1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Putin Terus Ditekan Soal Ukraina

Amerika dan Uni Eropa terus menekan Presiden Rusia Vladimir Putin agar mendukung gencatan senjata di Ukraina. Parlemen Rusia mencabut wewenang Putin mengerahkan pasukan.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande kembali melakukan pembicaraan telepon dengan Putin hari Rabu (25/06). Dalam percakapan sekitar satu jam itu, Merkel dan Hollande mendesak Putin agar "bekerjasama, terutama untuk melaksanakan mekanisme pengawasan gencatan senjata".

Menurut kantor kepresidenan di Paris, percakapan itu juga diikuti oleh Presiden Ukraina Petro Poroshenko. Keempat politisi akan melanjutkan konsultasi mereka hari Kamis untuk membahas gencatan senjata yang diusulkan oleh Poroshenko.

Presiden AS Barack Obama meningkatkan tekanan kepada Putin dan menerangkan, Amerika Serikat siap meningkatkan sanksi terjadap Rusia. Hal itu disampaikan Obama dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Italia Matteo Renzi. Obama mengatakan, Rusia "harus menghentikan aliran senjata dan relawan militan lewat perbatasannya".

Menlu AS John Kerry dalam pertemuan NATO di Brussel mengatakan, Rusia masih harus melakukan "banyak langkah konkrit" untuk deeskalasi dalam krisis terburuk antara barat dan Rusia sejak berakhirnya perang dingin.

Parlemen Rusia hari Rabu mencabut kembali wewenang yang diberikan kepada Presiden Putin Maret lalu untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina jika perlu, demi melindungi etnis Rusia. Langkah ini dinilai barat sebagai salah tindakan awal untuk meredakan ketegangan.

Separatis setuju gencatan senjata

Beberapa komandan separatis pro Rusia sudah menyatakan sudah menyetujui gencatan senjata yang diajukan oleh Presiden Ukraina Petro Poroshenko. Namun masih ada kelompok separatis yang tidak menaati kesepakatan itu.

Sebuah helikopter militer Ukraina ditembak jatuh hari Selasa dekat kota Slovyansk. Sembilan tentara Ukraina tewas dalam insiden itu. Namun Poroshenko tidak membatalkan gencatan senjata dan menyatakan Ukraina tetap akan menghentikan pertempuran secara sepihak.

Selama tiga bulan terakhir, lebih dari 400 orang tewas dalam bentrokan antara pasukan pemerintah dan pemberontak. Awal minggu ini, Presiden Ukraina mengumumkan gencatan senjata sepihak yang berlaku sampai hari Jumat (27/06).

Agenda perdamaian

Pemerintah di Kiev menerangkan, gencatan senjata tetap berlaku, sekalipun beberapa kali dilanggar oleh kelompok separatis.

"Kami tetap memegang komitmen untuk melakukan segalanya demi deeskalasi krisis", kata Menteri Luar Negeri Ukraina Pavlo Klimkin hari Rabu di Brussel. Klimkin menghadiri pertemuan menlu NATO yang sedang membahas situasi di Ukraina dan berbagai krisis lain.

Presiden Poroshenko hari Kamis akan membahas rancangan agenda perdamaian di parlemen Ukraina. Agenda itu antara lain memberikan otonomi lebih besar kepada pemerintahan daerah dan menjamin perlindungan etnis dan bahasa Rusia.

Poroshenko juga akan menandatangani perjanjian asosiasi dengan Uni Eropa, yang dulu batal ditandangani oleh pemerintahan sebelumnya di bawah Viktor Yanukovych. Hal itu memicu aksi protes besar-besaran yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Yanukovych.

hp/ab (afp,dpa,rtr)

Laporan Pilihan