1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Satu Tahun Bencana Banjir Di Pakistan

Seputar Juli-Agustus 2010, Pakistan dilanda bencana banjir hebat akibat hujan yang tiada henti. Kini, satu tahun kemudian, kerusakan di banyak tempat masih belum teratasi.

default

Para nelayan di propinsi Sindh hingga kini masih berbicara tentang meluapnya sungai Indus dan banjir besar yang menyusulnya tahun lalu.

Kakek Kando yang berusia 80 tahun, belum pernah melihat jumlah air yang bergitu banyak. Sekarang, kehidupan sudah membaik, begitu ungkap Kando. Tahun 2010, arus banjir sungai Indus menyeret semua yang dilewati. Rumah-rumah nelayan, perahu dan jaringan ikan, semua hanyut dibawa air. Ketika itu, hampir semua dari 40 keluarga yang diwakili kakek Kando, hanya sempat menyelamatkan diri membawa kartu penduduk dan sedikit harta yang dimilikinya.

Dossierbild Pakistan Flut Motorrad Bild 1

Kini semua nelayan telah kembali dari pengungsian ke bantaran sungai Indus. Mereka juga telah kembali berkegiatan sebagai nelayan. Perahu kayu dan jaringan ikan yang mereka gunakan, merupakan sumbangan dari sebuah organisasi Pakistan bernama „HANDS“, serta mitranya di Jerman „Medico Internasional”.

"Kami butuh mesin motor, supaya bisa melayar lebih jauh. Kami juga perlu jaring yang lebih besar, agar bisa menangkap lebih banyak ikan dan menambah penghasilan kami“, begitu ungkap Mahmand, salah seorang nelayan di sana. Ia menginginkan rumah yang lebih kokoh untuk keluarganya. Selain itu, ingin bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Pakistan Flutkatastrophe Überschwemmung Folgen Jamshoro

Mahmand berbagi perahu kayunya dengan tiga nelayan lain. Ikan yang ditangkapnya dijual di kota terdekat. Penghasilannya sekarang lebih baik daripada sebelum terjadinya banjir. Namun penghasilannya tetap tidak cukup untuk menabung. Pada daftar kebutuhan yang diberikannya kepada organisasi bantuan, tercantum juga motor kapal.

Aijaz dari organisasi „HANDS“ mengatakn, banyak nelayan yang enggan meminta bantuan dari badan pemerintah. "Warga miskin Pakistan dari dulu kesulitan menghadap pejabat, yang kebanyakan dulu dibelakang pintu tertutup, yang dijaga keras.“

Menurut Mahmand, kesulitan terbesar justru datang dari polisi, yang kerap menuding soal pelanggaran, hanya agar bisa memeras para nelayan.

Pakistan nach der Flut

Sementara itu, pemerintah Pakistan mengaku tidak punya dana. Disebutkan, hingga kini pemerintah Pakistan menerima kurang dari sepertiga dana bantuan internasional yang dijanjikan. Padahal menurut NATO, pemerintah Pakistan sudah menerima 85% dari 3 milyar dolar, dana bantuan itu. Yang jelas hingga kini, masih 43 persen korban banjir tahun lalu yang harus menetap di tenda-tenda. Dan baik jalanan, sekolah maupun bendungan sungai banyak yang belum dibetulkan.

Sabine Matthay / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk