1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rahasia Gelap CIA

Goebel Nicole8 April 2014

‘Teknik interogasi’ CIA, yang diterapkan sejak 11 September 2001, tak hanya kejam namun jarang menghasilkan data intelijen penting, ungkap sebuah laporan Senat AS yang rencananya dideklasifikasi.

https://p.dw.com/p/1Bd1j
Foto: Getty Images

Ringkasan sebuah laporan setebal 6.300 halaman mengenai teknik interogasi badan intelijen Amerika Serikat CIA yang digunakan pasca serangan 9/11 siap dirilis ke publik. Komisi Intelijen Senat, yang menyusun laporan, melalui voting pekan lalu memilih untuk mendeklasifikasi ringkasan.

Laporan disebut-sebut sebagai yang paling lengkap berkenaan dengan program era Bush tersebut. Tidak hanya membahas detail pemakaian teknik interogasi yang kontroversial seperti waterboarding, namun menurut The Washington Post, juga menunjukkan bahwa CIA mengelabui pemerintah dengan melebih-lebihkan hasil yang didapat dari penggunaan teknik-teknik tersebut.

Instalasi waterboarding versi seorang seniman
Instalasi waterboarding versi seorang senimanFoto: Leon Neal/AFP/Getty Images

Teknik yang sebagian disebut pemerintahan Obama sebagai penyiksaan dipakai di penjara-penjara CIA di luar Amerika Serikat, yang dikenal dengan nama 'lokasi-lokasi hitam.'

'Kesalahan besar'

The Washington Post mengutip seorang pejabat Washington yang mengatakan bahwa CIA beberapa kali mengatakan kepada Departemen Pertahanan bahwa teknik-teknik yang mereka gunakan menghasilkan "informasi intelijen unik untuk mengacaukan plot teroris yang tanpa teknik interogasi tidak mungkin didapatkan." Pejabat itu lanjut mengatakan bahwa laporan memperlihatkan klaim ini bohong.

Barry Eisler, bekas agen CIA yang kini menjadi novelis terlaris, kepada DW mengatakan, "Anda tidak akan mendengar bahwa penyiksaan menghasilkan informasi intelijen semacam ini - karena memang tidak. CIA ingin semua orang berpikir bahwa itu benar, walau faktanya seorang tahanan telah memberikan informasi yang berguna sebelum ia disiksa."

Eisler kerja beberapa tahun untuk CIA
Eisler kerja beberapa tahun untuk CIAFoto: Pressebild

Eisler yakin butuh berbulan-bulan sebelum "sebagian kecil" laporan dirilis. "Kerahasiaan seperti ini adalah hal yang biasa di Amerika, di mana pemerintah semakin banyak tahu tentang kewargaan, namun pengetahuan warga mengenai pemerintah semakin minim."

Tiada taklimat pasca 9/11

Bob Graham, mantan senator Florida, yang mengepalai Komisi Intelijen Senat selama 18 bulan pada tahun 2001 dan 2002, menyatakan kepada DW, "Saya tidak menyadari adanya teknik interogasi CIA yang kontroversial selama menjabat dalam Komisi maupun Senat."

Sementara CIA bersikeras telah memberi pengarahan singkat kepada para senator terkait program saat mulai diterapkan. Graham mengatakan dirinya menyimpan catatan harian mengenai pertemuan-pertemuannya, yang tidak sesuai dengan klaim CIA.

Graham mengepalai Komisi Intelijen Senat tahun 2001-2002
Graham mengepalai Komisi Intelijen Senat tahun 2001-2002Foto: Bob Graham

Selama menjabat Graham terutama tertarik untuk mengetahui bagaimana pelaku 9/11 dapat merencanakan serangan mereka dengan sangat baik dan teliti tanpa bantuan pihak luar. Namun ia menemukan bahwa "badan intelijen tidak jujur terkait kemungkinan adanya bantuan jaringan eksternal."

Pengawasan lebih?

Apakah publikasi ringkasan laporan akan mendorong pengawasan yang lebih baik terhadap badan intelijen Amerika Serikat, masih diperdebatkan, ungkap Eisler. "Saya rasa akuntabilitas yang sepantasnya atas badan intelijen yang begitu meluas, menjamur dan penuh rahasia seperti milik Amerika tidaklah mungkin," tegasnya kepada DW.

"Satu-satunya solusi nyata adalah mengurangi infrastruktur kerahasiaan secara radikal di Amerika Serikat. Tapi menurut saya kemungkinannya kecil," papar Eisler. Ia menilai baik skandal NSA maupun metode penyiksaan CIA adalah "dua contoh kejadian akibat kekuasaan meluas yang diberikan kepada birokrasi tanpa adanya pengawasan."

"Sedikit kerahasiaan penting untuk melindungi demokrasi. Namun terlalu banyak rahasia adalah kanker bagi demokrasi," pungkas Eisler.