitas dagang perusahaan-perusahaan besar AS seperti Apple, General Motors dan Boeing. Selain itu ekspor kedelai AS ke Cina pun bisa terganggu. Khususnya ekspor produk agrikultur menjadi kepentingan petani AS yang sebagian besar memilih Trump.

Faktanya sikap keras Washington akan memicu reaksi tak terduga dari Beijing. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Xi Jinping menegaskan "tidak ada" yang akan menang dalam perang dagang. Kementerian Perdagangan Cina juga menyatakan "siap bekerja" dengan pemerintahan Trump "demi mencapai keuntungan terbesar buat bisnis dan konsumen di kedua negara."

Untuk itu Beijing baru-baru ini mengisyaratkan akan membuka akses lebih luas bagi investor luar negeri, antara lain dengan mengizinkan perusahaan asing melakukan penawaran umum perdana atau IPO di bursa saham Cina. Sebulan silam Cina juga mempersilahkan investor asing membentuk perusahaan sendiri, tanpa perlu menggandeng mitra lokal.

Meski begitu perusahaan asing di Cina hingga kini masih mengeluhkan keterbatasan akses. Saat ini Cina berada di posisi 84, di belakang Arab Saudi dan Ukraina, dalam Indeks Kemudahan Berbisnis versi Bank Dunia.

rzn/yf (afp,rtr)

 

Laporan Pilihan