1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Sejumlah Mispersepsi Tentang Arab Saudi

Kunjungan historik dan kolosal rombongan Raja Salman ke Indonesia telah menyita perhatian banyak kalangan dan memecah berbagai spekulasi dan mispersepsi selama ini tentang Arab Saudi. Inilah opini Sumanto al Qurtuby.

Baik yang pro maupun anti-Saudi selama ini sama-sama kecele dengan "penampakan” dan tindakan Raja Salman beserta rombongan yang tampak ramah, moderat, fleksibel, respectful, damai, dan lain sebagainya, baik selama di Jakarta maupun Bali.

Melalui "penampakan” dan tindakan Raja Salman beserta rombongan ini -- yang begitu menghargai keragaman agama dan budaya--  gambaran Saudi sebagai negara Islam yang keras, intoleran, kolot dan "kaku-njeku” seolah sirna.  

Sudah sering sekali saya tulis dan katakan, Saudi dulu dan kini itu beda. Banyak sekali perubahan sosial fundamental yang terjadi di kawasan ini, baik menyangkut sikap, pandangan, dan perilaku masyarakat maupun kebijakan sosial-politik-keagamaan pemerintah. Banyak sekali faktor yang turut memberi kontribusi pada perubahan ini. Karena itu keliru besar pandangan tentang Saudi sebagai negara yang stagnan dan "miskin perubahan.”

Tiga pandangan

Seperti Amerika Serikat, Arab Saudi adalah salah satu negara yang sering disalahpahami oleh masyarakat luar dan dunia internasional.

 Sumanto al Qurtuby

Penulis: Sumanto al Qurtuby

Setidaknya ada tiga kelompok yang selama ini getol mengamati, menilai, mengevaluasi, dan dalam batas tertentu menghakimi tentang Saudi. Yang pertama adalah kubu "liberal-sekuler” (termasuk para pengamat politik, kaum feminis, dan aktivis HAM). Kedua adalah kubu "Islamis-konservatif” (termasuk kelompok neo-Salafi dan kaum Muslim kelas menengah urban). Ketiga adalah kaum "awam” yang tidak memiliki pengetahuan dan wawasan cukup tentang Saudi tetapi ikut-ikutan nimbrung layaknya pengamat dan ahli tentang kajian Saudi. 

Jika kubu "liberal-sekuler” cenderung berbicara serba negatif tentang Saudi, maka kubu "Islamis-konservatif” cenderung sebaliknya: serba positif jika membicarakan tentang kerajaan yang kini dipimpin oleh Raja Salman ini. Meski berbeda haluan, kedua kelompok ini sebetulnya sama-sama menilai Saudi sebagai negara/kerajaan yang mandeg tanpa perubahan berarti.

Sementara itu kaum "awam” cenderung labil, tidak terlalu positif maupun terlalu negatif, semua tergantung dari mana mereka mendapatkan informasi tentang Saudi. Bisa juga pandangan kaum "awam” ini tergantung dari bagaimana pengalaman langsung mereka berinteraksi dengan masyarakat Saudi. Jika pengalaman mereka serba indah, maka akan cenderung memproyeksikan serba positif. Sebaknya, jika pengalaman mereka kurang mengenakkan, maka akan cenderung berpikiran serba negatif.

Kubu "liberal-sekuler” biasanya memproyeksikan Saudi sebagai sarang terorisme, sumber radikalisme, negara yang tidak menghargai hak-hak asasi manusia, negara anti-emansipasi perempuan, dan sebagainya. Sementara itu kubu "Islamis-konservatif” biasanya menganggap Saudi sebagai sumber ajaran Islam yang lurus-otentik, negara Islam yang sehat-makmur tanpa penyakit dan kriminalitas, kerajaan Islam yang damai, adem ayem tanpa konflik dan kekerasan. Jika kaum "liberal-sekuler” menilai Saudi tidak pantas sebagai "negara Islam”, maka kubu "Islamis-konservatif” menganggap Saudi sebagai simbol negara Islam sejati.  

Pandangan dan penilaian kedua kubu ini—sebut saja para "kritikus” dan "fans” Saudi—sejatinya sama-sama hiperbolik, invalid, dan tidak akurat.

Masyarakat majemuk

Sebagaimana negara-negara lain di dunia ini, Saudi juga sama: ada sisi positif dan negatinya. Seperti masyarakat lain di jagat raya ini, masyarakat Saudi juga plural (majemuk) dan kompleks, bukan entitas monolitik dan umat yang seragam. Pluralitas dan kompleksitas masyarakat Saudi ini terjadi di semua hal: suku-klannya, Islamnya, Muslimnya, mazhabnya, perilakunya, sejarahnya, pandangan keagamaannya, kelas sosialnya, pendidikannya, tata busananya, moralitasnya, tingkat ekonominya, dan seterusnya.

Geografi-kultural Saudi juga beragam: Hijaz, Najran, Najed, Ahsa, Abha, Qasim, Asir, Jauf, dan sebagainya, yang masing-masing memiliki adat, tradisi, corak, dan karakteristik kegamaan-kebudayaan yang unik dan kaya. Ada wilayah yang sangat maju dan metropolitan, ada yang masih sangat terisolir dan tidak terjamah oleh teknologi dan modernisasi (seperti kawasan Al Faifa). Ada daerah yang menjadi pusat kaum migran, ada yang tidak terjamah kaum pendatang. Ada kawasan yang sangat heterogen dari aspek komunitas agama (seperti al-Syarqiyah) tapi ada pula yang relatif homogen.  

Latar belakang dan kondisi geobudaya yang beraneka ragam ini turut membentuk pribadi warga Saudi yang beraneka ragam pula.

Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa, misalnya, Saudi adalah sumber terorisme dan radikalisme global-internasional yang dilakukan oleh kelompok "Islam ekstrim”. Terorisme dan radikalisme, seperti ditulis Mark Juergensmeyer di berbagai karyanya (antara lain Terror in the Mind of God, Global Rebellion, dsb) tidak mengenal suku-bangsa, ideologi, dan agama.

(lanjut ke halaman 2)

Halaman 1 | 2 | Artikel lengkap

Laporan Pilihan