1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Robot Yang Dikendalikan Pikiran Bantu Penderita Lumpuh

Teknik robotika terbaru membuktikan, perangkat mesin pembantu itu dapat digerakkan hanya dengan menggunakan pikirian. Banyak penderita cacat motorik yang berharap pada teknologi baru ini.

Berita mengenai seorang perempuan yang lumpuh dari leher ke bawah, dapat memerintahkan lengan robot untuk mengambil cangkir kopi, hanya dengan pikirannya, memicu tumbuhnya harapan. Sebab teknologi robotika semacam itu, baru pertama kali diujicoba terapan praktisnya.

Jörn Vogel, ilmuwan teknik robotika di lembaga pusat Jerman untuk penerbangan dan antariksa (DLR) adalah pengembang teknik robotika yang seperti kisah fiksi ilmiah itu. Tahun lalu, dia melakukan ujicoba teknik terbaru itu, terhadap seorang perempuan warga AS, Cathy Hutchinson (58) yang lumpuh sejak 15 tahun lalu setelah terkena serangan stroke.

Hutchinson hanya bisa berkomunikasi menggunakan gerak matanya. Dia melakukan 6 kali percobaan, dan pada 4 percobaan berhasil mengangkat gelas kopi ke mulutnya. "Dalam dua percobaan, ia nyaris menjatuhkan gelas dari meja, hingga kami menghentikan ujicoba pada titik ini", kata Vogel.

Im Bild: Jörn Vogel, DLR Wissenschaftler, zeigt die Funktionen von dem Roboterarm auf der Automatica 2012 Datum: 21. Mai 2012 Wo: Automatica2012, Internationale Roboter Messe, München Foto gemacht von: André Leslie / DW

Jörn Vogel mendemonstrasikan tangan robot yang dikendalikan dengan pikiran.

Ilmuwan ahli robotika dari DLR itu mengatakan, untuk menyempurnakan robotnya masih diperlukan waktu beberapa tahun lagi. Juga diperlukan cangkok sensor pada otak. "Tapi hasil ujicoba merupakan bukti meyakinkan, bahwa robot-robot pembantu, dapat dikendalikan hanya dengan menggunakan pikiran," tambah Vogel.

Proses jangka panjang

Riset robotika untuk pengendalian gerak lewat pikiran melewati proses amat panjang. Lima tahun lalu, Hutchinson mendapat cangkok chip komputer untuk memantau aktivitas saraf otaknya. Profesor Patrick van der Smagt, rekan kerja Vogel, sejak saat itu terus memonitor perkembangannya.

Menjelang ujicoba final, Hutchinson melatih kemampuannya menggerakan robot. Mula-mula dia diperintah mengikuti gerakan robot, dan dalam waktu bersamaan aktivitas saraf otaknya diukur.

Setelah itu prosesnya dibalik. Kini Hutchinson yang harus mengendalikan gerakan robot. Juga dalam ujicoba ini, seluruh aktivitas saraf otak diukur melalui perangkat sensor yang ditanam di otaknya. Datanya diolah dan dipadukan dengan bantuan komputer, agar lengan robot merespon perintah dengan tepat.

Professor Patrick van der Smagt

Professor Patrick van der Smagt meyakini tekniknya dapat diterapkan dalam beberap tahun ke depan.

"Semua itu amat penting, agar ujicoba tetap aman bagi pasien, baik dalam praktek maupun secara hukum," kata van der Smagt kepada DW. "Itulah sebabnya ujicoba ini perlu waktu amat lama, padahal tekniknya relatif mudah."

Setelah sukses dengan ujicoba Hutchinson, seorang relawan lelaki di Amerika mendapat giliran. Setahun lalu ia mendapat cangkok chip. Dan perkembangannya dilaporkan semakin meyakinkan.

Menyongsong masa depan

Sukes ujicoba terapan, menunjukkan tidak ada keraguan lagi, bahwa teknik pengendalian robot menggunakan pikiran, dapat meningkatkan kualitas kehidupan banyak warga yang menderita cacat motorik.

Professor Patrick van der Smagt mengatakan, ia yakin sistem robotika itu dapat diterapkan pada hampir semua pasien kelumpuhan. Tapi dia menekankan, risetnya masih berada pada tahapan dini.

"Saya tidak bisa menyebutkan, bahwa semua orang akan bisa mendapat transplantasi sistem ini dalam beberapa tahun ke depan" kata dia. Tapi van der Smagt menegaskan, teknologinya diyakini akan dijual di pasaran pada satu tahapan, dimana minat konsumen sudah cukup besar.

Andre Leslie/Agus Setiawan

Editor : Vidi Legowo-Zipperer