1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

"Saya Menjadi Seniman Karena Cinta Saya kepada Christo" - Jeanne-Claude Telah Pergi

Jeanne-Claude telah meninggal dunia pada usia 74 tahun. Artis kemasan atau artis pembungkus ini meninggal akibat pelebaran pembuluh darah otak, hari Rabu malam (18/11), di sebuah rumah sakit di New York.

default

Jeanne-Claude (Foto arsip 15.04.2009)

Pulau, pohon, pantai, jembatan atau gedung merupakan objek seni mereka. Bersama pasangannya, Christo, Jeanne-Claude telah membungkus semuanya. Hasil karya seni spektakuler ini mungkin akan terlewatkan dunia, jika saja Jeanne-Claude dan Christo tidak bertemu.

“Saya menjadi seniman karena cinta saya kepada Christo. Seandainya ia seorang dokter gigi, mungkin saya juga akan menjadi dokter gigi,” ungkap Jeanne-Claude suatu kali, kenapa ia menjadi seorang seniman.

Christo dan Jeanne-Claude merupakan satu pasangan, sebuah kesatuan artistik yang tak dapat dipisahkan, seperti Yin dan Yang. Berdua, mereka menutupi pantai berbatu di Australia, menggantungkan tirai di Rocky Mountains. Dengan kantong plastik berwarna merah muda, mereka menyulap 11 pulau di Miami menjadi bunga teratai raksasa.

Kebersamaan mereka sepertinya merupakan sebuah takdir: Keduanya lahir pada hari, bulan serta tahun yang sama, Christo di Bulgaria, Jeanne-Claude di Casablanca, Maroko. Keduanya saling bertemu di Paris, lebih dari 50 tahun lalu. Kala itu, Christo yang merupakan seorang seniman yang miskin, diminta untuk melukis ibu Jeanne-Claude.

Kisah cinta mereka sebenarnya bukan cinta pandangan pertama. Tapi tidak lama kemudian mereka saling mengilhami satu sama lain, saling membantu untuk mewujudkan impian masing-masing. Christo adalah mesinnya dan, saya pedal gas, demikian pernah dikatakan Jeanne-Claude.

Dengan kombinasi ini keduanya tidak terkalahkan. Seringkali dengan tanpa kenal putus asa, mereka terus mengejar tujuan dan berjuang untuk mendapatkan izin untuk mewujudkan ide seni mereka. Juga di Jerman. Pada awalnya, niat mereka untuk membungkus gedung Reichstag ditolak Parlemen Jerman.

Tapi akhirnya izin membungkus Reichstag diberikan pada tahun 1995, 23 tahun setelah permohonan diajukan. Dua minggu lamanya gedung bersejarah yang kini merupakan gedung parlemen Jerman ini menjadi objek seni. Reichstag dibungkus kain berwarna, merah muda pagi hari, perak siang hari dan warna emas menjelang matahari terbenam. Lima juta orang dari seluruh dunia telah menikmati dan mengagumi hasil seni ini dari dekat.

Sejak 15 tahun, nama Jeanne-Claude tidak dapat dipisahkan dari nama Crhisto. Mereka diciptakan untuk menjadi satu, setidaknya dalam karya-karya mereka. Mereka telah menciptakan versi modern dari definisi seniman dan keindahan seni.

“Kami mengerjakan semuanya bersama-sama. Semuanya… Hanya tiga hal saja yang tidak. Kami tidak pernah terbang dalam satu pesawat bersama. Saya tidak menggambar. Dan Christo tidak pernah menyukai, jika harus mengisi formulir pengembalian pajak. Selain ketiganya itu, kami melakukan bersama-sama dan biasanya dengan banyak teriakan.”

Tapi sekarang yang tertinggal hanya keheningan. Jeanne-Claude telah pergi. Tidak ada lagi Christo dan Jeanne-Claude, hanya tinggal Christo.

Lena Bodewein/Yuniman Farid

Editor: Hendra Pasuhuk