1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Reformasi IMF Capai Kesepakatan

Menteri Keuangan G-20 berhasil raih kompromi dalam tema utama sengketa. Setelah pertemuan dua hari di Gyeongju, Sabtu (23/10) diumumkan perubahan haluan berorientasi pasar dan kewajiban memerangi ketidakadilan persaingan

default

Direktur IMF Strauss-Kahn (tengah) berbicara dengan delegasi pertemuan tingkat menteri G-20 di Gyeongju, Korea Selatan

Pembicaraan alot dan kurang tidur mewarnai perundingan menteri-menteri dari negara industri dan ambang industri kelompok G-20. Karena itu pertemuan di Gyeongju sukses, demikian ditekankan menteri ekonomi Jerman Rainer Brüderle

Mungkin itu dapat menjadi kontribusi yang menenangkan terutama bagi pasar mata uang. Persetujuan konkrit tidak dibuat dalam pertemuan tersebut, misalnya dari Cina untuk meningkatkan nilai mata uangnya. Hanya dalam dokumen akhir disebutkan bahwa menteri-menteri kelompok G-20 dan para gubernur bank sentral akan mengurangi ketidak-seimbangan perdagangan.

Itu adalah pengakuan kepada Amerika Serikat yang menuntut berbagai pembatasan baik dalam kelebihan maupun defisit neraca pembayaran (dari impor barang dan modal maupun ekspor barang dan modal) sebesar empat persen dari pendapatan nasional. Saat ini Amerika Serikat mengalami defisit 3,2 persen sedangkan Jerman mengalami plus 6,1 persen neraca pendapatan.

“Hasilnya adalah bahwa itu tidak dimasukkan dalam kesimpulan akhir, petunjuk-petunjuk kuantitatif melainkan lebih mengkonsentrasikan diri pada masalah ekonomi riil dan ini harus ditata kembali."

Penataan itu untuk selanjutnya akan diambil alih oleh Dana Moneter Internasional dimana lembaga ini memberikan perkiraan struktur dan konsistensi politik fiskal serta garis-garis dasar moneter setiap negara maupun nilai tukar mata uang. Menurut Direktur Bank Sentral Jerman Axel Weber, pertemuan itu juga mencapai kemajuan dalam harmonisasi global politik ekonomi, tanpa penetapan konkrit prosentase kewajibannya

"Jika Anda melihat komunike itu maka yang terjadi adalah kami memiliki semua menu upaya penyesuaian untuk mencapai neraca keuangan yang berkelanjutan. Artinya tidak benar bila hanya memperketat diskusi hanya dalam bentuk satu dimensi yakni nilai tukar mata uang."

Yang tampak setelah berakhirnya pertemuan menteri keuangan kelompok G-20 (yang terdiri dari negara industri dan ambang industri) tersebut, tidak ada yang harus pulang sebagai pihak yang kalah. Menteri Keuangan AS menekankan dalam konferensi pers terakhir, bahwa dimulainya diskusi dalam hal itu merupakan langkah penting. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa Amerika Serikat dalam pertemuan puncak di Seoul Korea Selatan pertengahan November akan mengemukakan kembali sasaran kuantitatif sebagai tema bahasan.

Sebaliknya yang akhirnya dapat diselesaikan adalah pengalihan hak suara dalam Dana Moneter Internasional. Menurut pernyataan akhir, kuotanya minimal enam persen yang menguntungkan negara-negara yang berkembang pesat seperti Cina atau Brazil.

Negara-negara tersebut harus lebih banyak menanamkan deposito, tapi sebagai imbalan memperoleh tanggung jawab lebih besar. Eropa harus merelakan sejumlah prosentase poin. Dikatakan pejabat kementerian keuangan Jerman Jörg Asmussen

Sementara itu tuan rumah Korea Selatan menunjukkan sikap puas dengan hasil yang meninggalkan sedikit bahan perdebatan untuk pertemuan puncak G-20 November mendatang.

Meskipun demikian situasi perekonomian dunia masih tetap mengkhawatirkan. Dalam pernyataan akhirnya para menteri keuangan G-20 menekankan bahwa perkembangan ekonomi global memang membaik, tapi tetap berada pada jalan yang rapuh dan bergelombang.

Peter Kujath/Dyan Kostermans

Editor: Setiawan