1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Salafi dan Neonazi Dua Ancaman Serius di Jerman

Salafisme dan Neonazi menjadi faktor ancaman paling serius bagi keamanan dalam negeri Jerman saat ini. Dua tema ini jadi bahasan konferensi para menteri dalam negeri negara bagian.

Dua kelompok radikal yang belakangan ini mencuat aktifitasnya di Jerman menjadi bahasan utama para menteri dalam negeri negara bagian dalam konferensi di Köln Jumat (12/12). Yakni kelompok radikal islamis yang menamakan diri kelompok salafi serta gerakan anti Islam, patriotik Eropa menentang Islamisasi negara barat- "Pegida" yang diduga keras disetir kelompok Neonazi.

Kedua kelompok dipandang sebagai ancaman serius bagi keamanan dalam negeri di Jerman. Kelompok salafis yang anggotanya sekitar 7.000 orang, terindikasi menjadi pengirim kaum jihadis muda dari Jerman ke kawasan konflik di Suriah dan Irak yang dikuasai Islamic State. Para eks-jihadis yang kembali ke Jerman, dikhawatirkan bisa memicu serangan teror di negara ini.

Sementara yang lainnya adalah gerakan Pegida yang diduga keras disetir kelompok Neonazi dan didukung hooligan sepakbola, yang membangkitkan sentimen anti orang asing, anti Islam. Sebagian anggotanya sudah terendus sering dan siap melakukan aksi kekerasan rasialis.

Salah seorang pendiri gerakan Pegida yang marak di Dresden di bagian timur Jerman, Lutz Bachmann membantah menyebar ketakutan terhadap orang asing dan memprovokasi Neonazi untuk berhimpun melawan. Tapi dalam aksi demonstrasi Pegida di Dresden, yang dihadiri 7.500 peserta, polisi menangkap 25 anggota Neonazi dan 120 kelompok hooligans.

Cegah radikalisme

Para menteri dalam negeri negara bagian Jerman, dalam konferensi di Köln terutama hendak menyusun program yang bisa mencegah radikalisme terutama di kalangan generasi muda. Pakar politik dalam negeri partai CDU, Wolfgang Bosbach menyatakan: "debat mengenai tendensi kebencian terhadap orang asing yang dikibarkan neonazi dan ekstrim kanan harus dilakukan secara profesional dan jangan populis."

Sementara tuan rumah konferensi menteri dalam negeri negara bagian Nordrhein Westfalen, Ralf Jäger merancang program ganda untuk mencegah makin maraknya radikalisme. Di satu sisi dilakukan represi tegas dan di sisi lainnya program pencegahan. Dalam rencana kerja, akan dilibatkan pekerja sosial dan pakar psikologi serta perhimpunan mesjid, untuk melindungi kaum remaja agar tidak terjerumus pada kelompok radikal yang siap melakukan aksi kekerasan.

Kelompok Salafi, belakangan secara terbuka juga berusaha memprovokasi aparat keamanan, dengan melakukan aksi melanggar hukum. Antara lain aksi protes dengan kekerasan dan pengrusakan, serta membentuk polisi syariah yang tidak sesuai konstitusi Jerman.

Di pihak lainnya, kelompok anti orang asing dan anti Islam, membentuk grup gabungan Neonazi dan hooligan sepakbola, baik bernama Hogesa, Pegida atau Dugida dengan program utama, menyebarkan kebencian terhadap orang asing atau umat Muslim serta melancarkan aksi kekerasan dan perusakan.

as/ml (dpa,afp, epd,)