1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Rachmawati Bela Diktator Korut Kim Jong Un

Rachmawati berhasil membuat nama besar Bung Karno jadi bahan tertawaan. Dengan bersikeras membela diktator Korut Kim Jong Un dari segala kritik tentang Soekarno Award. Kolom Hendra Pasuhuk.

Sulit dipercaya, tapi nyata. Itulah realita di panggung jagad kecil politik Indonesia di hari-hari belakangan. Rachmawati Soekarno mengumumkan akan memberikan penghargaan Soekarno Award kepada Kim Jong Un, karena menilai diktator Korea Utara itu adalah tokoh yang konsisten dan gigih menentang neo liberalisme dan imperialisme.

Sengaja atau tidak, Rachmawati Soekarno berhasil membuat nama Sukarno, atau yang lebih dikenal rakyatnya dengan panggilan Bung Karno, jadi bahan tertawaan. Dia bersikeras membela keputusannya memberikan Soekarno Award kepada Kim Jong Un, juniornya di Korea Utara.

Kim Jong Un adalah diktator yang kejam dan sadis. Yang bermain-main mendemonstrasikan kekuatan nuklirnya, sementara ribuan rakyatnya mati kelaparan dan jutaan lainnya tergantung pada bantuan pangan luar negeri dan PBB. Yang mengeksekusi pamannya tanpa proses pengadilan, karena si paman dianggap membahayakan kekuasaannya.

Berita unik dari Indonesia ini kontan saja menyebar ke media-media di luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, The Independent di Inggris dan Der Spiegel di Jerman menyambut dan meneruskan berita lucu ini di situs onlinenya, dengan harapan banyak pembaca yang tertawa-tawa dan meng-klik "berita sensasional" itu.

Di media sosial, Rachmawati jadi tertawaan. Tapi yang menyedihkan adalah, bukan hanya dia yang sekarang ditertawakan, melainkan Soekarno Award, atau lebih tepatnya, nama Soekarno.

Ketika Indonesia seperti sedang kehilangan orientasi, tanpa sosok pemimpin yang bisa menjadi panutan dan memberikan panduan semangat pada rakyat, hanya tinggal beberapa sosok sejarah saja, yang masih masih mampu menggetarkan hati orang, ketika mendengar namanya disebut. Salah satunya: Bung Karno.

Presiden Joko Widodo sendiri sering mengutip kata-kata Bung Karno, untuk membangkitkan semangat bangsanya. Betapa ironis, ketika nama itu kemudian dipermainkan, dijadikan bahan lelucon di luar negeri, karena ulah putrinya sendiri.

Tidak adakah orang yang bisa menasehati Rachmawati? Tidak para sahabatnya? Tidak kaum keluarganya? Kalau demikian halnya, betapa menyedihkan nasib trah Soekarno, 70 tahun setelah dia mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bung Karno pernah dibuang, diasingkan, dipenjara, dikhianati, disingkirkan dari kursi kekuasaan, diperlakukan tidak selayaknya sebagai mantan presiden. Ketika mengalami semua itu, Bung Karno tak pernah mengeluh. Semangatnya tak pernah reda. Namun seandainya dia tahu, apa yang sedang dilakukan salah satu putrinya saat ini, saya cukup yakin dia akan tertunduk dan menangis.

Hendra Pasuhuk, editor DWIndonesia

Laporan Pilihan