1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Lingkungan

Qingdao - Kota Masa Depan

Di awal abad ke 20, Jerman sempat menguasai kota Qingdao, Cina. Di sana dibangun pabrik bir. Dalam waktu dekat, Jerman akan kembali ke sana – kali ini dengan teknologi modern.

Selama 17 tahun, antara 1897 dan 1914, kota pelabuah Qingdao di timur Cina berada di bawah kekuasaan Jerman. Dengan keunggulan militernya, Kekaisaran Jerman mamaksa pemerintah Cina untuk menyerahkan wilayah ini lewat perjanjian sewa.

Jerman memanfaatkan Qingdao sebagai pos perdagangan dan untuk mengamankan kekuatan militer – satu bentuk impererialisme murni. Namun demikian, pakar germanist Shen Lei memandang keberadaan Jerman kala ini sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya, pendudukan Jerman membuat perekonomian kota itu berkembang, “Dalam waktu hanya 17 tahun, Jerman berhasil mengubah desa nelayan ini menjadi kota menengah Jerman.“

Bir dan Teknik

100 tahun kemudian, Qingdao merupakan kota metropolitan berpenduduk sembilan juta jiwa. Pabrik bir buatan Jerman, Tsingtao, kini masih berdiri, dan masih memiliki pengaruh Jerman. “Di kota tua Qingdao, kita merasa seperti di Berlin. Masih terdapat banyak bangunan tua di sana,“ dikatakan Thomas Fuhrmann. Sejak 12 tahun ia tinggal di Cina dan sejak tiga tahun di Qingdao. “Secara struktural dan atmosfer, Qingdao memiliki warna Eropa.“

Menurut Shen Lei, dalam waktu dekat pengaruh Jerman di kota Qingdao tidak hanya secara historis. Shen bekerja untuk kota Qingdao dan merupakan wakil presiden sebuah komite, yang berencana membangun taman-eko Jerman Cina. “Kami merencanakan, mengelola dan mengoperasikan taman-eko dengan filosofi dan teknologi Jerman,“ dikatakan Shen, “Kami berusaha untuk sebanyak mungkin mengikutsertakan kontraktor, investor dan perusahaan Jerman. Kami berharap dapat membangun taman yang memiliki karakter Jerman yang kuat.“

Jerman terpilih terutama mengingat pengalaman perusahaan Jerman dalam bidang teknologi lingkungan dan konstruksi hemat energi. Taman-eko ini akan menjadi wialyah baru kota Qingdao, yang lebih besar dibandingkan banyak kota di Jerman. Perekonomian kota ini tumbauh dengan cepat, kata Shen. “Dalam lima sampai enam tahun, 100.000 sampai 200.000 oranga akan menetap dan bekerja di taman-eko kami.“

Hannover Messe Sino-German Ecopark

Rancangan perumahan diperbukitan Qingdao

Contoh Kota Berkelanjutan

Taman-eko diharapkan dapat menjadi contoh sebuah kota yang berkesinambungan, mulai dari bahan bangunan sampai pasokan energi. Tata kota dan sistem transportasi harus ramah lingkungan. Kantor arsitek gmp Hamburg bertanggung jawab atas perencanaan pembangunan. Perusahaan dan investor Jerman lainnya juga diundang untuk berpartisipasi dalam pembangunan taman-eko ini.

“Idenya adalah menjadikan taman-eko Jerman Cina sebagai proyek percontohan bagi kota yang berkesinambungan. Yang penting adalah, bahwa ini bukanlah hanya sebagai proyek percontohan, tapi dapat mendorong berdirinya tman-eko lainnya,“ dikatakan Mikael Bakies, manajer proyek Far Eastern, perusahaan konsultan, yang mengkoordinasi proyek taman-eko Qingdao. Selain itu, peneliti dan pengusaha di Qingdao dapat pula belajar banyak tentang perumbuhan kota yang cepat, tambah Bakies. “Di taman-eko kita dapat meneliti bagaimana teknologi lingkungan diterapkan di kota-kota seperti ini.“

Hannover Messe Sino-German Ecopark

Bangunan rumah di taman-eko menurut rancangan gmp

Menjaga Keseimbangan

Namun, penting bahwa taman-eko terjangkau dari segi biaya, dikatakan Bakies. “Jadi bukan saja teknik terbaru dan termahal yang dipergunakan.“ Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.

Proyek taman-eko ini didkung oleh pemerintah kedua negara. Bagi pihak Jerman, yang paling penting diperhatikan adalah aspek lingkungannya, seperti dikatakan Ernst Burgbacher dari Kementrian Ekonomi Jerman. Label Eko tidak boleh dijadikan sebagai alat pemasaran. “Oleh karenanya pemerintah Jjerman berharap, taman-eko Jerman Cina menerapkan standar lingkungan tinggi sesuai nama yang disandangnya,“

Sekitar 300 juta Euro telah dijanjikan para investor untuk pembangunan proyek ini. Pihak pengembang juga masih mencari mitra dan perusahaan lainnya. Shen Lei dari komite pengelola yakin, dalam waktu lima tahun satu bagian dari proyek ini, seluas 10 kilometer persegi, akan selesai dibangun. Namun terdapat perbedaan budaya dalam hal kecepatan, kata Shen. “Jika orang Jerman naik bis, pertama ia ingin tahu rute bis tersebut dan halte apa berikutnya. Sementara orang Cina berusaha secepat mungkin masuk bis untuk mendapatkan tempat duduk.“