1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Piala Dunia 2014

Skandal Wasit Sudutkan FIFA

Keputusan kontroversial wasit dalam dua pertandingan di babak perdelapan final, kembali memicu perdebatan seputar penggunaan bukti video untuk menganulir keputusan wasit. Desakan tersebut selama ini terbentur sikap FIFA

default

Wasit Roberto Rosetti yang memimpin pertandiingan Argentina dan Mexiko

Selambatnya sejak menit ke-25 duel klassik, Mexiko versus Argentina di Soccer-City Stadium, FIFA kembali disibukkan dengan perdebatan seputar pembuktian video untuk membantu wasit di atas lapangan.

Saat itu Carlos Tevez yang jelas berada dalam posisi Offside, menerima bola lambung Lionel Messi dan dengan mudah menceploskannya ke gawang Mexiko. Sebenarnya situasi semacam itu lazim terjadi dalam sebuah pertandingan. Yang tidak lazim adalah ketika wasit Roberto Rosetti mengesahkan gol tersebut meski telah berdiskusi panjang dengan hakim garis.

Karena sekejap kemudian pihak stadion memutar ulang video saat terjadinya gol tersebut di layar besar. Selambatnya sejak saat itu semua pemain di lapangan, 84.000 penonton di stadion, dan tentunya wasit mengetahui, gol tersebut tidak seharusnya disahkan.

Hal serupa terjadi dalam duel lain antara dua musuh bebuyutan, Jerman dan Inggris, ketika wasit Uruguay, Jorge Larrionda menganulir gol Frank Lampard di menit ke-40 yang jelas-jelas telah berada di dalam gawang.

Kenapa wasit bersikeras mempertaruhkan jalannya pertandingan demi sebuah keputusan? Jawabannya bisa ditemukan dalam surat pernyataan FIFA.

Terbentur sikap keras Sepp Blatter

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Rosetti dan Lorrianda hanya akan membahayakan karirnya di FIFA jika menganulir kedua gol tersebut. Pasalnya sang Presiden dengan tegas melarang wasit membatalkan keputusan yang sudah dibuat dengan beradasarkan bukti video. Dalam sistem Sepp Blatter, hal itu merupakan dosa terbesar.

Dalam surat pernyataannya, FIFA kembali menepis desakan untuk menerapkan pembuktian video dalam pertandingan, dengan dalih untuk menjada dimensi kemanusiaan dalam sepak bola. “Para fans suka berdiskusi tentang jalannya pertandingan, hal itu mempertajam karakter manusiawi dalam olahraga ini.”

NO FLASH Nicht gezähltes Tor England gegen Deutschland

Kiper Jerman Manuel Neuer melihat bola yang jelas berada di dalam gawang. Namun gol Frank Lampard tersebut tidak diakui oleh hakim garis dan wasit

Namun saat ini ruang gerak badan dunia itu semakin menyempit. Terutama sejak sederet sosok berpengaruh masuk dalam jajaran yang mengritik sikap keras FIFA, Franz Beckenbauer termasuk di antaranya.

Di bawah kepemimpinan Sepp Blatter, sepakbola menjadi cabang olahraga yang enggan menerapkan teknologi baru untuk meningkatkan kualitas pertandingan, begitu kritik yang belakangan muncul.

Cabang lain telah lebih dulu

Padahal cabang olahraga lain telah jauh lebih maju. American Football Liga (NFL) misalnya sejak 1986 telah menerapkan metode “instant replay”, yang kemudian dicontoh oleh beberapa liga lain. Metode tersebut memberikan dua kali kesempatan bagi pelatih untuk menganulir keputusan wasit dalam sebuah pertandingan, dengan mengacu pada hasil rekaman.

Liga Hoki Es (NHL) di Amerika juga menggunakan metode serupa, meski hanya wasit yang boleh menentukan kapan ia harus mengkaji ulang keputusannya.

Dalam cabang olahraga perorangan, seperti Tenis mengenal apa yang disebut Hawk-Eye yang penerapannya juga sempat memicu diskusi hangat. Metode tersebut mengandalkan piranti lunak yang memproduksi gambar dari berbagai kamera video menjadi sebuah animasi 3D, untuk memastikan apakah bola mendarat di luar lapangan. Dalam setiap set, kedua petenis mempunyai tiga kali kesempatan untuk meminta wasit mengkaji ulang keputusannya.

Tiga tahun lalu, sang penemu, Paul Hawkins sempat ingin mengembangkan sistem serupa untuk sepakbola. Sistem tersebut terutama untuk menentukan apakah bola telah sepenuhnya melewati garis gawang. Namun belum apa-apa, FIFA segera mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut.

Rizki Nugraha/sid/dpa/afpd
Editor: Edith Koesoemawiria