1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Situasi Libya Masih Tidak Menentu

4 Juli 2011

Situasi di Libya hingga kini masih buntu. Muammar Gaddafi menolak mundur, sebaliknya kelompok pemberontak yang dibantu NATO masih tak mampu merebut Tripoli.

https://p.dw.com/p/11oer
ARCHIV - Der libysche Revolutionsführer Muammar al-Gaddafi darf am 23.09.2009 während der Generaldebatte der Vereinten Nationen vor der UN Vollversammlung reden. Nun wird er per Haftbefehl gesucht. Der Internationale Strafgerichtshof (IStGH) in Den Haag erließ am Montag (27.06.2011) Haftbefehl gegen Gaddafi. Die IStGH folgte der Staatsanwaltschaft, die ihm Morde an hunderten Zivilisten, Folter, militärische Gewalt gegen Zivilisten und organisierte Massenvergewaltigungen vorwirft. Foto: JASON SZENES dpa +++(c) dpa - Bildfunk+++
Muammar Gaddafi Menolak MundurFoto: picture alliance/dpa

Selama ini, berbagai upaya mendamaikan Gaddafi dengan kelompok pemberontak selalu kandas. Terakhir, Pengadilan Kejahatan Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan atas pemimpin Libya itu yang didakwa melakukan kejahatan kemanusiaan.

Namun, tak ada tanda-tanda Gaddafi bakal menyerah. Putri Gaddafi yang bernama Aisha mengatakan ayahnya mempersiapkan sebuah perjanjian dengan kelompok pemberontak meskipun dia tidak akan meninggalkan Libya. Namun, putra Gaddafi yakni Saif al-Islam menolak seruan yang meminta sang ayah berhenti dari jabatannya sebagai harga perdamaian di Libya. „Meminta ayah saya meninggalkan negeri ini adalah sebuah lelucon. Kami tak akan pernah menyerah. Kami akan berjuang. Ini adalah negara kami“ kata Saif al-Islam kepada stasiun TV Prancis TF1.

Perdana Menteri Libya Al-Baghdadi Ali Al-Mahmoudi yang selama ini dikenal sebagai aliran garis keras diantara lingkaran Gaddafi mengatakan, rakyat Libya tidak menginginkan Gaddafi pergi. „Anda lihat semua orang dari anak-anak kecil sampai orang tua, mereka semua suka Muammar Gaddafi. Mereka semua mencintainya“ kata Al-Baghdadi kepada stasiun televisi Al-Arabiya, saat ditanya apakah pemimpin Libya itu akan mundur dari jabatannya.

Sementara itu, kelompok oposisi pemberontak menawarkan perlindungan kepada Gaddafi jika bersedia mundur dari jabatannya. Mustafa Abdel Jalil, Pemimpin Dewan Transisi Nasional yang dibentuk kelompok oposisi pemberontak mengatakan „Sebagai solusi damai kami menawarkan kepada Gaddafi agar mengundurkan diri dan menarik mundur pasukannya. Setelah itu, dia bisa memutuskan apakah akan tetap tinggal di Libya atau pindah ke negara lain“. Mustafa mengatakan, jika Gaddafi ingin tetap tinggal di Libya, pihaknya akan memberikan jaminan keamanan di bawah supervisi internasional.

Meski sejauh ini menolak mundur, namun sejumlah orang dekat pemimpin Libya itu telah memberikan sinyal bahwa mereka siap berunding dengan para pemberontak.

Sementara itu, pemerintah Turki yang selama ini dikenal punya hubungan ekonomi sangat dekat dengan rejim Gaddafi, akhirnya memutuskan hubungan diplomatik. Mereka, telah memanggil pulang duta besar mereka di Tripoli. Tak hanya itu, pemerintah Turki bahkan berjanji akan memberikan bantuan 200 juta dollar tambahan bagi kelompok oposisi pemberontak.

Penulis : Andy Budiman

Editor : Handra Pasuhuk