1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Setahun Setelah Je Suis Charlie

Semangat solidaritas dan kebersamaan setahun setelah serangan ke redaksi Charle Hebdo mulai luntur. Kebebasan berekspresi dan pluralisma makin dicekam aksi para teroris.

Perancis yang diguncang dua teror berat di tahun 2015, justru terperosok ke perpecahan. Setahun setelah serangan teror ke kantor redaksi tabloid satir Charlie Hebdo di Paris, Eropa juga tak mampu handapi ancaman teror dan atasi krisis pengungsi. Kemana lenyapnya semangat solidaritas dan kebersamaan yang disimbolkan dengan motto "Je Suis Charlie“ itu?

Presiden Perancis, Francois Hollande memang menggelar upacara di depan kantor Charlie Hebdo, mengenang 17 korban tewas dalam serangan di Paris awal Januari 2015 itu. Tapi acara yang dihadiri keluarga para korban dan orang yang selamat dari serangan teroris, tidak bisa menutupi kenyataan, bahwa perpecahan menggayuti langit Perancis.

Bahkan serangan teror 13 November 2015, yang menewaskan 130 orang, hanya mampu mengundang semangat solidaritas dan kebersamaan sesaat. Perancis kini dirundung krisis politik, sosial, ekonomi dan identitas kebangsaan yang amat berat. Pemerintah sosialis dinilai bereaksi keliru setelah serangan Paris kedua, yang justru menguntungkan partai Front Nasional.

Partai yang berhaluan ultra kanan ini mengajukan rancangan populis, mencabut kewarganegaraan ganda bagi tersangka teroris. Sekitar 5 persen warga Perancis, mayoritasnya beragama Islam punya kewargaan ganda. Isu rasisme dan diskriminasi kini makin mencuat di Perancis, mengalahkan isu terorisme.

Charlie Hebdo tetap provokatif

Di pihak lain, tabloid satir Charlie Hebdo mengenang satahun kasus pembunuhan 12 orang di kantor redaksi mayoritasnya redaktur tabloid satir itu, tetap konsisten dengan haluannya yang provokatif. Edisi terbaru menunjukkan kartun Tuhan berlumuran darah yang menyandang senapan Kalashnikov, dengan titel: Setahun setelah pembunuhan, pelaku masih buron.

Frankreich Charlie Hebdo Cover der neuesten Ausgabe vom 6. Januar

Cover tabloid satir Charlie Hebdo edisi peringatan setahun serangan teror

Redaktur Charlie Hebdo juga menyatakan merasa dibiarkan sendirian dalam perjuangan mempertahankan kebebasan berekspresi dan nilai demokrasi. Tapi Charlie Hebdo memang tidak sendirian. Pasalnya serangan terhadap kebebasan pers di berbagai negara juga makin marak belakangan ini. Juga kelompok teroris makin getol membidik wartawan sebagai sasaran bunuh, terbukti dari laporan terbaru Reporters without Borders.

as/ml (rtr,afp,dpa)

Laporan Pilihan