1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Ratko Mladic Dihadapkan Ke Tribunal PBB

Tersangka penjahat perang Bosnia, Ratko Mladic, hari Jumat (03/06), untuk pertama kalinya dihadapkan ke Mahkamah Tribunal untuk kejahatan perang di bekas Yugoslavia di Den Haag, Belanda.

default

Mantan komandan militer Serbia-Bosnia Ratko Mladic di mahkamah Tribunal Den Haag.

Setelah buron selama 16 tahun, tersangka penjahat perang Bosnia, Ratko Mladic (69) diseret ke mahkamah kejahatan perang untuk bekas Yugoslavia di Den Haag. Pengacara Mladic, Milos Saljic menjelang sidang pertama, Jumat (03/06), melansir berita bahwa kliennya yang didakwa memerintahkan pembantaian lebih 8.000 warga Muslim Bosnia di Srebrenica tahun 1995 lalu, sakit berat. Sebagai buktinya, ia menunjukkan diagnosa sebuah rumah sakit di Beograd dari tahun 2009.

Sebaliknya juru bicara kejaksaan Serbia, Bruno Vekaric, membantah berita ini. Vekaric menyatakan diagnosa itu palsu. Pernyataan seolah-olah sakit berat adalah salah satu strategi pembelaan tersangka penjahat perang paling brutal di Eropa setelah Perang Dunia 2 tersebut. Kejaksaan Serbia sebelumnya telah menuduh pengacara Mladic, membesar-besarkan berita bahwa mantan komandan militer Serbia-Bosnia itu mengidap penyakit kronis dan tiga kali mengalami stroke serta dua kali serangan infark jantung.

Sementara itu, sekretaris mahkamah tribunal di Den Haag, John Hocking, menegaskan, kondisi kesehatan Mladic tidak akan mempengaruhi prosesnya di pengadilan. Juga terdapat informasi, bahwa mantan komandan militer Serbia-Bosnia itu selalu mengenakan seragam militernya selama berada di dalam tahanan di Den Haag. Mladic juga disebut-sebut sangat kooperatif.

Bagi para korban kekejaman Mladic, proses pengadilan di mahkamah kejahatan perang di Den Haag merupakan konsekuensi yang harus ditanggung mantan jenderal itu. Sead Bekric, yang ketika berusia 14 tahun ditembak mukanya oleh serdadu yang dipimpin Mladic ketika menyerbu sekolahnya di Srebenica, kini menyandang cacat buta pada kedua matanya. Bekric mengungkapkan, "Jika kita mengalami kekejaman dan kehilangan orang yang dicintai akibat kejahatan mengerikan, kita tidak akan dapat melupakan selamanya. Kami senang bahwa dunia menindak penanggung jawabnya. Tapi bagi para korban hal itu tidak pernah usai."

Proses pengadilan terhadap Ratko Mladic di Mahkamah Tribunal di Den Haag digelar oleh tim hakim yang dipimpin Chritoph Flügge, hakim dari Jerman pakar hukum pidana internasional. Ia didampingi seorang hakim dari Afrika Selatan dan seorang hakim dari Belanda.

Mladic didakwa melakukan kejahatan perang, genosida dan kejahatan kemanusiaan pada saat perang Bosnia tahun 1992 hingga 1995. Selain melakukan genosida di Srebrenica, ia juga dituduh bertanggung jawab atas pengepungan ibukota Bosnia, Sarajevo, selama 44 bulan oleh milisi bersenjata Serbia. Para hakim mengkonsentrasikan dakwaannya dalam seluruhnya 11 poin, dengan tujuan agar secepatnya dapat menjatuhkan vonis.

Presiden Serbia Boris Tadic menyatakan, setelah ekstradisi Mladic ke mahkamah tribunal di Den Haag, ia yakin dalam waktu dekat akan dapat menangkap buronan penjahat perang terakhir di bekas Yugoslavia, Goran Hadzic, yang di saat perang Bosnia menyatakan dirinya sebagai presiden republik Krajina di Kroasia.

Dengan mengekstradisi para penjahat perang di bekas Yugoslavia itu, pemerintah di Beograd mengharapkan agar secepatnya dapat dilakukan perundingan bagi penerimaan Serbia sebagai kandidat anggota Uni Eropa.

Agus Setiawan/dpa/rtr/afp/dw

Editor: Dyan Kostermans

Laporan Pilihan