1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Reaksi Media Internasional Atas Serangan di Suriah

Serangan gas beracun Sarin ke kubu pemberontak di Khan Sheikhoun yang tewaskan puluhan warga sipil, memicu reaksi serangan balasan rudal AS. Inilah reaksi media internasional atas konflik terbaru di Suriah:

Serangan rudal AS ke Suriah sebagai reaksi atas serangan gas kimia ke sarang pemberontak yang tewaskan 80 warga sipil, dikomentari harian-harian internasional.

Presiden AS Donald Trump kini menyadari realita yang ada di Suriah. Demikian komentar harian liberal kanan Denmark, Jylland Posten. Trump tidak bisa lebih lama lagi menutup mata, menanggapi pambantaian di Suriah. Setelah serangan gas kimia yang membunuh puluhan warga sipil, presiden AS yang tersentuh emosinya, mengumumkan reaksi lanjutan dari Amerika. Selamat datang di dunia nyata Mr.President!

Sementara harian sosialis Bulgaria, Duma dalam tajuknya mempertanyakan, darimana tentara Suriah memperoleh senjata kimia? Bukankan PBB telah mengkonfirmasi bahwa semua senjata kimia rezim Assad sudah dimusnahkan? Kelihatannya ada skenario yang terus diulang: jika kelompok-kelompok jihadis mengalami kekalahan di front pertempuran, muncul tudingan bahwa rezim Assad melakukan kejahatan perang. Juga Uni Eropa tidak melontarkan pernyataan, kasus serangan gas kimia itu harus diusut terlebih dulu. Paling tidak dengan argumen, bahwa informasinya berasal dari Al Qaida.

Harian Jerman Frankfurter Allgemeine dalam tajuknya berkomentar: paparan Rusia mengenai serangan udara yang menghantam gudang kimia pemberontak kedengarannya absurd. Organisasi PBB melaporkan gas sarin secara terarah digunakan saat serangan udara, apakah dari pesawat terbang Suriah atau Rusia, tidak dinci. Juga kenyataannya, semua kelompok besar yang berperang di Suriah, memiliki senjata gas beracun. Islamic State-ISIS memproduksi sarin dan juga menggunakannya dalam pertempuran. Daftar kejahatan perang di Suriah tiap hari makin panjang. Juga bantahan Menlu Suriah Mualim bahwa rezim tidak pernah menyerang dengan gas beracun, adalah bohong.

Harian Jerman lainnya Nürnberger Nachrichten berkomentar: Trump belum genap 100 hari berkuasa di Gedung Putih, tapi sudah harus menyadari bahwa selama masa jabatannya ia harus menghadapi dampak mengerikan warisan politik George W.Bush. Paling tidak dibayangi tema tersebut, jika tidak sampai didominasi. Hal ini juga dialami Barack Obama yang jadi pendahulu Trump di Gedung Putih. Trump kini hanya punya satu peluang untuk meredam konflik Suriah, yakni menjalin saling pengertian dengan Putin di Moskow.

as/yf (afp,dpa)

 

Laporan Pilihan