1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

Seorang Oportunis di Puncak Olimpus

Terpilihnya Thomas Bach sebagai Presiden IOC mendulang kritik dari berbagai pihak. Kegiatan bisnisnya, antara lain diduga perdagangan senjata, dianggap bertentangan dengan misi damai Olimpiade

Berjejak di puncak Olimpus memaksa Thomas Bach menghela nafas, "uff," terdengar lewat mikrofon saat ia berdiri di aula hotel Hilton di Buenos Aires yang tiba-tiba senyap tanpa suara. Tidak ada yang istimewa dari kata pertama presiden Komite Olympiade Internasional itu, cuma sekelumit kejujuran - bahwa seorang Thomas Bach sekalipun, dengan pengaruhnya yang menggurita, jaringan relasi yang luas dan ditakuti, harus bersusah payah buat menjadi orang nomer satu di dunia olahraga.

Sampai Buenos Aires, Bach belum pernah dikalahkan di setiap pemilihan sebagai funngsionaris. Selama pertemuan puncak IOC di Argentina itu ia pun sibuk membibit dukungan, berbicara dengan puluhan anggota delegasi dari seluruh dunia, melancarkan kampanye yang sejatinya diharamkan oleh kode etik IOC. Kini pria kelahiran Würzburg itu menjadi Presiden IOC ke-sembilan sejak pembentukan organisasi oleh visioner Perancis, Pierre de Coubertin, 1894.

Layaknya sebagian besar fungsionaris Olympiade, Thomas Bach juga bekas olahragawan. Anggar, cabang yang membawanya meraih medali emas 1976, mewariskan dua hal yang kemudian ikut berperan bagi Bach buat berjejak di dunia olahraga, sabar mengintai dan mencari momentum yang tepat untuk menyerang.

Noktah hitam pada sosok Bach

Maka Bach pun bergeming ketika Jacques Rogge mengisyaratkan akan turun tahta. Baru ketika kandidat yang lain menunda pencalonannya, Bach maju ke pemilihan sebagai orang pertama. Sejak dini ia menggunakan pengaruhnya sebagai fungsionaris IOC untuk menekan pesaing yang lain.

"Saya yakin, pengalaman dan integritas yang saya bangun selama bertahun-tahun, serta darah athlit dan pemenang Olimpiade yang saya miliki cukup buat meyakinkan delegasi," kata Bach empat bulan lalu.

Thomas Bach wird neuer IOC Präsident

Thomas Bach, Presiden terpilih Komite Olimpiade Internasional (IOC) pasca pemilihan di Buenos Aires, Argentina, Selasa (10/9)

Kini bekas Presiden Komite Olimpiade Jerman itu tidak cuma menjabat Presiden IOC, melainkan juga Direktur grup Ghorfa - sebuah perusahaan Jerman yang menjalin relasi dengan dunia Arab, diduga antara lain untuk memuluskan bisnis perdagangan senjata.

Tidak heran jika terpilihnya Bach membuat gusar Mathias John dari Amnesty International. Tugas IOC antara lain menurutnya adalah "mendorong perdamaian dan persahabatan di antara bangsa-bangsa." Bersama Bach, ia "mendapat perasaan tidak nyaman, terutama jika saya melihat betapa Ghorfa terlibat dalam perdagangan senjata dan pelanggaran HAM tidak pernah menjadi tolak ukur bagi perushaan tersebut," katanya kepada stasiun televisi Jerman, ARD.

Bach sendiri bak kebakaran jenggot ihwal tudingan-tudingan yang dilancarkan kepadanya. Ia kemudian berusaha meredam pemberitaan terkait kegiatan bisnisnya dengan mengirimkan setengah lusin pengacara ke seluruh penjuru Eropa.

Menunggu reformasi di tubuh IOC

Jens Weinreich, wartawan dan blogger Jerman, termasuk yang paling rajin mengritik tindak-tanduk Bach. Ia berulangkali menuding, pria 59 tahun itu memanfaatkan jabatannya sebagai fungsionaris olahraga untuk memetik keuntungan pribadi. Hasil investigasi mingguan "Der Spiegel" mengungkapkan, Bach pernah mendapat 200.000 Euro atau sekitar 3 Miliar Rupiah dari Siemens sebagai konsultan. Tugasnya adalah memanfaatkan kedekatannya dengan Menteri Energi Kuwait, Scheikh Ahmad al-Sabah yang juga menjabat Presiden Komite Olimpiade Nasional (ANOC) untuk menjaring Kuwait sebagai investor.

Sontak keluhan terdengar dari kandidat lainnya, "saya ingin agar setiap kandidat bertindak independen, tidak terhubung dengan aliansi apapun dan menggunakan jabatannya cuma untuk kemaslahatan olahraga," kata Denis Oswald yang mewakili Swiss maju ke pemilihan. Oswald kemudian mendapat teguran dari komite etika IOC atas celotehannya itu.

Berjejak di puncak Olimpus, bach kini harus mewujudkan janji kampanye, yakni reformasi di tubuh komite. Ironisnya, doping, manipulasi hasil pertandingan dan korupsi adalah isu yang selama ini berusaha dihindari Bach. Tapi justru salah satu relasi terdekatnya, Menteri Dalam Negeri Jerman, Hans-Peter Friedrich, baru-baru ini mendeklarasikan rancangan amandemen Undang-undang Anti Doping yang lebih ketat - sesuatu yang selalu ditolak oleh sang presiden.