1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Proyek Konstruksi Kacau “Made in Germany“

Biaya membengkak, penundaan dan bahkan kegagalan. Banyak proyek pembangunan besar di Jerman berjalan tidak mulus. Apakah orang Jerman tidak lagi secermat dan seteliti seperti reputasi mereka selama ini?

Orang Jerman terkenal rajin, tepat waktu dan giat kerja. Mereka melakukan pekerjaan sesuai yang direncanakan. Demikian setidaknya reputasi orang Jerman. Namun reputasi ini tidak seluruhnya benar. Banyak proyek besar menunjukkan, di Jerman juga terdapat hal-hal yang dianggap hanya ada di negara-negara lain: waktu yang molor, biaya proyek meledak jauh dari yang dicanangkan, kekacauan, penipuan sampai korupsi.

Misalnya, proyek pembangunan Stasiun Utama Berlin. Seharusnya pembangunan stasiun ini hanya akan menelan biaya sebesar 300 juta Euro – namun di akhir proyek pembangunan, dana yang dikeluarkan adalah 1,2 miliar Euro. Contoh lain adalah bandar udara Berlin-Brandenburg, yang jadwal penyelesaiannya terus mundur dan juga lebih mahal daripada yang direncanakan. Sampai sekarang, menurut laporan media, pembangunan bandara baru di Berlin ini menelan biaya lebih dari 4,3 miliar Euro – sekitar 50 persen lebih tinggi dari yang direncanakan. Apakah sektor konstruksi di Jerman tidak bisa lagi merencanakan pembiayaan pembangunan?

Koordinasi Baik akan Menghemat Biaya

Bukan itu yang jadi masalah, dikatakan Peter Tzschlock, CEO Drees und Sommer, sebuah perusahaan konsultan bangunan internasional. Alasan utama kekacauan dalam proyek pembangunan adalah bahwa sejak beberapa tahun bukan kontraktor umum yang diberi tugas untuk mengkoordinasikan semua, melainkan beberapa perusahaan kecil. Dan dalam sebuah proyek besar, jumlah perusahaan kecil bisa mencapai ratusan.

Ini merupakan tantangan besar bagi pemilik proyek, karena ia sendiri lah yang harus mengkoordinasikan seluruh perusahaan yang terlibat dalam proyek. Demikian dikatakan Tzeschlock. “Jika pemilik proyek mampu mengurusnya, maka ia dapat menekan biaya sebesar 20 sampai 30 persen.“

Untuk proyek senilai ratusan juta Euro, ini merupakan penghematan yang sangat besar. ”Namun risikonya adalah, pemilik proyek menanggung lebih banyak tanggung jawab. Dalam proyek skala besar, jika sesuatu tidak berjalan dengan mulus, yang kita lihat selalu sama, yaitu bahwa koordinasi tidak berjalan dengan baik.

Kalkulasi Rendah, Tuntutan Tinggi

Selain masalah organisasi tadi, permintaan perubahan selama tahap pembangunan menjadikan biaya membengkak lebih tinggi dari pada yang direncanakan, dikatakan Cornelius, presiden asosiasi konsultan teknik Jerman. Perubahan ini tidak saja memakan waktu, namun kadang menelan biaya menjadi lebih tinggi daripada yang diperlukan. “Akan disadari bahwa perusahaan konstruksi, yang memenangkan tender untuk proyek, mencoba segala cara untuk menaikkan biaya, yang sebelumnya dikalkulasikan terlalu rendah,“ dikatakan Cornelius.

Perusahan konstruksi menawarkan biaya sangat rendah agar dapat memenangkan tender. Pemilik proyek publik harus memilih “penawaran terbaik secara ekonomis“. Dan biasanya penawaran yang terendah yang dipilih, dikatakan Cornelius. Karena jika memilih penawaran yang lebih mahal, pejabat yang menangani hal ini harus mengemukakan berbagai alasan. Untuk dapat memenangkan tender proyek, perusahaan dengan sengaja menawarkan biaya rendah. Demikian dikatakan Franz Josef Schlappka, guru besar di Universitas Ilmu Terapan Neubrandenburg. “Jika mereka mengajukan biaya sebenarnya, mereka mungkin tidak mendapat proyek. Dan siapa yang menginginkan bahwa satu proyek dibuat, akan menyembunyikan jumlah biaya yang sebenarnya mereka ketahui.“

Perubahan tidak saja menelan biaya, namun juga menimbulkan risiko tambahan, dikatakan Tzeschlock. Misalnya, menjelang tenggat waktu, perusahaan konstruksi cenderung bekerja lebih cepat untuk menghindari keterlambatan dan berusaha menepati jadwal yang direncanakan. “Namun yang akhirnya terjadi adalah pekerjaan menjadi kacau. Berupaya melakukan segalanya untuk memenuhi tenggat waktu, walalupun sebenarnya mereka tidak mampu. Sehingga kualitas pekerjaan menjadi sangat rendah.“

Reputasi di Luar Negeri

Dalam beberapa kasus, pekerjaan yang kacau atau gagal bisa dianggap sebagai tindakan kriminal. Gedung Arsip Sejarah Köln ambruk pada tahun 2009, menewaskan dua orang, karena pembangunan jalur kereta metro bawah tanah menggunakan bahan yang salah. Meski terjadi contoh-contoh buruk seperti: peningkatan biaya proyek, penundaan jadwal, bahkan tindakan kriminal, industri konstruksi Jerman masih memiliki reputasi yang baik di luar negeri, dikatakan Tzeschlock.

Citra teknik Jerman, moralitas, kehandalan, komitmen dan transparansi, yang dibangun Jerman masih dinikmati perusahaan-perusahaan Jerman yang mengembangkan bisnis internasional. “Korupsi, yang sayangnya juga terjadi di Jerman, terjadi dalam skala kecil, yang hampir tidak terlihat oleh luar. Ketika di luar negeri, kami tidak pernah ditanya tentang hal ini. Dan kami kerap berada di luar negeri.“