1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Reaksi Keras RI atas Penyadapan Intelijen

Indonesia memanggil duta besar Australia terkait laporan bahwa kedutaan besar negara itu di Jakarta, ikut ambil bagian dalam jaringan mata-mata yang dipimpin Amerika, yang kini sedang menjadi sorotan dunia.

Bersamaaan dengan pengakuan Menteri Luar Negeri John Kerry bahwa kegiatan mata-mata Amerika kadang-kadang terlampau jauh, kecemasan kini berkembang di Asia, dengan Cina termasuk diantara negara yang menuntut jawaban dari Washington atas laporan mengenai penyadapan bawah tanah yang mereka lakukan.

Perselisihan meletup di wilayah ini setelah harian Sydney Morning Herald, memperkuat laporan majalah Jerman Der Spiegel pekan ini, mengenai peta rahasia yang dibocorkan Edward Snowden, bekas mata-mata yang kini menjadi buronan AS, yang menunjukkan adanya 90 fasilitas pemantauan Amerika di kantor misi diplomatik mereka di seluruh dunia.

Laporan Sydney Morning Herald berfokus pada fasilitas intelijen AS di Asia. Tapi media itu juga mengungkapkan bahwa kantor-kantor perwakilan diplomatik Australia telah dipakai untuk memonitor percakapan telepon dan mengumpulkan data sebagai bagian dari jaringan mata-mata Amerika.

Meluasnya laporan mengenai kegiatan mata-mata AS didasarkan atas bocoran dari Snowden, termasuk bahwa dinas rahasia itu memonitor percakapan telepon Kanselir Jerman Angela Merkel, yang kini memicu keretakan hubungan antara kedua sekutu dekat tersebut.

Tapi laporan terakhir itu membawa skandal bagi Asia, wilayah di mana Washington ingin memperkuat hubungan selama beberapa tahun terakhir untuk mengimbangi dominasi Cina.

Indonesia panggil dubes Australia

Indonesien Jakarta US Botschaft Archiv

Bocoran informasi Edward Snowden menunjukkan bahwa Kedutaan AS di Jakarta dipakai untuk kegiatan mata-mata

Indonesia sejauh ini telah menjadi negara paling vokal di Asia dalam menanggapi laporan mengenai kegiatan mata-mata tersebut. Awal pekan ini pemerintah RI telah memanggil diplomat penting Amerika, untuk menanyakan kebenaran laporan bahwa negara itu melakukan pemantauan intelijen dari kedutaan mereka di Jakarta.

Hari Jumat (1/11), duta besar Australia Greg Moriarty giliran dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri di Jakarta, setelah Sydney Morning Herald melaporkan bahwa kedutaan besar Australia telah dipakai untuk operasi mata-mata Amerika.

Setelah pertemuan 20 menit di kantor kementerian itu, Moriarty kepada wartawan mengatakan: ”Saya baru bicara dengan sekretaris jenderal, dan dari perspektif saya, itu adalah pertemuan yang baik dan kini saya harus pergi dan melaporkan langsung kepada pemerintah saya.”

Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa menggambarkan laporan mengenai kegiatan mata-mata itu sebagai "just not cricket," sebuah istilah yang di Australia dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang tidak adil.

Natalegawa, mengungkapkan ini setelah mengadakan percakapan dengan timpalannya dari Australia Julie Bishop di Perth. Marty mengatakan bahwa pemerintah Indonesia “jelas sangat prihatin.“

“Terlebih lagi ini adalah soal kepercayaan,“ kata dia sambil menambahkan: “Saya tidak yakin apa istilah yang benar dalam terminologi Australia, tapi saya kira yang cocok untuk ini adalah ‘it's not cricket.‘“

Bishop mengatakan bahwa Natalegawa telah "mengungkapkan kecemasan. Saya akan menyampaikan itu ke atas dan saya akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang serius, tapi pemerintah Australia tidak dan tak akan pernah mengomentari masalah intelijen.”

Kasus ini menjadi pukulan lain bagi hubungan antara Canberra dan Jakarta, yang sebelumnya juga mengalami ujian terkait kebijakan Perdana Menteri baru Tony Abbott yang berniat mengambil jalan lebih keras untuk menghentikan para pencari suaka yang menggunakan perahu dari Indonesia menuju Australia.

Reaksi berbeda

Sydney Morning Herald mengatakan bahwa peta itu menunjukkan bahwa ada fasilitas intelijen di kantor diplomatik AS di seluruh Asia Tenggara dan juga Asia Timur, di mana aktivitasnya berpusat di Cina.

Beijing merespon laporan itu dengan ”sangat prihatin.”

”Kami menuntut AS untuk membuat klarifikasi dan memberikan penjelasan,” kata Hua Chunying, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina.

Di Malaysia, menteri luar negeri mengatakan telah “meminta klarifikasi“ dari duta besar AS terkait tuduhan tersebut.

Reaksi dari negara-negara Asia Tenggara yang disebut dalam laporan Sydney Morning Herald terlihat lebih bisu dengan Thailand, Kamboja, dan Myanmar berusaha mengecilkan masalah ini.

ab/cp (afp, rtr, ap)

Laporan Pilihan