1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Semakin Banyak Warga Afghanistan Menderita Gangguan Psikis

Lebih dari 30 tahun warga Afghanistan bergelut dengan perang dan konflik. Dampaknya kini mulai tampak. 60 persen warga menderita depresi dan gangguan mental.

default

Para supir taksi Afghanistan berusaha tidak melewati suatu kawasan di ibukota Kabul. Banyak penumpang asing yang kemudian bertanya apakah di sana ada teroris. "Tidak", jawab mereka. "Di sana ada pecandu narkoba". Dulu kecanduan obat-obatan terlarang tidak dianggap sebagai masalah di Afghanistan. Warga seperti tidak berdaya menghadapi jumlah pecandu narkoba yang terus bertambah. Masalah yang sama juga dialami mereka yang menderita trauma dan depresi. Masyarakat dan anggota keluarga seringnya tidak paham atau malu mengenal seseorang dengan masalah psikologis dan mencoba menutup-nutupinya. Demikian menurut Ahmad Shafiq Behrozian, warga kota Herat. "Kami warga Afghanistan tidak tahu bagaimana cara berhadapan dengan penderita gangguan mental. Seringnya kami menangani mereka seperti orang yang berbahaya dan gila. Kadang mereka dirantai oleh keluarga mereka atau dikunci di ruang terpisah."

Para pakar kedokteran menduga penyebab bertambahnya jumlah penderita gangguan psikis antara lain karena perang dan kekerasan sehingga mengalami trauma. Kemiskinan dan kelaparan juga bisa mengakibatkan penyakit tersebut. Orang bertubuh sehat biasanya bisa menahan beban psikologis. Namun, kalau bebannya terlalu berat atau mereka berada dalam konflik yang terus-menerus seperti yang dialami warga Afghanistan dan tidak dilakukan sesuatu untuk mengatasinya, maka masalah psikologis yang berat tidak bisa terhindarkan lagi. Tragisnya, perubahan sikap seseorang tidak dikenali sebagai penyakit. Fatema Jafari, anggota dewan provinsi Herat menjelaskan : "Bahwa di Herat banyak kasus gangguan psikis bisa dilihat dari kejadian seperti membakar diri sendiri, kekerasan di publik, dan rumah tangga. Jumlah angka perceraian juga terus meningkat. tetapi tidak ada yang mencari alasan sesungguhnya. Tidak ada yang membicarakannya. Lebih dari 60 persen warga menderita masalah psikologis."

Para dokter sendiri pun tidak mengenali masalah ini. Sehingga situasinya semakin sulit. Muhammed Ghulam Ali dari Herat menceritakan : "Di keluarga saya ada yang menderita gangguan mental. Kami kemudian membawanya ke beberapa dokter yang berbeda. Namun, tidak ada yang bisa membantu. Saudara saya tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia bisa mengamuk dan memukul-mukul sekitarnya. Jika kami bisa membuat situasi di sekelilingnya sangat tenang, maka keadaannya akan sedikit membaik."

Dokter yang berkualitas dan psikiater sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini, begitu juga bagian psikiatri di rumah sakit. Ini menurut Peter Graaff dari organisasi kesehatan dunia WHO : "Hingga kini tawaran untuk perawatan bagi penderita gangguan psikis sangat terbatas. Di seluruh Afghanistan misalnya, hanya ada 200 tempat di bagian psikiatri. Dan bagi anak-anak yang menderita gangguan psikis tidak ada sama sekali kemungkinan perawatannya." Padahal anak-anak lah yang sangat membutuhkan perawatan para dokter. Bagaimana pun juga mereka adalah masa depan Afghanistan.

Ute Hempelmann/Hoschang Haschemi/Vidi Legowo-Zipperer

Editor : Ziphora Robina