1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Sengketa Program Atom Iran Masih Bergulir

Dewan Keamanan PBB akan gelar pemungutan suara untuk sanksi baru yang lebih ketat bagi Iran dan Direktur IAEA minta kerjasama lebih besar dari Teheran.

default

Simbol program atom Iran dengan lima anggota DK PBB + Jerman

Dewan Keamanan PBB akan melakukan pemungutan suara untuk putaran keempat untuk tindakan penjatuhan sanksi bagi Iran. Pemungutan suara untuk rancangan resolusi yang diajukan Mei lalu mengenai sanksi baru berkaitan dengan program atom Iran, menurut keterangan PBB akan dilaksanakan Rabu (08/06) pagi di New York.

Pendukung dijatuhkannya sanksi, seperti Amerika Serikat, mengharap kesepakatan dari hasil pemungutan suara ke-15 anggota Dewan Keamanan PBB. Menurut pemerintah di Washington, sanksi-sanksi baru penting untuk menghukum Iran, yang tidak memenuhi tuntutan PBB untuk menghentikan pengayaan uranium.

Bila disetujui, sanksi internasional yang baru bagi Iran itu akan lebih keras dibanding sanksi sebelumnya, tapi masih jauh dari hukuman yang melumpuhkan ekonomi atau embargo minyak.

Sementara Direktur Badan Energi Atom Internasional IAEA, Yukiya Amano tetap memandang Iran kurang kooperatif. Pernyataan terbaru Amano untuk tema Iran diungkapkannya hari Senin (07/06) lalu saat berlangsungnya rapat rutin Dewan Gubernur IAEA di Wina

„Iran adalah kasus istimewa, karena masih tetap belum jelas apakah dan sejauh mana ada atau tidaknya dimensi militer dari program atom Iran. Dewan Keamanan PBB dan IAEA dalam resolusi-resolusinya meminta kejelasan, tapi itu sampai kini tidak diberikan. Oleh sebab itu saya katakan, Iran adalah kasus istimewa.“

Duta Besar Iran untuk IAEA di Wina, Ali Ashgar Soltanieh, berusaha meminta pengertian untuk posisi negaranya

„Pengayaan uranium akan tetap berlanjut dan sekaligus kami tetap bersedia berunding. Usulah kami adalah belajar dari masa lalu, jangan mengulang kembali kesalahan yang sama. Setiap resolusi PBB memperkuat kami untuk melanjutkan jalan yang kami tempuh dan kesediaan kami untuk melakukan kompromi berkurang. Hanya dengan kembali ke meja perundingan kita semua dapat keluar dari jalan buntu, yang kita alami di New York dan Wina.“

Sebagai upaya mencapai kesepakatan dalam sengketa program atom Iran, Oktober lalu Badan Energi Atom Internasional mengusulkan agar uranium yang telah diperkaya di Iran ditukar dengan bahan bakar atom dari luar negeri untuk pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kesehatan. Hal itu ditolak Iran. Baru pertengahan Mei lalu di Teheran, Brazil dan Turki menyepakati sebuah usulan kompromi, yang menginginkan pengayaan uranium milikTeheran di luar negeri tapi juga di Iran.

Selama ini Direktur IAEA Yukiya Amano tidak mau berkomentar tentang usulan tersebut. Ia masih menunggu pernyataan dari Washington, Paris dan Moskow. Tapi secara jelas Amano mengharap isyarat kesediaan kerjasama yang lebih meyakinkan dari Teheran

„Sejak Oktober 2009 terjadi sejumlah perubahan. Dulu Iran memperkaya kira-kira 1700 kilogram uranium berkadar rendah. Kini jumlahnya jauh lebih besar. Dan dulu Iran belum mulai memperkaya uranium berkadar tinggi, yakni sekitar 20 persen. Kini justru itulah masalahnya. Dan itulah letak perbedaannya.“

Jörg Paas/Dyan Kostermans

Editor: Marjory Linardy

Laporan Pilihan