1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Reuni Pertama dan Terakhir

Ratusan orang tua kerabat dari Korea Selatan dan Utara saling berpelukan, dan menangis terguncang, ketika bertemu untuk pertama kalinya setelah 60 tahun, dalam reuni keluarga yang terpisah akibat perang Korea.

Pertemuan penuh emosi di tempat peristirahatan Gunung Kumgang Korea Utara itu adalah hasil negosiasi tingkat tinggi yang berliku-liku, antara Pyongyang dan Seoul, yang hampir gagal karena keberatan Utara atas program latihan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Rekaman TV memperlihatkan salju yang turun deras ketika 82 warga Korea Selatan – yang beberapa diantaranya sangat lemah sehingga harus ditandu masuk ke dalam ruangan – tiba di tempat peristirahatan itu dalam konvoi bis untuk menemui 180 keluarga mereka di Korea Utara yang selama enam dekade tidak pernah mereka lihat.

Di dalam gedung utama, di mana sejumlah meja dibentangkan, adegan mengharukan saat saudara laki-laki, perempuan, paman, bibi, saudara tiri dan mertua, ipar saling mencari dan kemudian luruh ke dalam pelukan satu sama lain.

Choi Byung-Kwan, 67, yang ayahnya dibawa ke Utara selama konflik 1950-1953 di mana ia kemudian kawin lagi dan memiliki tujuh anak, jatuh dalam tangisan saat memeluk para saudara tirinya.

“Setidaknya ia punya sebuah keluarga di sini, jadi ia pasti merasa kurang kesepian,” kata Choi tentang ayahnya. ”Betapa kesepiannya dia, jika tidak punya keluarga di Utara?”

Hampir semuanya membawa foto usang, entah itu yang sudah lusuh, atau gambar hitam putih dari keluarga sebelum mereka terpisah, dan juga membawa foto berwarna baru bergambar keluarga mereka sekarang.

Foto-foto ini kemudian diedarkan, untuk dibelai sambil ditangisi.

Para perempuan Korea Utara mengenakan pakaian hanbok tradisional, sementara laki-lakinya sebagian besar mengenakan jas berwarna gelap. Semuanya terlihat mengenakan lencana olahraga bergambar bekas pemimpin Kim Il-Sung dan Kim Jong-Il – yang merupakan aksesoris wajib di Korea Utara.

Makan malam besar direncakan bakal digelar pada Jumat malam di mana keluarga yang bereuni ini akan diberi kesempatan mengadakan pertemuan yang lebih pribadi di kamar mereka.

Menurut para pejabat di Seoul, diantara kelompok keluarga dari Korea Utara, termasuk diantaranya adalah dua nelayan Korea Selatan yang diculik oleh Utara pada 1970an.

Tas berisi hadiah

Warga Korea Selatan, yang rata-rata berumur 84 tahun, meninggalkan kota pelabuhan di bagian timur Sokcho pagi hari dengan menggunakan sepuluh bis, dikawal setengah lusin kendaraan polisi.

Keberangkatan itu tertunda ketika dua perempuan membutuhkan bantuan medis, dan akhirnya terpaksa dibawa dengan ambulans untuk menuju lokasi.

Lebih dari selusin diantaranya berada di kursi roda dan membutuhkan pertolongan untuk naik dan turun dari bis, yang mereka bagi bersama 58 anggota keluarga, yang memberikan dukungan fisik dan moral.

Semua membawa tas-tas berisi hadiah, mulai dari obat-obatan dasar hingga foto keluarga yang telah dibingkai serta paket berisi mie instan.

“Hadiah-hadiah yang saya bawa untuk saudara perempuan ini baik. Sesuatu yang tidak banyak anda jumpai di Korea Utara, jadi saya berharap ia akan senang,” kata Kim Se-Rin, 85 tahun.

“Saya juga membawa beberapa dollar Amerika untuk dia dan adik laki-laki saya,” kata Kim.

Jutaan orang Korea terpisah oleh perang 1950-1953, dan sebagian besar telah meninggal dunia tanpa bisa berhubungan dengan saudara-saudara mereka yang selamat namun terpisah.

Program reuni dimulai sejak tahun 2000, dan daftar tunggu mereka yang ingin mengikuti program ini jauh lebih besar dari angka-angka yang bisa ditampung.

Selanjutnya

Laporan Pilihan