1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Serangan Hacker Ancam Jerman

Tahun lalu tercatat ada 1100 serangan hacker terhadap institusi pemerintah Jerman. Spionase internet semakin dahsyat dan mengancam.

Tampaknya bagai e-mail biasa. Pengirimnya beralamat internasional dan mudah dikenali, seperti juga tema judul berita itu. Penundaan konferensi yang akan diikuti si penerima e-mail itu. Tentu saja penerimanya ingin tahu lebih banyak dan membuka e-mail itu.

Dalam teks tertulis singkat bahwa informasi lengkap berada dalam data lampiran. Si petugas langsung membuka, tanpa rasa curiga, tanpa menyadari bahwa ia telah membuka jalan bagi peringkat spionase untuk memata-matai komputernya. Cara seperti ini digunakan setiap hari untuk mencuri data sensitif dari badan-badan pemerintah.

Rancangan rencana di bidang energi dan ekonomi, serta strategi Jerman sehubungan negara-negara lain merupakan target penting bagi pencuri data. Oleh sebab itu, menurut para ahli keamanan di Jerman, kantor kanselir dan Departemen Luar Negeri menjadi target favorit untuk spionase internet karena banyak informasi dari berbagai lembaga pemerintahan mengalir ke kedua kantor itu. Badan Perlindungan Konsitusi mencatat, serangan spionase biasanya meningkat stiap kali KTT G-20 akan dimulai.

Serangan Dari Rusia dan Cina

Setiap badan pemerintahan Jerman memiliki intranet untuk peredaran informasi internal, dan jaringan komputer yang juga bertaut dengan internet. Inipun merupakan jalur penyelinapan masuk bagi peringkat lunak spionase, karenanya Badan untuk Keamanan Informasi Teknik, BSI yang bermarkas di Bonn kerap memantau jalur-jalur ini. Disebutkan, dari 1100 serangan hacker pada tahun 2012, tidak ada pencurian data yang serius. Satu kasus masih diselidiki dan dalam sebuah kasus lain, hanya sekitar 10 hingga 15 persen sebuah paket data berhasil dicuri.

Ukuran dan bentuk virus-virus yang berhasil dijaring oleh BSI menunjukkan asal-usul serangan mata-mata di dunia siber. Sebagian besar datang dari Rusia dan Cina. Pemerintah kedua negara itu secara resmi menepis tuduhan itu dan mengaku tidak melancarkan serangan apa-apa.

Mirko Manske, seorang penyidik di Badan Kriminal Jerman, terbiasa memantau dunia hacker internet dan mengatakan bahwa yang paling aktif adalah para hacker dari Cina. Menurut peneliti tehnik dan keamanan di Freie Universität Berlin, Sandro Gaycken, Cina mempekerjakan sekitar 150.000 Hacker, yang direkrut dari antara mahasiswa terpintar. "Kalangan hacker Cina memiliki strategi dan konsep taktik yang bagus. Biasanya lebih hebat daripada yang buatan Amerika", ungkap Gaycken.

Perang Siber Lebih Parah

Peneliti keamanan Sandro Gayken menilai ancaman teror yang dilancarkan para hacker semakin besar dan perlu diperhatikan secara serius. "Secara tehnis sangat mungkin untuk mematikan infrastruktur di Jerman selama dua hingga tiga minggu." Bila itu terjadi, kita akan menghadapi masalah besar. Persediaan untuk keadaan darurat hanya cukup untuk 24 jam. "Setelah itu tidak ada lagi air dan persediaan pangan“. Sistem-sistem manajemen krisis juga lambat laun akan habis.

Badan Keamanan Jerman tidak berkomentar banyak mengenai skenario seperti itu. Mereka hanya mengkonfirmasi bahwa, serangan hacker semakin meningkat. Perang siber diperkirakan lebih berbahaya dari perang tradisional.