1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Proyek Warisan bagi Generasi Mendatang Kamboja

Pada bulan lalu, hakim pengadilan perang internasional di Phnom Penh menjatuhkan hukuman 30 tahun penjara bagi mantan anggota Khmer Merah, Duch. Kini sebuah 'Proyek Warisan' dibangun.

default

Generasi baru di Kamboja

Daravuth Seng pengacara Amerika keturunan Kamboja, mengelilingi proyek unik yang disebut „Proyek Warisan“ di wihara Buddha di pinggiran kota Battambang, di barat Kamboja. Di wihara itu terdapat kolam yang dalam, besarnya dua kali kolam renang ukuran Olimpiade. Di tengahnya terdapat bangunan panggung yang terbuat dari kayu, yang bila sudah selesai dibangun akan menjadi pusat studi masyarakat yang merupakan bagian dari apa yang disebut ‚Proyek Warisan.“

Wihara itu disebut Wat Samroung Knong. Saat Khmer Merah berkuasa di Kamboja, lebih dari 10 ribu orang dibunuh di sini. Mayatnya banyak yang dibuang ke kolam tersebut. Di dekat kolam itu, terlihat sebuah bangunan kecil, dimana di dalamnya ditemukan tengkorak dan tulang belulang orang-orang yang dieksekusi.

Seng mengatakan proyek yang sedang dilakukan ini bukan hal yang lumrah. Karena masyarakat menyisihkan waktu, uang dan usaha untuk membangunnya, dan bersama-sama dengan Pusat Keadilan dan Rekonsiliasi, sebuah LSM dimana Seng terlibat didalamnya.

Namun pusat studi ini akan menjadi tempat dimana orang belajar tentang sejarah dan merupakan contoh apa yang disebut sebagai „proyek warisan“, yang menjamin bahwa sesuatu yang nyata ditinggalkan di belakang ketika pengadilan perang internasional di Phnom Penh ditutup dalam beberapa tahun.

Bulan lalu, tribunal internasional menjatuhkan vonis 30 tahun penjara bagi Duch, anggota rezim Khmer Merah pertama yang diadili untuk kejahatan perang.

Tahun depan, kasus kedua akan dimulai, dimana, empat pemimpin senior Khmer meraj akan menghadapi berbagai tuntutan, termasuk dakwaan genosida.

Tribunal Internasional tersebut membangun komite legal untuk meneliti sejumlah proyek-proyek spesifik, namun tampaknya belum banyak yang dikerjakan.

Sementara ada organisasi-organisasi lain yang terlibat dalam berbagai proyek. Mulai dari menjamin pengadilan praktik keadilan dari tribunal ke pengadilan domestik, membangun museum arsip dan dokumen dari periode tersebut.

Bagaimanapun juga, masih banyak yang harus dilakukan. Masalah utamanya adalah kurangnya dana untuk proyek tersebut.

Kepala wihara Wat Samroung Knong adalah Acha Thun Sovath. Dia merupakan pendukung utama dalam proyek studi masyarakat.

Acha Thun Sovath merupakan biksu di wihara itu ketika Khmer Merah mengambil alih pada tahun 1975. Namun ia dipaksa meninggalkan kerahibannya dan bekerja di ladang. Sementara banyak biksu lain yang dibunuh. Dia mengatakan banyak orang tidak percaya apa yang terjadi, namun itu tak mengherankan: „Bahkan saya, yang sudah tua ini, bila mendengar orang bicara apa yang terjadi pada tahun 1974, bagaimana Khmer Merah membunuhi biksu dan orang-orang, saya tidak percaya.“

Baginya sangat penting bagi generasi mendatang untuk mengetahui apa yang terjadi sehingga hal serupa tak akan terulang lagi. Proyek warisan ini , menurutnya akan membantu mewujudkan hal tersebut: „Kami tidak akan melupakan. Kami harus selalu ingat apa yang terjadi di gedung ini sehingga kita dapat menceritakannya pada generasi mendatang dan membiarkan mereka mengetahui banyak orang mati di bawah pemerintahan Khmer Merah.“

Robert Charmichael/Ayu Purwaningsih

Editor : Edith Koesoemawiria