1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Riset Menambang Harta Karun dari Dasar Laut

Dasar samudra dan lautan menyimpan harta karun berlimpah, bukan hanya minyak bumi namun juga logam dan mineral berharga lainnya. Namun semua belum bisa dimanfaatkan karena keterbatasan teknologi.

Tonton video 04:19

Riset Menambang Harta Karun dari Dasar Laut

Samudra dan lautan yang terbentuk ratusan juta tahun silam menutupi 75 persen permukaan Bumi. Di dasar laut tersimpan banyak harta karu. Bukan hanya minyak bumi, namun juga mineral berharga lainnya. Tapi manusia belum memiliki teknologi untuk menambang bahan mentah berharga itu.

Para ilmuwan dari pusat penelitian kelautan Helmholtzdi kota Kiel terutama menetapkan satu wilayah sebagai target riset mereka : Laut Merah. Di gudang arsip di Kiel disimpan ratusan inti bor sampel tanah hasil pengeboran di kawasan Atlantis 2 di dasar Laut Merah. Penelitian awal menunjukkan, kawasan itu kaya logam mulia, seperti tembaga dan perak. Bahkan ratusan ton bijih emas tersimpan di perut bumi di dasar laut.

Dr. Warner Brückmann ahli geologi kelautan di Universitas Kiel menjelaskan: Atlantis 2 merupakan kawasan laut dengan cadangan bijih logam terbesar saat ini. Berdasar harga logam saat ini, di kawasan itu ada cadangan logam senilai 14 hingga16 milyar Dollar. Berdasar perhitungan dari sampel tanah, di sana ada cadangan antara 30 hingga 40 ton emas."

Emas, perak, timah dan tembaga, tersedimentasi dalam lumpur laut. Sampel yang dibor dari dasar laut memberikan informasi komposisi akurat lapisan tanah. Di dasar Laut Merah boleh disebut tersembunyi harta karun berlimpah.

Bekerjasama dengan Universitas Jeddah di Arab Saudi, para ahli geologi Jerman meneliti cadangan mineral berharga di Laut Merah itu. Untuk tujuan riset, diambil sampel inti bor hingga sedalam 16 meter. Sasarannya: mengembangkan strategi untuk penambangannya.

Masalah limbah

Masalah terbesar penambangan lumpur yang mengandung logam di Laut Tengah adalah limbahnya. Ini bukan limbah seperti yang lazim di pertambangan konvensional, melainkan lumpur dengan butir pasiran halus. Kita tidak bisa membuangnya sembarangan, karena akan terbentuk kabut pasir raksasa di seluruh Laut Merah, yang memusnahkan semua kehidupan di sana. Harus dirancang dengan matang, untuk mencegah bahayanya, demikian papar Dr. Warner Brückmann.

Delapan mahasiswa calon periset kelautan dari Arab Saudi, mengharapkan penambangan bawah laut di negaranya, agar secepatnya jadi kenyataan. Sejumlah mahasiswa dari Jeddah belajar di Jerman bagaimana bekerja di Kapal Riset Alkor.

Bersama ilmuwan Jerman, mereka mengambil sampel air laut dari kedalaman yang berbeda-beda.

Tareq Hussian Al Qhtaine, mahasiswa dari Arab Saudi yang sedang praktek di Kiel mengungkapkan : "Ini untuk pertama kalinya saya di Laut Baltik, tentu ada perbadaan besar suhu, kadar garam dan sifat geografisnya. Di Laut Baltik terjadi pertukaran arus, sementara di Laut Merah nyaris tak ada. Banyak perbedaan, tapi bagus untuk mengenalinya."

Dengan alat khusus para peneliti mengambil sampel tanah dari dasar laut Baltik. Para mahasiswa mempelajari sampel ini di atas kapal. Lumpur dari Laut Baltik berwarna hitam. Penyebabnya, kandungan besinya tinggi.

Para peneliti muda dari Arab Saudi ini bekerja keras. Dengan pengetahuan dari Jerman, mereka hendak memberikan kontribusi, untuk bisa menambang sumber bahan mentah di negaranya.

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait