1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Puisi dari Sampah Digital

Susanne Dickel4 Maret 2014

Spam adalah sampah di masa digital. Tapi ada juga yang bisa mengungkap keindahan dalam surat elektronik berisi iklan. Sehingga dari sampah digital tercipta SPAMpoetry.

https://p.dw.com/p/1BIfw
Puisi dari sampah yang tertulis pada puloverFoto: cc-by-nc-2.0/Mar Canet

Varvara Guljajeva dan Mar Canet membongkar-bongkar sampah, tepatnya sampah digital atau spam. Sampah digital itu lalu mereka pakai untuk karya seni mereka.

Jutaan surat digital berisi iklan semacam ini tersebar di dunia setiap harinya. Sebagian besar spam mendarat di tempat sampah elektronik tanpa dibaca. Tetapi Estin Guljajeva ingin mendaur ulang sampah digital itu.

Digitalisasi Bertemu Materi

Guljajeva dan mitranya Mar Canet dari Spanyol kemudian memulai proyek SPAMpoetry. Bersama-sama mereka menubah teks sampah digital menjadi puisi. Tetapi itu tidak mereka tuangkan ke atas kertas. Untuk puisi baru itu mereka mendesain pulover yang dirajut sendiri. "Ini menekankan beda dunia digital dan kerja tangan tradisional dalam bentuk rajutan,“ kata Guljajeva. Yang satu sangat cepat, sementara yang lainnya lambat. Pada pulover rancangan mereka, bagian lengan, dada dan punggung dihiasi kalimat-kalimat sepert ini:

We are really the
Products. I know that will be
Selected as one.

Tetapi rancangan mereka tidak bisa dikenakan. Beberapa pulover itu berlengan sangat panjang. Selain itu ada juga dua pulover yang di bagian lengan dan lehernya dirajut menjadi satu. Guljajeva menjelaskan, "Pakaian ini sama tidak berfungsinya seperti halnya spam.“ Ia menambahkan, "Orang bisa mengenali bahwa itu pulover, tapi tidak bisa menggunakannya.“

Spam-Poetry auf Strickpullovern
Puisi dari sampah digital pada pulover yang tidak bisa dikenakanFoto: cc-by-nc-2.0/Mar Canet

Terjemahan Memukau

Surat berisi iklan massal dikirim pertama kali tahun 1978. Tapi siapa yang mulai membuat puisi tidak ada yang tahu. Salah satu petunjuknya adalah "poetry slam" pada situs Satirewire. Tahun 2000 situs itu memilih puisi-puisi yang sukses, yang dibuat dari sampah digital. Sejak itu orang banyak mengubah sampah masyarakat yang biasa dengan dunia digital menjadi karya sastra.

Banyak puisi berbahasa Inggris. Tetapi yang berbahasa asing juga menarik. Demikian pendapat penulis Thomas Palzer. Ia terkesan pada spam terutama jika pesan itu mengandung banyak kesalahan tata bahasa, atau jika di dalam kalimat ada sebuah kata yang tidak tepat sama sekali, hingga mengubah makna kalimat. Itu sering terjadi pada spam, karena banyak program langsung menerjemahkan teksnya.

Satu setengah tahun lamanya Thomas Palzer mengumpulkan sampah digital. Cuplikan-cuplikan terbaik ia publikasikan dalam sebuah buku digital. Tetapi apakah teks-teks yang disusun mesin bisa disebut puisi, dan ditempatkan setara dengan karya-karya pujangga besar seperti Goethe atau Rilke? Palzer berargumentasi demikian: "Apa sebenarnya puisi? Puisi bukan bahasa informasi, melainkan menyebabkan sesuatu terjadi dalam diri kita." Dan itu juga bisa disebabkan spam. Setidaknya jika orang membuka diri untuk itu, dan tidak hanya mencari maknanya, maka membaca teks spam bisa menyenangkan karena kadang lucu, kata Palzer.

Bentuk Seni Tanpa Penikmat?

Bagi banyak orang, spam tetap sampah, baik dituangkan dalam bentuk puisi atau tidak. "Kami tidak punya banyak pembaca,“ kata Nikola Richter dari penerbitan Mikrotext yang mempublikasikan karya Palzer. Penulis blog Inés Gutiérrez juga mengatakan, tidak semua penonton bisa menerima puisi jenis ini dengan mudah.

Bersama tiga blogger perempuan lainnya, tahun 2012 Gutiérrez menampilkan beberapa teks dari sampah digital dalam re:publica, sebuah konferensi jejaring sosial di internet. "Kami sadar dalam spam sering tercipta kalimat-kalimat, yang tanpa diinginkan, menjadi lucu,“ katanya. Dalam re:publica ketika itu mereka juga bisa menampilkan lelucon itu kepada publik.

Tetapi situasi beberapa pekan setelahnya berbeda. Penonton tidak mengerti dan tidak memberikan reaksi sama sekali, sehingga mereka tidak mau mencobanya lagi. Kadang memang lebih baik membiarkan spam di tempatnya, di keranjang sampah.