1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Senat AS Setujui Sanksi Baru terhadap Iran

Senat Amerika Serikat telah menyetujui sanksi baru terhadap Iran. Israel peringatkan konsesi di Baghdad. Kunjungan Amano di Teheran tidak membuahkan hasil konkret.

Menjelang pertemuan di Baghdad, Senin (21/05), Senat Amerika Serikat meloloskan sanksi baru terhadap Iran. Rabu (23/05), di Baghdad, Irak, Teheran akan bertemu dengan kekuatan utama dunia untuk membicarakan sengketa program nuklir Iran.

Sanksi terbaru bagi Iran ditujukan pada perusahaan minyak milik pemerintah National Iranian Oil Co. dan National Iranian Tanker Co., dalam upaya untuk menutup celah di mana Teheran bisa terus menjual sebagian minyaknya. Iran merupakan eksportir minyak terbesar ke tiga dunia.

Sanksi juga ditujukan pada Garda Revolusi Iran dan mengharuskan perusahaan yang diperdagangkan di bursa AS untuk melaporkan setiap bisnis yang dilakukan dengan Iran. Hukuman juga akan diperberat bagi perusahaan yang terlibat dalam bidang energi atau usaha pertambangan uranium. Visa juga tidak akan diberikan kepada mereka atau badan yang memasok Iran dengan perangkat keras yang bisa dipergunakan untuk menindas rakyat Iran.

Setelah Senat meloloskanya, sanski terbaru terhadap Iran tinggal menunggu keputusan DPR AS, sebelum kemudian ditandatangani oleh Presiden AS Barack Obama. Anggota Senat dari Partai Republik, Mitch McConell mengatakan, partainya telah bersikeras bahwa “Senat meloloskan tidak kurang dari komitmen presiden bahwa semua opsi sudah disiapkan.“ “Setiap kebijakan komprehensif yang bertujuan untuk mengakhiri upaya Iran untuk membuat senjata nuklir ditujukan untuk meyakinkan para penguasa di Teheran bahwa kelangsungan hidup mereka dipertanyakan,“ demikian pernyataan Mc Connell.

Direktor der Internationalen Atomenergieorganisation Yukiya Amano

Direktur IAEA Yukiya Amano

IAEA Tidak Capai terobosan

Sanksi terbaru diloloskan Senat AS pada saat Direktur Badan Energi Atom Internasioanl (IAEA) Yukiya Amano tengah melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Iran di Teheran. Kunjungan pertama Amano di Iran ini bertujuan untuk mendesak pemerintah Teheran agar memberikan IAEA akses ke fasilitas nuklir, para ilmuwan nuklir dan dokumen yang diperlukan untuk memeriksa tuduhan bahwa Iran secara rahasia mengembangkan senjata nuklir.

Iran menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk menghasilkan listrik serta isotop untuk pengobatan kanker. Saat ini Iran sedang memperkaya uranium sampai 20 persen, jauh lebih tinggi dari yang dibutuhkan untuk memproduksi energi, tapi bisa digunakan dalam penelitian medis.

“Pertemuan (Senin, 21 Mei) sangat berguna. Kami melakukan pembicaraan dalam suasana yang baik,“ dikatakan Amano seperti diikutip stasiun televisi pemerintah Iran. Di Iran Amano bertemu dengan kepala badan nuklir Iran, Fereydoun Abbasi-Davani, dan juru runding nuklir Saeed Jalili. Namun tidak terdapat tanda bahwa Iran telah menyetujui seluruh tuntutan IAEA.

Israel Ministerpräsident Benjamin Netanjahu

PM Israel Benjamin Netanyahu

Peringatan Israel

Lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Cina dan Rusia, bersama Jerman, yang disebut kelompok 5+1, direncanakan akan bertemu dengan Saeed Jalili di Baghdad, Rabu (23/05). Tujuan utama dari kelompok 5+1 adalah mendesak Iran untuk menghentikan pengayaan uranium sampai 20 persen, yang dapat memperkuat tuduhan bahwa Iran melakukan program senjata nuklir. Namun Israel dilaporkan khawatir bahwa perundingan di Baghdad dapat berakhir dengan satu kesepakatan yang akan memungkinkan Iran masih dapat memperkaya sebagian uraniumnya.

“Mereka (kelompok 5+1) tidak perlu memberikan konsesi pada Iran. Mereka sebelumnya harus mengatur tuntutan yang jelas dan tegas,“ dikatakan Perdana Menteri Israel benjamin Netanyahu. “Iran harus menghentikan pengayaan bahan nuklirnya. Seluruh materi nuklir yang sampai sekarang telah diperkaya harus disingkirkan dari wilayah Iran. Dan fasilitas nuklir bawah tanah di Qom harus dibongkar,“ ditambahkan Netanyahu.

Pembicaran konflik atom Iran kembali digelar di Istanbul, Turki, April lalu, setelah sempat terhenti selama 15 bulan lamanya.

yf (ap/rtr/afp)

Laporan Pilihan