1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Situasi Politik Libanon Belum Pasti

16 Februari 2011

Pemerintahan Saad Hariri yang berorientasi Barat jatuh pada bulan Januari lalu. Perdana menteri baru telah ditunjuk akan tetapi pemerintahan belum benar-benar terbentuk.

https://p.dw.com/p/10Hmj
Demonstrasi pendukung perdana menteri terguling, Saad Hariri, 24 Januari 2011Foto: picture-alliance/dpa

"Saad, Saad", teriak para pendukung Saad al-Hariri, perdana menteri yang digulingkan bulan Januari lalu oleh Hisbullah dan sekutunya. Sejak penggulingan itu, ratusan orang berdemonstrasi setiap malam, menentang semakin besarnya kekuasaan Hisbullah.

Termasuk di antara demonstran, Mohyeddine Khatib, seorang insinyur muda pendukung Saad Hariri. Ia kuatir, Hisbullah, yang didukung Iran, akan menghalang-halangi upaya untuk mengungkap pembunuhan Rafiq Hariri, mantan perdana menteri yang juga ayah dari Saad. "Gerakan kami belum mati. Kami terus melawan ketidakadilan, penekanan dan menentang diktator."

Libanon memperingati enam tahun dibunuhnya Rafiq Hariri, 14 Februari 2005. Sekjen PBB Ban Ki-moon, Senin (14/02), menyampaikan penghormatan terhadap Hariri. Ban juga menegaskan komitmen bagi upaya Mahkamah Khusus bagi Libanon guna mengungkap kebenaran, juga menyeret mereka yang bertanggungjawab ke pengadilan, dan mengirim pesan bahwa impunitas tidak akan ditolerir.

Selama dua tahun terakhir, pertarungan politik habis-habisan mengitari Mahkamah Khusus untuk Libanon. Pengadilan kontroversial yang didukung PBB itu dibentuk khusus untuk mengungkap pembunuhan Rafik Hariri, dan diduga akan menggiring anggota Hisbullah ke depan hakim.

Rafik Hariri, yang menentang pendudukan militer Suriah terhadap negaranya, tewas dalam serangan bom pada 14 Februari 2005, di Beirut. 22 orang lainnya juga turut tewas.

Jaksa penuntut dari PBB bulan Januari lalu mengirim dakwaan dalam amplop tertutup kepada Mahkamah Khusus untuk Libanon di Den Haag, Belanda, yang memicu jatuhnya pemerintahan PM Saad Hariri, setelah Hisbullah mundur dari koalisi.

Hisbullah, yang membantah terlibat pembunuhan Rafik, menuntut Saad untuk menghentikan dukungan bagi mahkamah. Karena Saad menolak, Hisbullah menarik semua menterinya dari kabinet, dan pemerintahan Saad Hariri pun ambruk.

Dakwaan yang menjadi pusat pertengkaran antara Hisbullah dan Hariri dikirim secara rahasia kepada mahkamah di Den Haag. Jika disetujui oleh hakim pra peradilan, dakwaan bisa diumumkan beberapa pekan depan.

Saad Hariri mengatakan hari Senin (14/02), koalisi '14 Maret' yang ia pimpin, masuk dalam oposisi. Koalisi itu diberi nama sesuai demonstrasi besar, satu bulan setelah tewasnya Rafik. Blok oposisi baru itu antara lain berpegang pada komitmen bagi Mahkamah Khusus untuk Libanon dan melindungi kehidupan publik dan pribadi di Libanon dari supremasi senjata.

Bagi Mohyeddine Khatib, insinyur berusia 24 tahun asal Beirut, Libanon harus menjadi negara modern dan terbuka bagi dunia. Membesarnya pengaruh Hisbullah dapat menghancurkan impian itu, kata Khatib. "Apa yang akan mereka lakukan jika memerintah? Apa masih ada kebebasan berpendapat? Saya kuatir konsekuensinya akan serius jika Hisbullah berkuasa. Saya tidak mau kami tergantung pada Iran dan Suriah. Saya mau jadi bangsa yang merdeka."

Saat bertemu rekan-rekannya dalam aksi protes, Khatib mengarahkan pandangan penuh harapan pada apa yang terjadi di Tunisia dan di Mesir. Tahun 2005, ratusan ribu orang juga berdemontrasi di Libanon. Kini, kata Khatib, mimpi akan negeri yang terbuka dan bebas, berada di ambang pintu.

Renata Permadi/dpa/afp/rtr

Editor: Yuniman Farid