1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Sepak Bola tanpa Offside - Proyek bagi Murid Berlatar Belakang Migran

sepak bola perempuan saat ini makin populer di Jerman, terutama menjelang digelarnya kejuaran sepak bola perempuan dunia pada bulan Juni di Jerman. Tren ini dimanfaatkan dalam proyek integrasi sosial bagi kaum pendatang.

default

Kesebelasan sepak bola perempuan sekolah Neuessener, Essen

Di lapangan olahraga indoor sekolah dasar Neuessener tengah dimainkan sepak bola dengan penuh semangat. Tetapi kali ini bukan anak laki-laki yang sibuk menendang bola, melainkan anak perempuan. 14 murid sekolah dasar mengenakan kaos tim berwarna hijau berlarian di lapangan. Mereka berlatih mengoper bola, menendang, hampir seperti pemain profesional.

Sudah semenjak dua tahun, murid kelas tiga SD ini ikut serta dalam proyek sepak bola dan menikmati latihan mingguan mereka. "Saya bermain, karena saya harus sedikit mengurangi berat badan dan karena saya menyukainya. Kami juga merasa tergabung dalam satu kelompok tertentu."Ini cerita Zeliha Cakan, berusia 9 tahun, yang orang tuanya berasal dari Turki.

Mendorong Murid Memulai Olahraga Lebih Awal

Secara keseluruhan ada 10 dari 14 anak perempuan yang mengikuti Fußball AG atau proyek sepak bola berlatar belakang migran. Komposisi tim menggambarkan struktur warga di kota tua Essen. Proyek 'Fußball ohne Abseits' atau 'Sepak Bola tanpa Offside' sengaja digelar di lokasi yang banyak memiliki warga migran. Demikian penjelasan Katharina Althoff dari Universitas Duisburg Essen, satu dari lima koordinator inisiatif yang dijalankan di seluruh Jerman.

Proyek sepak bola bagi anak perempuan dengan latar belakang migran ditujukan khusus bagi murid sekolah dasar. Semakin awal memulai dengan olahraga semakin baik. Ini juga diketahui oleh ketua proyek Inga Jürgen dari pengalamannya sendiri. Mahasiswi jurusan olahraga di Universitas Duisburg-Essen ini dulu bermain di kompetisi sepak bola perempuan nasional Jerman Bundesliga di klub SG Essen-Schönebeck.

Pada Awalnya Diragukan, Sekarang Diminati

Sekolah dasar di bagian kota tua Essen adalah satu dari 40 lokasi yang menggelar proyek sepak bola. Proyek ini didukung oleh kalangan akademis Universitas Osnabrück, Oldenburg dan Duisburg-Essen dan dananya dikucurkan oleh pemerintah negara bagian. Semua proyek sepak bola telah penuh terisi. Ini dibenarkan oleh kepala sekolah dasar Neuessener Thomas Kriesten. "Awalnya mereka ragu. Sepak bola buat anak perempuan? Kini saya sendiri bisa melihat bahwa mereka senang sekali setiap kali datang berlatih. Anak-anak perempuan lain juga kerap bertanya apakah mereka boleh ikut juga. Padahal awalnya mereka yang skeptis."

Latihan dan keberhasilan dalam kompetisi sepak bola juga tampak dalam bidang lain. Anak-anak perempuan tersebut lebih percaya diri di sekolah, di lingkungannya dan juga di dalam keluarganya sendiri. Keikutsertaan dalam proyek sepak bola sering kali merupakan awal dari perubahan berkesinambungan dalam kehidupan para anak perempuan.

"Kami kerap mendengar cerita tentang anak perempuan yang dulu tidak boleh ikut dalam perhimpunan sepak bola karena dilarang orangtuanya. Seiring dengan berjalannya waktu, kami berhasil meyakinkan orangtuanya dan mendapat dukungan mereka. Saat mereka melihat anak mereka bermain dalam kompetisi untuk pertama kalinya dan anak mereka mencetak gol, maka seluruh anggota keluarga akan turut bersorak. Dan semua keraguan yang muncul sebelumnya menghilang sudah," demikian menurut koordinator proyek dari negara bagian Nordrhein-Westfalen, Katharina Althoff.

Nadja Baeva/Vidi Legowo-Zipperer

Editor: Edith Koesoemawiria