1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Saksi Mata Kamp Kerja Paksa di Korea Utara

Korea Utara menjelang pergantian kekuasaan. Pengamat menyampaikan gelombang represi di negara tsb. Makin banyaknya pengungsi yang sampai ke Korsel lewat Cina makin banyak kisah saksi mata penghuni kamp kerja paksa Korut.

default

Gambar satelit kamp kerja paksa di Korea Utara

Korea Utara menjelang pergantian pemerintahan. Untuk tahun-tahun ke depan Kim Hye-Sook berusia 13 tahun dan tinggal di rumah neneknya, ketika aparat keamanan datang dan meminta keluarganya mengirimkan anak perempuannya ke kamp kerja paksa, dimana orang tuanya sudah mendekam sejak lima tahun.

“Saya tidak tahu akan dibawa ke mana. Saya memakai seragam sekolah dan membawa buku-buku sekolah dan mengikuti Tante saya. Waktu kami tiba dekat kamp dan melihat pagar kawat, saya jadi takut. Oleh Tante saya diserahkan ke petugas jaga. Mereka menyuruh Tante saya langsung pulang. Saya dilarang untuk bicara sekali lagi dengannya. Saya harus menunggu lama di petugas jaga itu sampai hari menjadi gelap dan dingin. Lalu datang ibu saya dan membawa saya ke tempat di barak.“

Tidak dirinya ataupun keluarganya yang tahu mengapa mereka harus tinggal di kamp. Siapa yang bertanya akan ditembak, demikian dijelaskan kepadanya oleh para orang dewasa. Baru setelah bebas, ia tahu bahwa selama 28 tahun ia dihukum karena kakeknya melarikan diri ke Korea Selatan. Dan selama 28 tahun itu pula Kim Hye-Sook harus bekerja di tambang batu bara. Para pria harus menambang batu bara itu dan para perempuan harus mengangkutnya.

Waktu berusia 17 tahun ibu Kim meninggal. Ayahnya sudah meninggal sebelum ia masuk ke kamp kerja paksa. Jadi ia bertanggung jawab untuk kedua adik dan neneknya. Berapa orang yang masih berada di kamp semacam itu di Korea Utara tidak bisa diketahui. Menurut keterangan para pengungsi, Korea Utara kini dilanda gelombang penekanan. Sehubungan penyerahan kekuasaan dari Kim Jong-il ke Kim Jong-un rezim menjadi resah. Disampaikan Ha Tae-keung dari Open Radio for North Korea, "Kami hanya bisa memperkirakan di setiap kota besar ada kamp kerja paksa. Jadi sekitar 20 sampai 30 kamp hukuman. Ada dua jenis kamp, yakni kamp di tempat terbuka, misalnya untuk mengolah kayu atau menambang batu bara. Dan kamp di pabrik tertutup, tempat memproduksi barang ekspor terutama wig dari rambut asli.“

Kim Hye-Sook bebas dari kamp pada tahun 2001. Kala itu dalam rangka amnesti sehubungan ulang tahun Kim Jong-Il dibebaskan ribuan tahanan. Karena sebagian besar hidupnya ditempuh dalam tahanan, sulit bagi Kim Hye-Sook untuk berintegrasi dalam masyarakat. Ia lalu memutuskan meninggalkan negaranya.

"Di Korea Utara banyak penyelundup yang melakukan perdagangan manusia. Saya mencoba diselundupkan oleh mereka ke Cina, sebagai barang hidup. Tapi saya terpergok oleh penjaga perbatasan. Mereka menangkap kami dan memulangkan kami kembali.”

Sekali lagi ia ditahan di kamp kerja paksa selama dua tahun. Belum sampai waktu bebas, ia mencoba lagi melarikan diri. Dengan menyogok penjaga perbatasan akhirnya ia berhasil melarikan diri. Dua tahun lalu ia tiba di Korea Selatan. Kisah hidup Kim Hye-Sook sudah diceritakan berulang kali, bahkan ia sudah pernah menceritakannya di parlemen Kanada sebagai saksi mata. Tapi kehidupan lama di kamp kerja paksa tidak hanya meninggalkan bekas pada jiwanya tapi juga pada tubuhnya. Baru-baru ini dokter mendiagnosa ia menderita kanker paru-paru. Mungkin disebabkan debu batu bara selama puluhan tahun hidup di kamp kerja paksa.

Mathias Böhlinger/Dyan Kostermans

Editor: Hendra Pasuhuk