1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAsia

Seberapa Edgy-nya Kamu?

Indonesien, Nadya Karima Melati, Bloggerin
Nadya Karima Melati
7 Agustus 2020

Nama Anji dan Jrx ramai dibicarakan. Apabila definisi edgy adalah mendobrak nilai arus utama, apakah selebgram penganut teori konspirasi corona pantas disematkan istilah "edgy"? Berikut opini Nadya Karima Melati.

https://p.dw.com/p/3gP6w
Gambar ilustrasi edgy
Gambar ilustrasiFoto: picture-alliance/dpa/S. Kembowski

Mungkin istilah "life imitates art" pantas disematkan untuk menangkap dan menjelaskan fenomena gaya hidup anak muda pada saat ini. Kata edgy pada awalnya digunakan dalam seni peragaan busana dan gaya "cutting-edge" yang diasosiasikan dengan gaya provokatif dan memulai tren baru dalam dunia perancang busana.

Kini kata edgy diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari khususnya oleh generasi dewasa muda. Kata edgy disematkan mulai dari gaya estetis fotografi hingga pilihan politik. Edgy sendiri diartikan dengan sekumpulan anak muda yang memulai tren baru, entah dalam bidang estetika seni hingga pandangan politik.

Edgy sebagai gaya hidup anak muda pada saat ini bisa diasosiasikan dengan gaya hidup yang provokatif dan berbeda dengan arus utama. Menjadi edgy berarti melawan tatanan dan menembus batas-batas kultur yang umum. Popularitas kata edgy menggantikan kata trendsetter yang digunakan pada awal tahun 2000-an. Hal yang membedakannya adalah edgy hadir dalam bentuk yang lebih ekstrem, dan terang-terangan melawan batasan dan membuat tidak nyaman. Di tengah informasi tidak pasti tentang corona di Indonesia, apakah para selebriti penganut teori konspirasi juga bisa disebut edgy? 

N. K. Melati, blogger
Penulis: Nadya Karima Melati Foto: N. K. Melati

Memberi batas antara indie, hipster dan edgy

Indie, hipster dan edgy. Ketiga kata tersebut bergema di kehidupan anak dewasa muda pada hari ini dengan penggunaan yang saling tumpang tindih satu sama lain. Saya mewawancarai seorang blogger, Irvina Lioni. Mpok Vina, panggilan akrabnya, menyatakan indie lebih disematkan pada aliran musik. Musik indie adalah musik yang diproduksi dan selera yang melawan arus utama.

Pada awalnya musik-musik seperti Danilla tidak diproduksi oleh label besar dan mempunyai kelompok penggemarnya tersendiri. Musik ini berkembang menjadi subkultur dan beberapa di antaranya berhasil menjadi arus utama dengan masuk ke dalam festival-festival besar. Sementara hipster adalah sebuah kultur yang berciri internasional. Budaya hipster berkembang dari selera musik indie, politik progresif dan cara hidup yang berbeda dengan orang-orang kebanyakan.

Saya sendiri melihat hipster di Indonesia dan Jerman secara penampilan tampak tidak berbeda. Bagi lelaki memiliki potongan rambut half-cut dengan kacamata bingkai besar terbuat dari kayu dan padanan pakaian berwarna tanah. Mudah ditemukan di kedai-kedai kopi alternatif dan peka terhadap isu-isu sosial seperti gaya hidup vegetarian atau isu lingkungan. Sementara edgy adalah istilah yang lebih sulit untuk di definisikan. Alih-alih sebuah subkultur, edgy lebih tepat menjadi istilah bagi generasi atau orang-orang yang membuka zaman dan tren baru. 

Vina menceritakan bahwa Hipster juga bisa masuk dalam gaya membesarkan anak/parenting. Selebgram muda yang baru menikah dan memiliki anak mulai menawarkan alternatif-alternatif membesarkan anak yang berbeda dengan yang biasa kita kenal. Vina mengambil contoh keluarga selebgram Andien yang memperkenalkan metode teknik-teknik asing seperti tidak memberikan sepatu bagi anak balitanya atau mengganti makanan pokok beras dan nasi dengan jenis biji-bijian yang namanya tidak tertera dalam kartu posyandu.

Menjadi edgy yang mengubah dunia

Sementara itu, menjadi edgy bersinggungan degan melawan norma dan haluan utama. Alih-alih sebagai kelompok tertentu, edgy lebih pantas disematkan kepada orang-orang yang memulai atau membuka pandangan baru. Hanung, seorang pekerja kreatif muda, memberikan contoh edgy dengan kehadiran punk sebagai musik dan gaya hidup anak muda. Punk mendobrak standar utama yang diidam-idamkan yakni kehidupan yang mapan. Dalam segi musik pun punk melawan arus utama rock progresif dengan hanya menawarkan tiga kunci dan tiga instrumen gitar-bas-drum. 

Edgy dalam isu politik bisa dilihat lebih luas misalnya di Amerika Serikat di mana hari ini tema perjuangan sosial #BlackLivesMatter sedang dibicarakan. Kemudian sebagai reaksi dari gerakan BLM muncul pemikiran neoreaksioner yang disuarakan Curtis Yarvin. Kelompok ini berusaha menjadi anti arus utama dengan menawarkan argumen membela perbudakan dan percaya bahwa ada ras manusia yang lebih unggul daripada yang lain.

Setali tiga uang, di tengah situasi pelik paceklik corona di Indonesia, para selebritis Indonesia tiba-tiba berlomba menawarkan teori konspirasi sebagai penjelasan dari situasi terasing wabah internasional. Saya bertanya pada Hanung, apabila definisi edgy adalah mendobrak nilai arus utama, apakah selebgram penganut teori konspirasi corona pantas disematkan istilah "edgy"? Anji dan Jrx  termasuk di antaranya?

Para selebriti dan politisi sayap kanan sengaja menyuarakan pendapat yang melabrak batas dengan risiko yang dia tahu bahwa jika pendapatnya ditolak, dia akan terjun ke tebing, over the edge. "Menjadi edgy ada unsur heroisme, memposisikan diri sebagai pembawa kebenaran yang ditindas," tambah Hanung.

Media juga mencoba menjadi edgy. Vice US misalnya, mendobrak gaya jurnalisme yang kaku dan mencoba menyajikan liputan yang menentang arus utama dan menyasar pasar anak muda yang selalu berusaha untuk menjadi 'berbeda'. Jika yang arus utama adalah isu-isu sosial seperti feminisme dan LGBTIQ maka menjadi negasinya dianggap keren, edgy dan berbeda. Vice US sempat dituding memberikan tempat bagi budaya misogini akibat kerap mencoba untuk mendobrak batas namun melupakan tujuan keberpihakan pada yang tertindas. Sebab jika arus utama mendukung feminisme dan hak-hak kulit hitam, maka menjadi negasinya dianggap hal yang keren dan kekinian.

Formula yang sama dicoba oleh media Geolive dengan tulisan kontroversial Feminis garis Logis Revina ST yang berusaha menjadi edgy dengan melawan feminisme dan menyerukan supaya lebih banyak perempuan melakukan tindakan kriminal. Ia tentu sudah menyadari perlawanan dan protes yang datang ketika ia memutuskan menjadi negasi kampanye feminis arus utama dalam menyuarakan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.   

Menjadi edgy dalam lingkup politik ini lebih ke reaksi dari gerakan sosial yang sudah terlebih dahulu muncul. Menjadi edgy adalah menolak gagasan-gagasan seperti feminisme, diskriminasi struktural atau bahkan hak-hak LGBTQ. Tidak heran bahwa istilah dan sematan edgy diberikan pada kelompok konservatif, misoginis dan pendukung teori konspiratif. Karena alih-alih didasarkan pemikiran atau perjuangan akan hal tertentu, pemikiran edgy macam ini hanya menjadi negasi dari pemikiran dan perjuangan sosial yang telah lebih dahulu ada. Demi menjadi edgy dan berbeda, pemantik sadar dan mengetahui risiko untuk melawan arus utama, dan mengawali tren baru dan menjadi negasi dari perjuangan sosial. Tapi apakah para orang-orang edgy ini sebenarnya bersuara supaya dunia ini menjadi lebih baik, atau memuaskan egonya sendiri untuk menjadi berbeda? Wallahualam.

@Nadyazura adalah essais dan pengamat masalah sosial.
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.
*Bagaimana  komentar Anda atas opini di atas? Silakan tulis dalam kolom komentar di bawah ini.