1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rakyat Italia Tolak Berlusconi

14 Juni 2011

Berlusconi kembali mendapat pukulan telak. Terjadi perubahan suara pemilih secara besar-besaran di Italia.

https://p.dw.com/p/11a3f
Rakyat Italia merayakan kemenangan mereka dalam referendum yang hasilnya menolak sejumlah undang-undang kontroversial dari PM Silvio Berlusconi.Foto: dapd

Kekalahan PM Italia, Silvio Berlusconi dalam referendum baru-baru ini dikomentari dalam tajuk sejumlah harian internasional.

Harian liberal kiri Spanyol El Pais dalam tajuknya berkomentar : Jika suara pemilih tetap bertahan seperti itu, Silvio Berlusconi bukan hanya akan kehilangan kekuasaannya. Melainkan juga harus bertanggung jawab di depan pengadilan, berkaitan bagian sejarah paling kelam di Italia yang didakwakan berlapis-lapis kepadanya. Rakyat Italia juga menentang penggunaan energi atom serta swastanisasi pengelolaan air bersih. Sebab, jika Berlusconi berbicara mengenai swastanisasi, rakyat Italia akan selalu mengartikannya sebagai dibukanya sebuah lahan baru untuk korupsi.

Harian liberal Austria Der Standard berkomentar senada : Yang paling gawat dalam empat tema referendum adalah hak imunitas bagi Silvio Berlusconi. Para pemilih menegaskan penolakannya lewat referendum tsb. Bagi Berlusconi kini semakin sulit mempertahankan legitimasi pemerintahannya lewat kompromi suara pemilih. Berlusconi telah mencoba segala cara, untuk menggagalkan referendum, akan tetapi upaya tsb justru mendorong suksesnya referendum. Terlihat betapa masifnya perubahan suasana di Italia, dimana rakyat siap bereaksi sebaliknya atas setiap seruan dari Berlusconi.

Harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung berkomentar : Silvio Berlusconi amat berbeda dengan politisi lainnya. Hal inilah yang memberikan sukses dan mencegah kejatuhannya. Sekarang, karakter istimewa dari pemerintahannya, yang masih bertahan hanya tinggal perubahan tiba-tiba. Akan tetapi instink untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan rakyatnya, sudah tidak tersisa lagi. Rakyat kini tidak lagi menurut kepadanya, ketika ia hendak berbicara kepada mereka. Rakyat tidak lagi mempedulikan Berlusconi dan dekritnya, dan lebih memilih pergi ke bilik pemungutan suara. Oposisi tidak berlebihan jika mengatakan, sebagian besar rakyat Italia sudah mengucapkan selamat tinggal kepada Berlusconi. Sekarang rakyat memerlukan tokoh lainnya, yang dapat melaksanakan pemerintahan dengan lebih baik lagi.

Tema lainnya yang masih disoroti harian-harian internasional dalam tajuknya adalah hasil pemilihan umum di Turki yang dimenangkan partai AKP dari PM Recep Tayyip Erdogan. Harian Swiss Tages Anzeiger dalam tajuknya berkomentar : Rakyat Turki telah memilih. Apakah semuanya akan tetap politik lama? Tidak bisa begitu. Sekarang menanti keputusan yang benar-benar amat penting. Dalam dua atau tiga tahun mendatang, Turki harus menunjukkan sosok wajah barunya. Hal itu menyangkut tema amat penting, apakah Turki dapat sukses, melompat dari sebuah negara demokrasi terpimpin menjadi negara hukum yang sebenarnya. Untuk itu, para pemilih memiliki tanggung jawab besar.

Terakhir harian Perancis Le Monde berkomentar lebih kritis: Turki maju amat pesat. Mayoritas rakyatnya rata-rata berusia 28 tahun, berpendidikan tinggi dan industrinya juga maju. Kini generasi muda dari negara-negara Eropa yang dilanda krisis, seperti Yunani atau Spanyol, justru mencari kerja di Istanbul, yang ibaratnya tambang emas baru di depan gerbang Eropa yang lesu darah. Tapi energi besar seperti itu, jangan sampai diwarnai dengan lemahnya demokrasi. Kecenderungan otoriter dari pemerintahan Erdogan, melontarkan bayangan kelam pada akhir masa jabatannya yang kedua. Demokratisasi di Turki ketinggalan oleh perkembangan ekonominya.

Agus Setiawan/dpa/afp

Editor : Dyan Kostermans