1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Reporter Lintas Batas: 2009 Bukan Tahun Baik bagi Jurnalis

Menurut laporan tahunan organisasi Reporter Lintas Batas, tahun 2009 bukanlah tahun terbaik bagi para pencari berita. Apa sebabnya?

Logo Reporter Lintas Batas dalam bahasa Jerman

Logo Reporter Lintas Batas dalam bahasa Jerman

Tahun 2009 merupakan masa-masa sulit bagi kebebasan pers, demikian kesimpulan organisasi internasional Reporter Lintas Batas. Neraca kebebasan pers tahun 2009 menunjukkan bahwa banyak wartawan dari seluruh dunia yang menjadi korban ancaman, kekerasan dan penindasan negara akibat melaksanakan tugasnya. Banyak dari para kuli tinta itu dibunuh.

Anja Viohl, penyusun laporan tahunan kebebasan pers Reporter Lintas Batas seksi Jerman mengatakan, "Kami melihat sangat banyak kecenderungan negatif, kami melihat bahwa jumlahnya meningkat di mana-mana. Jumlah wartawan yang meninggal meningkat, juga sensor terhadap media. Satu-satunya yang turun adalah jumlah penangkapan."

76 wartawan meninggal tahun ini, 25 persen lebih banyak ketimbang dari tahun 2008. Hampir dari setengahnya merupakan korban kekerasan dalam kampanye pemilu di Filipina.

"Kebanyakan dari mereka adalah korban tewas di Filipina. Yaitu korban pembantaian massal bulan November lalu yang terjadi di Pulau Mindanao. Dalam satu hari ada 30 wartawan yang dibunuh. Semuanya adalah jurnalis lokal. Dalam hal ini dapat dikatakan, pengecualiannya adalah tahun ini wartawannya adalah wartawan lokal,“ papar Viohl.

Pengecualiannya adalah Christian Poveda, pembuat film dokumenter Perancis-Spanyol yang ditembak di El Salvador awal September lalu.

Di benua Amerika, keseluruhan ada enam jurnalis yang terbunuh. Benua yang paling berbahaya adalah Asia. Di sana 44 jurnalis menjadi korban pembunuhan. Namun Somalia di Afrika merupakan negara di mana paling banyak jurnalis menjadi korban pembunuhan.

"Enam dari sembilan jurnalis yang meninggal di Somalia dibunuh oleh kelompok Islam radikal. Di sana, hampir tidak ada media yang independen. Namun ada beberapa stasiun radio yang berusaha menyampaikan informasi yang independen kepada masyarakat, dan dengan cepat mereka menjadi sasaran penembakan. Misalnya tiga reporter radio di suatu stasiun radio yang tahun ini terbunuh," jelas Viohl.

Ancaman utama para jurnalis adalah ketika meliput perang dan pemilihan umum. Namun pada masa krisis keuangan, meliput situasi perekonomian dapat menjadi berbahaya bagi para pencari berita, ujar Anja Viohl. Dikatakannya, "Di Korea Selatan, seorang blogger ditangkap karena dia mengomentari situasi parah krisis ekonomi di negaranya. Di Thailand, enam blogger ditangkap karena menghubungkan kesehatan raja dengan jatuhnya kurs mata uang. Itu saja cukup untuk menuding orang-orang ini, bahwa mereka memprovokasi krisis ekonomi."

Blogger mendapat cukup banyak sorotan, juga dari mereka yang ingin menekan pendapat yang dimuat di media baru. Jumlah mereka yang ditangkap karena mengungkapkan pendapatnya di internet naik hingga 150 persen. Dari 78 menjadi 151. Iran dan Cina merupakan negara yang paling keras terhadap mereka.

"Kami menyimpulkan, banyak orang yang ditangkap karena mempos sesuatu di Facebook, atau menyebarluaskan foto-foto di Facebook atau Youtube. Mereka bukanlah blogger dalam arti klasik, namun mereka simpati terhadap aksi protes, ikut terlibat dan akhirnya terlihat oleh aparat berwenang dan makanya tahun ini kami mengkategorikan mereka dalam satu daftar tersendiri," ujar Viohl.

Menurut Anja Viohl, situasi tahun depan juga belum akan membaik. Karena tahun depan akan digelar banyak pemilihan umum, seperti di Pantai Gading, Sri Lanka, Myanmar atau Irak. Pada saat itulah terdapat banyak aksi kekerasan terhadap jurnalis yang kritis.

Heiner Kiesel/Luky Setyarini

Editor: Christa Saloh-Foerster