1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Serangan Kimia di Suriah Tewaskan Puluhan Orang

Sebuah serangan yang diduga menggunakan bahan kimia terjadi di Provinsi Idlib utara, Suriah yang dikuasai pemberontak. Serangan itu menewaskan puluhan orang.

Lembaga pemantau hak asasi manusia di Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, menceritakan, serangan kimia itu merupakan salah satu serangan terburuk dalam perang saudara yang telah berlangsung selama enam tahun di negara itu. Beberapa jam kemudian, sebuah rumah sakit kecil di wilayah tersebut dihancurkan, demikian dikatakan pekerja pertahanan sipil yang tengah berdinas di wilayah itu.

Syrian Observatory for Human Rights menyebutkan, serangan yang diduga menggunakan unsur kimia di Idlib utara menewaskan 58 orang. Terdapat 11 anak kecil di antara korban tewas. Sementara Idlib Media Center menyebutkan, puluhan orang tewas.

Media center itu mempublikasikan rekaman yang memuat bagaimana tenaga medis membantu membuka baju seorang pria yang tampak sudah tidak lagi responsif. Mereka juga tampak sibuk memasang alat bantu pernafasan kepada seorang gadis kecil yang mulutnya terlihat berbusa.

Belum jelas apakah semua orang yang tewas akibat mati lemas terkena senjata kimia atau dikejutkan oleh serangan udara lainnya yang terjadi di daerah itu dalam waktu bersamaan.

Petugas medis membantu korban

Petugas medis membantu korban

Insiden ketigakalinya

Insiden ini merupakan klaim ketiga kalinya, bahwa terdapat serangan kimia di Suriah. Dua kasus sebelumnya dilaporkan terjadi di Provinsi Hama, yang tidak jauh dari Khan Sheikhoun, lokasi terjadinya serangan pada hari Selasa ini (04/04).Tidak ada komentar dari pemerintah di Damaskus setelah serangan itu.

Tahun 2013, serangan gas beracun terjadi di pinggiran Damaskus, Ghouta yang menewaskan ratusan warga sipil. Serangan itu, menurut laporan PBB merupakan serangan gas sarin beracun, sebuah serangan terburuk dalam perang sipil di Suriah.

Tarik Jasarevic, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia  WHO, menyatakan bahwa badan tersebut menghubungi pusat layanan kesehatan dari Idlib untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kejadian Selasa (04/04) ini.

Sementara itu, Syrian American Medical Society, yang mendukung rumah sakit di wilayah yang dikendalikan oposisi mengatakan telah mengirim tim penyelidik ke Khan Sheikhoun dan penyelidikan sedang berlangsung.

Para aktivis Suriah menuding serangan itu disebabkan oleh serangan udara yang dilakukan baik oleh pemerintah Suriah atau pesawat tempur Rusia. Dilaporkan, rumah sakit darurat segera penuh sesak dengan orang-orang yang tercekik pernapasannya.

Kejang dan pendarahan

Mohammed Hassoun, seorang aktivis media di wilayah terdekat Sarmin – yang juga berada di provinsi Idlib - mengatakan rumah sakit di sana telah siap untuk mengatasi korban serangan  kimia karena  wilayah itu pernah mengalaminya saat konflik di Suriah baru pecah. Ia menceritakan, korban serangan kimia biasanya kejang-kejang  dan ketika oksigen diberikan, mereka mengalami pendarahan dari hidung dan mulut.

Hassoun, yang mendokumentasikan serangan itu, mengatakan, para dokter di sana menceritakan bahwa kemungkinan ada lebih dari satu jenis gas. "Gas Klor  tidak menyebabkan kejang-kejang seperti itu," katanya, sambil menambahkan bahwa dokter  menduga adanya zat  sarin yang digunakan dalam serangan tersebut.

Hussein Kayal, seorang fotografer untuk Idlib Media Center menceritakan, ia tebangun oleh suara ledakan bom  sekitar pukul 06:30 pagi. Ketika sampai ke lokasi kejadian, tempat tersebut  tidak berbau, katanya. Namun ia menemukan sebuah  keluarga di dalam rumah, yang tergeletak di lantai, dengan mata terbuka lebar dan tidak bisa bergerak.

Kayal katanya dan saksi lainnya segera membawa para korban ke ruang gawat darurat dan mencuci pakaian mereka dengan air.  Saat melakukannya, ia  merasakan sensasi terbakar di jari-jarinya.

Provinsi Idlib hampir seluruhnya dikendalikan oleh oposisi Suriah. Provinsi ini adalah rumah bagi sekitar 900.000 pengungsi Suriah, demikian menurut  PBB.

ap/yf(ap)

Laporan Pilihan