1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Dahsyatnya Bumi Manusia

2 Juni 2018

Mendadak Bumi Manusia menjadi 'hits'. Kedahsyatannya yang dulu di masa Orde Baru diberangus, kini diminati generasi milenial. Di balik perbebatan pembuatan filmnya, ada hal penting lainnya. Berikut opini Wahyu Susilo.

https://p.dw.com/p/2ypvB
Indonesien Schriftsteller Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta ToerFoto: picture-alliance/AP Photo/S. Plunkett

Saya sempat terkejut ketika Sema, pekerja rumah tangga yang bekerja di rumah, bertanya serius sambil lihat-lihat deretan buku di lemari perpustakaan: "Om Wahyu, punya buku Bumi Manusia ya, boleh saya pinjam?”

Belum sempat aku menjawab, Cesia, anakku yang kelas 1 SMP, juga teriak: "Aku juga mau pinjam, mau baca Bumi Manusia”.

Ternyata usut punya usut, sedang ramai di televisi, bahkan di layar infotainment beredar kabar bahwa novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toersegera difilmkan oleh sutradara Hanung Bramantyo. Sementara pemeran Minke (tokoh utama dalam novel Bumi Manusia) adalah Iqbaal Ramadhan (yang dianggap sukses memerankan Dilan dalam film Dilan 1990 yang menyedot hingga lebih dari 6 juta penonton).

 Wahyu Susilo :Pendiri Migrant CARE, sekaligus bekerja sebagai analis kebijakan di lembaga tersebut. Tahun 2007, meraih Hero-Acting to End Modern Slavery Award dari Department of State USA.
Penulis: Wahyu SusiloFoto: privat

Tentu saja pengetahuan saya tentang infotainment kalah update dengan Sema dan Cesia, apalagi infotainment "zaman now” kalangan milenial, hingga terheran-heranlah saya atas kejutan di atas.

Tak lama setelah kejutan itu, ramailah di linimasa media sosial, terutama twitter dan facebook, pro-kontra mengenai rencana difilmkannya Bumi Manusiadengan sutradara Hanung Bramantyo dan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Minke.

Dasyatnya Bumi Manusia

Ada banyak perdebatan, kenyinyiran, pembelaan dan ketidakrelaan sekaligus ketakutan bahwa film ini akan menurunkan derajat kedahsyatan novel Bumi Manusia.

Silang sengketa itu sah adanya dan jelas-jelas diperlukan. Tentu kita bersyukur bahwa perdebatan tersebut terjadi zaman sekarang dimana membaca buku Bumi Manusia (serta karya-karya lain Pramoedya Ananta Toer)tidak lagi secara sembunyi-sembunyi seperti yang terjadi di zaman Orde Baru.

Secara sengaja, setelah ramai perbincangan mengenai Bumi Manusia di rumah dan di media sosial, saya mendatangi beberapa toko buku besar di kawasan Jabodetabek dan mendapati bahwa buku Bumi Manusia ludes tak tersisa sementara tiga novel pelanjut tetralogi Pramoedya Ananta Toer (Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) masih banyak menumpuk.

Tentu saja kita tak boleh menghabiskan energi terbuang sia-sia hanya untuk memperdebatkan "kepantasan” Hanung Bramantyo menyutradarai Bumi Manusia dan kemilenialan-nya Iqbaal Ramadhan memerankan Minke, sementara pembuatan film-nyapun masih berproses.

Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang perdebatan film

Akan sangatlah produktif dan bermanfaat untuk melakukan hal-hal konkret untuk lebih memperkenalkan kepada kalangan milenial mengenai apa isi novel Bumi Manusia (dan 3 novel tetralogi lainnya), serta mengenal lebih dalam mengenai novelisnya Pramoedya Ananta Toer serta masa-masa kelam ketika membaca Bumi Manusia dianggap sebagai hal yang subversif.

Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan hiruk-pikuk rencana pemfilman Bumi Manusia, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat inisiatif mengkonservasi sekaligus merenovasi rumah masa kecil Pramoedya sebagai Rumah Blora, yang diharapkan menjadi salah satu situs wisata sastra.

Inisiatif ini patut dihargai dan tentu harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah intensif memperkenalkan kembali Pramoedya ke generasi milenial dan juga masyarakat umum yang selama ini dibutakan pengetahuannya mengenai Pramoedya Ananta Toer.   

Momentum ini harus juga dimanfaatkan untuk memperlihatkan bahwa Indonesia pernah mengalami masa kegelapan kebudayaan ketika ribuan pekerja kebudayaan (termasuk didalamnya Pramoedya Ananta Toer) mengalami masa penindasan dan pembuangan dan karya-karya mereka dikriminalisasi.

Membaca dan mendiskusikan karya-karyanya dianggap tindak pidana subversif. Di penghujung dekade delapan puluhan, tiga pemuda Indonesia (Bambang Isti Nugroho, Bambang Subono dan Bonar Tigor Naispospos) diadili di Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan tuduhan melakukan kegiatan subversif yaitu membaca, mendiskusikan dan menjual buku Pramoedya Ananta Toer. Mereka dijatuhi hukuman penjara antara 6 tahun sampai 8,5 tahun penjara.

Penulis: Wahyu Susilo (ap/ml)

Pendiri Migrant CARE, sekaligus bekerja sebagai analis kebijakan di lembaga tersebut. Tahun 2007, meraih Hero-Acting to End Modern Slavery Award dari Department of State USA.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis