1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Rumah Sakit Indonesia di Gaza

29 Januari 2016

Perbaikan sarana kesehatan di Palestina adalah masalah yang sangat mendesak. Tahun 2016, rumah sakit baru yang pertama dibangun dalam 10 tahun terakhir mulai beroperasi. Dananya sumbangan masyarakat Indonesia.

https://p.dw.com/p/1HljK
Gaza Krankenhaus Indonesien
Foto: Reuters/M.Salem

Setelah bertahun-tahun pembangunan, dan terus-menerus tertunda akibat pertempuran di kawasan perbatasan, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza akhirya resmi beroperasi 27 Desember 2015. Sejak itu, setiap hari lebih dari 250 pasien bisa dirawat.

Dibangun di sebuah puncak bukit di luar Jabalya, kamp pengungsi terbesar di Gaza, Rumah Sakit Indonesia mulai beroperasi dan bisa melayani 300.000 penduduk yang tinggal di kawasan yang sering dilanda konflik itu.

Serangan-serangan udara dari Israel sudah menewaskan 2.100 orang di Jalur Gaza, sejak 2014. Sebagian besar korban adalah warga sipil, kata seroang pejabat Palestina. Sementara pihak Israel menyebut jumlah yang tewas adalah 67 tentara dan enam warga sipil.

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia menghabiskan dana sekitar 9 juta dolar AS. Kapasitasnya, 110 tempat tidur, jauh lebih besar daripada rumah sakit lokal yang tua dan yang hanya punya 62 tempat tidur, kata Muaeen al-Masri, bagian hubungan masyarakat.

Gaza yang berpenduduk sekitar hampir 2 juta orang hanya punya sekitar 30 rumah sakit dan klinik, yang menyediakan rata-rata 1,3 tempat tidur untuk setiap 1.000 orang, menurut data Bank Dunia. Sebagai perbandingan, Israel memiliki rata-rata 3,3 tempat tidur per 1.000 tempat tidur, artinya tiga kali lebih banyak.

Ashraf al-Qidra, juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, Gaza masih kekurangan tenaga dokter, terutama spesialis dan ahli bedah. Pasien dengan penyakit serius sampai saat ini terpaksa pergi ke Israel atau Mesir untuk mendapatkan perawatan dari spesialis.

Selama ini, Israel hanya mengijinkan pasien yang dalam kondisi kritis untuk melewati perbatasan ke Mesir. Sebagian besar wilayah Gaza masih menjadi kawasan tertutup, dan banyak pasien terancam meninggal karena tidak bisa dirawat, kata Qidra.

Rumah sakit terbesar di wilayah itu adalah Shifa, terletak di pusat Kota Gaza, dengan kapasitas 750 tempat tidur. Rumah sakit itu begitu sering dibanjiri dengan pasien, sehingga kekurangan obat, peralatan dan personal.

"Ini akan memberi kontribusi besar bagi pelayanan dan situasi kesehatan di Gaza," kata Qidra tentang pembukaan Rumah Sakit Indonesia dekat Jabalya.

Bangunan dua lantai itu dilengkapi dengan berbagai peralatan modern dan memberi memberi pelayanan rawat jalan. Ada departemen bedah umum, ortopedi dan spesialis penyakit pencernaan.

Kementerian Kesehatan Gaza baru memiliki empat unit scanner digital CT, tetapi perangkatnya sudah tua dan ada banyak masalah teknis beberapa tahun terakhir. Ada juga klinik-klinik swasta d Gaza, namun biayanya mahal dan tidak terjangkau oleh kebanyakan penduduk.

Rumah sakit Indonesia di Gaza dibangun di atas areal seluas 1,6 hektar, dan terletak hanya tiga kilometer dari perbatasan ke Israel. Luas bangunan sekitar 10.000 m2. Konstruksi dan pembangunannya melibatkan banyak relawan dari Indonesia. Pembangunan dan pembiayaannya dikoordinasi oleh yayasan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).

"Kami datang ke Gaza tahun 2009, dan kami melihat banyak pasien tidak punya obat, dan kapasitas rumah sakit tidak memadai," kata Edy Wahyudi dari MER-C. Dia mengatakan, dana pembangunannya berasal dari sumbangan perorangan warga Indonesia yang ingin membantu penduduk Gaza.

hp/ml (rtr, MER-C)