1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Senjata Asal Eropa Populer di AS

Setiap kali setelah diguncang serangan amok, Eropa selalu mengkritik budaya pemilikan senjata di AS. Di sisi lain, para produsen senjata Eropa terus menjual senjata secara besar-besaran ke negara itu.

Luput dari perhatian, namun sebenarnya senjata api asal Eropa telah lama memainkan peran dalam insiden penembakan massal di Amerika Serikat. Dan produsen senjata Eropa termasuk pemberi dana terbesar kepada pelobi senjata Amerika Serikat NRA.

Pelaku penembakan di bulan Desember 2012 di Newtown, Connecticut, yang menewaskan 20 anak dan delapan orang dewasa, menyerbu sekolah dasar bersenjatakan pistol Glock dari Austria dan Sig Sauer dari Jerman.

Juga dalam aksi penembakan di sebuah bioskop di Aurora, Colorado, pada bulan Juli 2012, pelaku menggunakan Glock. 11 orang tewas dalam insiden ini. Pada bulan Januari 2012, politisi AS Gabrielle Giffords mengalami luka berat dalam serangan di Arizona, di mana enam orang tewas akibat peluru yang ditembakakkan dari pistol semi-otomatis buatan Austria.

Dalam serangan di tahun 2009 di Binghamton, New York, 14 orang tewas tertembus peluru yang dimuntahkan dua senjata buatan produsen Italia Beretta. Juga dalam serangan amok di Virginia Tech University di tahun 2007, yang merupakan serangan terburuk yang dilakukan pelaku tunggal, senjata yang dipergunakan berasal dari Eropa. Pelaku menembak mati 32 orang dengan pistol Walther dari Jerman dan Glock dari Austria.

Daftar hitam ini masih panjang dan senjata yang dipergunakan dibeli secara legal.

Pasar Menguntungkan

Menurut angka terbaru, 26 persen senjata api untuk pasar sipil di Amerika Serikat pada tahun 2010 berasal dari Eropa. Demikian dikatakan Nicholas Marsh, seorang ahli senjata di institut studi perdamaian PRIO di Oslo, Norwegia. Menurut Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api dan Bahan Peledak ATF, dua juta dari delapan juta senjata api yang beredar di AS merupakan milik pribadi.

Eropa merupakan eksportir senjata terbesar bagi pasar sipil di Amerika Serikat, diikuti jauh dibelakang oleh Asia dan Amerika Latin. Lebih dari 12 negara Eropa mengekspor senjata api untuk dijual kepada warga sipil Amerika Serikat. Sebagain besar ekspor Eropa berasal dari Austria (Tahun 2010: 434.374 senjata genggam), Italia (2010: 285.083 senjata gengam) dan Jerman (2010: 266.688 senjata genggam).

Produsen senjata besar seperti Glock, Beretta dan Sig Sauer bahkan berproduksi langsung di anak perusahaan di Amerika Serikat.

Symbolbild Waffenhandel USA

Senjata yang terpajang di etalase sebuah toko di Kansas

Tergantung pada Penjualan di AS

Pasar senjata di Amerika Serikat sangat menguntungkan. Kelompok perdagangan National Shooting Sports Foundation memperkirakan, pasar senjata genggam untuk sipil beromset sekitar tiga miliar Euro pertahun. Ini merupakan yang terbesar di dunia.

Bagi para produsen senjata Eropa, Amerika Serikat merupakan satu negara yang sangat penting, dikatakan Nicholas Marsh kepada Deutsche Welle. Contoh yang paling ekstrim adalah Kroasia, ekportir senjata keempat terbesar bagi pasar sipil AS. Menurut ATF, pada tahun 2010 Kroasia mengekspor 239.021 pistol ke AS, dan hampir seluruhnya merupakan produksi HS Produkt. Angka ini merupakan 98 persen dari ekspor senjata Kroasia, dikatakan Marsh.

Perusahaan Pemerintah Belgia

Dalam bisnis menjanjikan seperti ini, pemerintah juga ingin melibatkan diri. Produsen senjata asal Belgia Herstal Group, yang merupakan induk perusahaan dari merek terkenal Marke Browning, dimilki sepenuhnya oleh wilayah Waloon Belgia. Sejak lebih dari 15 tahun, Herstal Group berada di bawah kepemilikan pemerintah daerah Wallon. Demikian dikatakan Nils Duquet dari Institut Perdamaian Flandria di Brussel, Belgia.

Undang-undang senjata yang lebih ketat di AS akan menghancurkan bisnis yang menguntungkan ini, dikatakan Nils Duquet kepada DW. Sebagain besar produsen senjata Eropa pasti akan menghadapi masalah keuangan serius, jika suatu hari warga AS tiba-tiba tidak lagi membeli senjata, demikian menurut Nicholas Marsh.

Dana Jutaan bagi Lobi Senjata

Untuk mempertahankan bisnisnya, para produsen senjata melakukan hal yang sama seperti rekan mereka di AS. Mereka turut mendukung NRA dalam perang melawan undang-undang senjata yang lebih ketat.

Pada bulan April 2012, penyadang dana terbesar bagi NRA mendapat penghargaan pada kongres tahunan organisasi ini. Menurut kelompok pengontrol senjata Violence Policy Center VPC, Beretta USA berada di peringkat teratas dalam daftar pemberi donor, dengan dana yang diberikan sampai 4,9 juta US Dollar. Diikuti oleh Glock USA dan produsen Jerman Blaser USA dengan 250.000 sampai 499.000 Dollar.

Mengenai bisnis senjata di AS ini, baik pemerintah wilayah Waloon, Belgia, maupun perusaahaan terkemuka di Eropa tidak bersedia memberikan pernyataan kepada DW. Ini merupakan bagian dari strategi, dikatakan Marsh dan Duquet. Di hadapan publik, mereka tidak menonjolkan diri, namun mereka memilki hubungan dengan semua kelompok lobi di AS, kelompok yang berupaya mempengaruhi undang-undang senjata. Semua ingin menjual produk mereka. “Semakin longgar peraturan, semakin mudah pula bagi mereka untuk menjual produk. Sesederhana ini perhitungannya,“ dikatakan Duquet.

Moral Ganda

Marsh dan Duquet mengkritik sikap yang ditunjukkan warga Eropa. “Sangat mengagetkan bahwa warga Eropa menampilkan diri sebagai masyarakat yang lebih damai dan kurang kekerasan dibandingkan di AS,“ dikatakan Marsh. “Dalam beberapa bulan terakhir, banyak orang Eropa telah menyarankan agar AS mengikuti undang-undang senjata di Eropa.“ Pada saat yang sama, produsen senjata Eropa melakukan transaksi besar dengan AS. “Perusahaan-perusahaan ini membayar pajak atas penghasilan mereka. Pemerintah menyetujui ekpor mereka.“

Pakar senjata sependapat, sudah waktunya untuk melakukan debat publik mengenai ekspor senjata Eropa. Pertama, kita harus menciptakan kesadaran di kalangan masyarakat bahwa terdapat hubungan antara industri senjata Eropa dengan pasar sipil di Amerika Serikat. Tidak banyak yang mengetahui mengenai ini, dikatakan Marsh. “Dan ke dua, kita harus memikirkan, apakah pembatasan penjualan ke pasar Amerika Serikat akan merupakan gagasan yang baik.”