1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Rusia Bombardir Gerilyawan Sekutu AS di Suriah

Pemerintah Rusia dan Amerika Serikat kembali bersitegang setelah Moskow menyerang pemberontak Suriah yang disokong AS. Serangan tersebut memicu keraguan terhadap niat baik Rusia, kata Washington.

Pemerintah Washington sedang meradang. Pasalnya Rusia membombardir gerilayawan Suriah yang didukung AS. Agresifitas Moskow menimbulkan "kekhawatiran serius" ihwal situasi di dataran Syam tersebut.

"Hari ini, pesawat Rusia melakukan serangan udara di dekat al-Tanf terhadap kekuatan anti ISIS, termasuk individu yang mendapat bantuan Amerika Serikat," kata seorang pejabat senior Pentagon kepada kantor berita AFP.

"Pesawat Rusia sudah lama tidak aktif di wilayah selatan Suriah dan tidak ada pasukan rejim Suriah atau Rusia yang aktif di sekitar," imbuhnya. Tidak jelas berapa jumlah gerilayawan yang tewas dalam serangan tersebut.

Awal 2015 silam militer AS mengucurkan dana sebesar 500 juta Dollar AS untuk melatih gerilayawan "moederat" Suriah untuk bertempur melawan kelompok teror Islamic State. Namun program tersebut tidak berlangsung sesuai rencana lantaran jumlah gerilayawan yang bisa dilatih tidak mencapai angka yang direncanakan, yakni 5000 orang.

Salah satu kelompok yang dibekingi AS bahkan membelot dengan memberikan amunisi dan persenjataan kepada Front al Nusra, kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaida. Sejak kegagalan itu Pentagon mengubah strategi dan beralih menyokong satuan-satuan yang lebih kecil.

AS kini menaruh harapan pada Syrian Democratic Forces, koalisi yang didominasi kelompok etnis Kurdi. SDF belakangan banyak mencatat kemajuan dalam perang melawan ISIS. Dinas Intelijen AS, CIA, juga dikabarkan banyak membantu melatih pemberontak Suriah.

Pemboman sekutu AS oleh Rusia diyakini akan memperuncing konflik antara kedua negara di Suriah. "Aksi terakhir Rusia menimbulkan kekhawatiran serius terkait rencana Moskow. Kami akan meminta penjelasan Rusia dan memastikan hal seperti ini tidak terulang kembali," kata pejabat Pentagon yang menolak disebutkan namanya.

rzn/yf (afp,rtr)

Laporan Pilihan