1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Reza Rahadian: Belajar tidak kenal akhir

Berbagai penghargaan telah diraih, akting dipuji banyak orang, bukan alasan untuk berhenti mencari sesuatu yang baru. Menanggalkan nama besarnya di Indonesia, Reza Rahadian datang ke Berlin untuk menjadi seorang siswa.

Lebih dari 3.500 pelamar yang berasal dari sekitar 140 negara bertarung untuk terpilih menjadi salah satu dari 300 orang yang berhak mengikuti Berlinale Talents 2016. Satu hal yang membanggakan untuk bisa datang ke Berlin mengikuti program pendidikan singkat yang digelar saat Festival Film Internasional Berlinale. Ini juga dirasakan oleh Reza Rahadian, “Saya merasa bangga, beruntung dan senang bisa ikut workshop Berlinale Talents.”

Dalam program Berlinale Talents bidang pemeran film tahun ini, Reza duduk satu kelas dengan 11 peserta lainnya. Bertemu dengan rekan seprofesi dari negara-negara lain merupakan salah satu dari banyak pengalaman berharga yang diraih Reza selama di Berlin. “Kami saling berbagi pengalaman, bukan soal akting saja tapi juga budaya,” dikatakan Reza. “Dari saling tukar cerita, beberapa hal ternyata berbeda dari yang sebelumnya saya bayangkan.” Reza mengungkapkan, sebelumnya berpikir bahwa aktor dan aktris di luar negeri lebih sejahtera. Namun setelah mendengar cerita rekannya dari Serbia, Reza mengaku merasa lebih beruntung berprofesi di bidang sinema di Indonesia.

Memang bisa dikatakan, saat ini Reza Rahadian tidak kekurangan tawaran bermain film. Kepiawaian seni peran Reza akan kembali bisa dinikmati dalam tiga film yang direncanakan akan dirilis tahun 2016 ini. Salah satunya, Reza akan berperan dalam film arahan sutradara Upi Avianto, My Stupid Boss. Selain itu Reza juga akan berakting sebagai Habibie muda dalam Rudy Habibie, film yang mengisahkan perjalanan mantan Presiden B.J. Habibie.“

Kemampuan berakting yang telah dianugrahi berbagai penghargaan dan tawaran bermain film yang terus mengalir, melihat fakta ini tidak heran bahwa banyak yang bertanya kenapa aktor kelahiran Bogor ini masih “menyiksa” diri duduk di ruang kelas. “Belajar tidak ada hentinya!” Demikian alasan yang dikemukakan Reza kenapa ia jauh-jauh datang ke Berlin. Selain itu, Reza juga berharap bahwa perjuangannya memasuki Berlinale Talents dapat menjadi inspirasi bagi rekan pemeran film lain di Indonesia. “Sebagai aktor, kita tidak boleh merasa sudah cukup jika sudah terkenal. Dan saya juga belum merasa puas dengan kemampuan akting yang saya miliki.

Mempelajari sesuatu yang baru dianggap satu satu tantangan bagi Reza yang juga bisa memperluas wawasan seni perannya. Dan jika sudah kembali di Indonesia, ia juga berkeinginan membagi ilmu yang diperoleh di Berlinale Talents. “Ada beberapa hal yang saya dapat di workshop yang bisa diperkenalkan di Indonesia, misalnya Alexander Tehnik.“ Tehnik ini adalah metode pendidikan untuk mampu mengenali dan menghindari atau mengubah koordinasi tubuh yang buruk. Metode ini biasa dipelajari oleh mereka yang profesinya berhubungan dengan olah tubuh dan suara, seperti penyanyi, pemain film, penari dan juga atlit.

Bukan saja pengalaman, ilmu baru atau juga networking yang bisa dipetik dari program Berlinale Talents. Untuk Reza, berhasil dapat ambil bagian dalam program ini telah mewujudkan mimpi lamanya, “Saya hampir tidak percaya bahwa akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan Meryl Streep.“ Aktris Amerika Serikat ini, yang tahun ini menjabat presiden juri Berlinale, hadir dalam satu workshop yang dikuti Reza. Keinginannya untuk mendapatkan tandatangan Meryl Streep memang tidak terpenuhi. Namun, “Saya merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan idola saya. Saya sampai susah bicara ketika mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepadanya.“

Berlinale Talents 2016 bukan tahapan akhir bagi Reza Rahadian untuk meningkatkan kemampuan seni perannya. Jika ada kesempatan, ia akan terus mencoba mencari dan mempelajari hal-hal yang baru. “Belajar sangat penting,“ ujar Reza. Banyak aktor atau aktris yang dikaruniai bakat akting sejak lahir. Namun, dikatakan Reza, bakat yang dimiliki tidak akan membawa kita melangkah jauh, jika kita sendiri tidak terus memupuk dan mengasah karunia ini.

Laporan Pilihan