1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

#PustakaBergerak Memburu Peminat Buku

Perpustakaan bergerak terus aktif memburu pembacanya yang haus bahan bacaan di kawasan terpencil. Sebuah ironi, saat pemberangusan buku terus terjadi, bahkan tendensinya meningkat. Berikut ulasan Maman Suherman.

Suatu siang, saat duduk di kelas 4 SD Kompleks Patompo, Makassar, 1975, aku meminta uang kepada bapak untuk membeli buku pelajaran Pendidikan Kesejahteran Keluarga (PKK) hari itu juga. Bapak tak bisa memenuhi, tapi dengan sabar menjelaskan kalau ia akan membelikan kelak saat hari gajian tiba.

Perasaan kesal menderu di dada, aku pun berangkat ke sekolah dengan berlinang air mata. Melintasi jalan di depan rumah tanpa menengok ke kiri dan ke kanan. Tetap sambil sesenggukan, menangis dan berurai air mata.

Tiba-tiba tubuhku terpelanting tertabrak becak dan terseret lumayan jauh. Bapak berlari keluar rumah setelah mendengar teriakan sejumlah orang, memeluk dan mengendongku sambil meneteskan air mata. Membersihkan lecet berdarah di tangan, kaki dan wajahku. Keesokan hari, entah meminjam uang pada siapa, bapak membelikanku buku PKK.

Tapi, rasa bersalahku pun muncul. Memaksa bapak, seorang tentara yang hanya berpangkat letnan untuk membelikanku buku, tanpa mau tahu saku bapakku sedang cekak. Beberapa hari berselang, aku berinsiatif berjualan es lilin sebelum berangkat dan selepas sekolah. Juga, berjualan permen di saat istirahat, kubeli Rp 140 sebungkus berisi 40 permen, yang bila kujual Rp5/permen, aku mendapatkan laba Rp 60. Modal itu kudapat dari almarhumah nenekku, yang membuka kedai kecil tak jauh dari rumah orangtuaku. Dari keuntungan itulah aku membeli buku tulis bergambar pahlawan nasional dan juga buku-buku pelajaran.

Dengan perahu, becak, motor dan bendi: Menebar pustaka

Kenangan masa kecil ini kembali menyeruak ketika saya hadir di Makassar International Writers Festival 2013 (MIWF), di tanah kelahiranku, Makassar, yang dipusatkan di Benteng Fort Rotterdam, tak begitu jauh dari rumah masa kecilku. Lily Yulianti Farid, penggagas MIWF, menyentakku dengan mengungkap data dari Unesco pada 2012, bahwa minat baca orang Indonesia itu hanya 0,001. Teramat kecil. Di acara yang sama, aku bersua Muhammad Ridwan Alimuddin, lelaki Mandar, jurnalis dan penulis, sebagaimana diriku. Ada energi yang mengikat kami untuk menyatukan tekad, melakukan gerakan #TebarVirusLiterasi.

Dua tahun berselang, MIWF 2015, aku kembali bertemu keduanya, dan Ridwan hadir setelah berlayar sehari penuh dengan Perahu Pustaka Pattingalloang. Perahu Pustaka yang mendatangi pulau-pulau kecil di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan dengan membawa buku-buku untuk dibaca oleh anak-anak di pulau-pulau kecil, yang jauh dari toko buku dan perpustakaan.

Selepas MIWF, sambil membawa ratusan buku, aku pun menginjakkan kaki ke Polewali Mandar, Sulbar, melihat langsung gerakan #ArmadaPustaka yang dikelola Ridwan, yang tidak hanya menggunakan moda perahu, tapi juga becak, motor, dan bendi.

Di sana, aku menyaksikan anak-anak yang begitu riang menyambut armada pustaka, berebut buku, dan duduk berkeliling dengan sangat khusyuk, membaca satu demi satu buku yang disediakan. Asyik masyuk dengan mata berbinar mendengarkan para relawan yang berdongeng atau membacakan sebuah buku. Berdegup kencang hati ini, karena ada beberapa anak yang ‘'seperti membaca'', memegang buku sebagaimana anak-anak lainnya, tetapi bukunya dalam posisi terbalik. Rupanya, mereka tak bisa membaca, dan karena malu teman-temannya membaca buku, dia pun ikut-ikutan memegang buku, meski terbalik.

Buku: ruang kelas tanpa dinding

Sejak itu, aku bertekad untuk terus mendukung penuh gerakan #ArmadaPustaka yang dikelola Ridwan, hingga akhirnya kami bisa membangun satu perahu lagi yang lebih besar, dan juga Ridwan berhasil mendirikan Nusa Pustaka, sebuah perpustakaan sederhana di atas tanah keluarga yang sekaligus dijadikannya museum maritim, menampung aneka maket perahu tradisional, juga sandeq, perahu khas Mandar, serta buku-buku kemaritiman.

Maret lalu aku kembali ke Tanah Mandar, berkeliling ke sekolah-sekolah di pelosok kampung, yang siswanya harus berjalan lebih dari dua jam, melintasi enam hingga delapan anak sungai untuk bisa sampai ke sekolah. Betapa berbinarnya mata mereka, saat buku dibagikan, saat buku “diceritakan” di ruang kelas. Betapa terharunya, melihat kerumunnya anak kecil hingga orang dewasa saat buku digelar di depan Nusa Pustaka, dan semua larut dalam “dunia baca”. Buku menjadi “ruang kelas” tanpa dinding, tanpa sekat, di mana semua orang dari berbagai jenjang usia, jenis pendidikan, suku, agama, ras, golongan, larut menyatu, tanpa membedakan satu sama lain.

Perpustakaan tak lagi menjadi tempat, “paling horor dan menakutkan di sekolah karena sangat sepi dan tanpa kehidupan,” seperti yang kudengar langsung dari seorang siswa salah satu SMA di Tanah Mandar, saat aku berkunjung ke sana dan berbagi cerita tentang dunia literasi. Ia tak takut mengungkapkan hal itu, meski di sampingku duduk kepala sekolahnya. “Memang benar perpustakaan kami sunyi sekali, jarang siswa yang datang membaca. Mungkin karena bukunya terbatas dan itu-itu saja,” aku sang kepala sekolah dengan besar hati.

Kecelakaan tak surutkan semangat

Ketika aku ikut berlayar bersama perahu pustaka dan terbalik di lautan pada 13 Maret 2016, tepat pada hari peresmian Nusa Pustaka, hampir semua warga di pantai berkerumun, berupaya menyelamatkan kami. Juga, menyelamatkan barang-barang bawaan kami, dan langsung menjemurnya. Tak terkecuali uang dan buku. Juga ada yang langsung membersihkan buku-buku itu, berusaha mengeringkan dengan menggunakan kipas angin, bahkan menyetrikanya.

Ketika kukatakan, “Nggak apa-apa kalau buku itu rusak, nanti kita ganti dan bawa lagi dari Jakarta,” ada yang menjawab, “Buku-buku ini isinya ilmu sekaligus amanah, titipan orang kota yang mau melihat anak-anak pantai di pulau terpencil juga bisa sepintar anak-anak kota. Karena amanah, dia harus sampai pada tujuannya.” Tak terasa, air mata ini menetes.

Semangat bersama tebar virus literasi

Armada Pustaka yang dikelola Ridwan, bukan satu-satunya pustaka bergerak yang dimotori oleh warga biasa di negeri ini. Lewat jejaring warga, kami pun akhirnya berkomunikasi satu sama lain dengan beragam pustaka bergerak, untuk berbagi pengalaman.

Ada Bendi Pustaka Polewali, di Polewali Mandar; Noken Pustaka di Manokwari; Kucang Pustaka di Bulukumba; Wanua Pustaka di Jeneponto; Kuda Pustaka Gunung Slamet di Purbalingga, Motor Jamu Pustaka di Sidoarjo; Motor Pustaka Roda Andalas di Lampung; Kereta Pustaka di Tapanuli Tengah; Kapal Belajar Alusia Toa Toba di Pematang Siantar; Motor Pustaka (BoxBuku) di Jombang, Motor Tahu Pustaka Pasirhuni di Bandung; BioBemo Pustaka Tanah Merah di Tanah Abang, Jakarta; Jaringan Pustaka Nusantara di Matraman, Jakarta, Jaringan Kuda Pustaka Khatulistiwa di Banjarnegara, Stal Kue Serabi Pustaka di Kabupaten Bandung, dan mungkin masih banyak lainnya di berbagai tempat di pelosok negeri ini.

Para pengelolanya adalah orang-orang biasa, yang bekerja tanpa digaji sama sekali, dan juga tanpa memungut bayaran dari para pembaca buku-buku yang dibawanya terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Sahabatku, Nirwan Ahmad Arsuka yang kusebut sebagai penggagas perahu pustaka dan motor penghubung pustaka-pustaka bergerak ini terus membesarkan hati dan mengajak untuk terus mendukung mereka. Tak harus menunggu kehadiran negara, meski #tebarvirusliterasi, mengajak seluruh warga negeri untuk membaca adalah kewajiban negara.

Jika dahulu hanya penguasa negeri dan orang-orang mampu yang peduli dengan dunia baca yang bisa membangun perpustakaan, maka kini saatnya untuk mengatakan siapa pun bisa membangun perpustakaan, termasuk pustaka bergerak. “Buku,” tulis Nirwan, “dan listrik adalah dua tanda kemerdekaan.

Keduanya membantu manusia membebaskan diri dari cengkeraman kegelapan. Dengan listrik, kekuatan indera dan otot manusia mengalami peningkatan pesat sehingga dalam waktu singkat bisa membalik arus air, memindahkan gunung, menandingi matahari. Dengan buku, kekuatan kognitif manusia mengalami metamorfosis yang mungkin pelan namun akhirnya membuatnya sanggup bahkan untuk membayangkan dan sampai batas tertentu mewujudkan sendiri alam semesta yang lain, yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.”

Bukankah itu tugas hakiki kemanusiaan? Menjadi terang dunia. Membawa sesama dari kegelapan menuju cahaya. Tidak dengan memaki kegelapan, perpustakaan bergerak adalah cara orang biasa untuk menyalakan lilin kepada sesama orang biasa.

Bagiku, dengan gerakan #TebarVirusLiterasi, “sedekah buku”, sedekah “4 huruf” : Baca, Iqro, Read, sebenarnya – secara tidak langsung – adalah sebuah upaya menyiapkan generasi mendatang yang tidak terwariskan sifat “Pokoknya nggak mau tahu!”. Generasi yang banyak membaca, yang kemudian karenanya, sadar bahwa “keberagaman itu anugerah, bukan untuk diseragamkan.” Dengan “membaca”, tahu dan memahami banyak hal, generasi mendatang bisa menjadi generasi yang mampu berdialog dengan baik dan berkepala dingin, serta mampu menghargai perbedaan.

Hentikan pemberangusan

Bukan lagi generasi yang jika melihat perbedaan, langsung berteriak garang, menghentak, dan mengancam untuk menutup, menghentikan dan menyerang siapa pun yang dianggapnya berbeda, bahkan membakar buku.

Ketika ditanya, “Kenapa melakukan itu?” jawabannya, “Pokoknya tidak boleh!”

“Mengapa tidak boleh?”

Jawabnya pun kerap seragam, “Karena tidak sesuai dengan Pancasila!”

Saat kembali ditanya, “Yang mana yang tidak sesuai dengan sila-sila dari Pancasila?”, jawabannya pun, “Pokoknya, tidak sesuai dengan Pancasila!”

Tak cuma yang dianggapnya berbeda yang tidak mereka “baca dan pahami”. Bahkan, alat pembelaannya pun: Pancasila, tidak mereka baca dan pahami.

Nirwan mengingatkanku pada Alberto Manguel, penulis dan penjelajah yang merangkai sebuah buku populer, History of Reading. Di buku itu, dengan mudah kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tindakan membacalah yang mengubah makhluk pra-manusia menjadi manusia, yang mengangkat naluri bertahan hidup naik menjadi peradaban.

Pustaka bergerak yang menjemput bola, “memburu pembacanya” akan terus bergerak aktif menjangkau yang terserak dan terpencil, untuk terus mengingatkan tentang indah dan pentingnya “virus” dan “sedekah” 4 huruf itu:

Baca Iqro Read

Lebih dari itu, buku itu: Memerdekakan…..

Penulis:

Maman Suherman adalah konsultan kreatif acara televisi, penulis buku di bawah kelompok KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Sebelumnya merupakan Pemimpin Redaksi di Kelompok Kompas Gramedia (1986-2003); Direktur Operasional dan Managing Director di Rumah Produksi/Biro Iklan Avicom - Auvikomunikasi Mediaprima (2003-2011) menghasilkan lebih dari 50 judul acara televisi berbagai genre, juga iklan

@maman1965

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Silakan tulis komentar dan pendapat Anda atas artikel ini di forum diskusi.

Laporan Pilihan