1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Provokasi AS, Garda Revolusi Iran Sabotase Perjanjian Nuklir?

Garda Revolusi Iran menembakkan roket ke dekat kapal induk AS di Selat Hormuz. Provokasi semacam itu bukan yang pertama kali. Pasdaran diduga ingin menyabotase perjanjian nuklir demi menjaga bisnis gelapnya.

Sebuah provokasi bersenjata bisa berbuntut panjang. Terlebih jika dilakukan di Selat Hormuz. Pasalnya celah laut selebar 30 kilometer itu digunakan oleh negara-negara teluk buat mengangkut sepertiga produksi minyak mentah dunia dan dijaga ketat oleh lusinan kapal perang AS dan Inggris.

Maka agak mengherankan ketika pekan lalu Garda Revolusi Iran alias Pasdaran mendadak melakukan uji coba peluru kendali di Selat Hormuz. Salah satu rudal yang ditembakkan dari kapal cepat Iran itu meledak cuma sekitar 1,370 meter dari kapal induk AS, USS Harry S. Truman."

"Aksi Iran sangat provokatif," kata Kelly Raines, Jurubicara Komando Pusat Militer AS. "Menembakkan senjata ke dekat kapal koalisi di jalur lalulintas laut komersial diakui secara internasional adalah tindakan berbahaya, tidak profesional dan tidak konsisten dengan hukum laut internasional."

Infografik Straße von Hormus Englisch

Selat Hormuz yang menjadi ladang prahara antara AS, Iran dan Arab Saudi

Manuver tersebut sebenarnya pernah dilatih Garda Revolusi di Selat Hormuz beberapa tahun silam. Buat menghancurkan sebuah kapal perang atau kapal induk, mereka mengandalkan puluhan kapal kecil berkecepatan tinggi yang dilengkapi dengan peluru kendali.

Momentum keliru

Tapi kali ini Pasdaran memilih momentum yang tidak menguntungkan buat memprovokasi AS. Karena baru Selasa (29/12) Teheran mengambil langkah pertama buat memenuhi komitmennya dalam perjanjian nuklir internasional. Jika kesepakatan tersebut dipenuhi, Iran antara lain akan bisa kembali menjual minyak di pasar internasional.

Sebenarnya bukan kali pertama Garda Revolusi mengambil langkah yang mengancam kesepakatan atom Iran. Oktober silam pasukan elit di bawah pemimpin besar Ayatollah Ali Khmanei itu menangkap seorang pengusaha Amerika berdarah Iran, Siamak Namazi yang hingga kini masih dibui di penjara Evin.

Penangkapan itu dilakukan cuma tiga bulan setelah kesepakatan nuklir ditandatangani di Wina, Austria.

NEU Mohammad Ali Jafari Revolutionsgarden Iran

Mayor Jendral Muhammad Ali Jafari, Panglima Garda Revolusi Iran

Kesepakatan nuklir adalah salah satu upaya Presiden Hassan Rouhani buat membuka perekonomian Iran kepada dunia internasional. Bahkan beberapa pekan sebelum penandatanganan kesepakatan, Menteri Energi Iran, Bijan Namdar Zangeneh sudah disambangi oleh perwakilan raksasa minyak dunia, Shell, Total dan Eni, buat membahas peluang bisnis.

Selama ini Iran yang menguasai 10% cadangan minyak dunia tidak bisa menjual produknya secara legal lantaran embargo ekonomi. Sanksi tersebut akan dicabut tahun depan. Zangeneh sebelumnya pernah sesumbar bakal membanjiri pasar dunia dengan minyak murah dari Iran.

Ancam bisnis ilegal Pasdaran

Rencana Zangeneh yang seorang akademisi itu diyakini bertolak belakang dengan haluan Garda Revolusi atau Ayatollah Khamenei sendiri. Sejak beberapa bulan terakhir sang pemimpin besar berlangkali mengungkapkan pihaknya tidak akan membiarkan "infiltrasi ekonomi" oleh asing. Terlebih Pasdaran bukan cuma kekuatan militer, melainkan juga mendominasi perekonomian Iran dengan menguasai sektor energi, transportasi dan konstruksi.

Infografik Sanktionen gegen Iran Englisch

Sanksi yang diterapkan terhadap Iran terkait program nuklirnya. Beberapa akan dicabut tahun depan sesuai kesepakatan nuklir yang ditandatangani di Vienna, Austria.

Menurut laporan BBC, selama embargo diterapkan Pasdaran menjual minyak di pasar gelap dan berhasil mencetak keuntungan tujuh milyar US Dollar per tahun. Bahkan bekas Presiden Mahmud Ahmadinejad pernah menyebut Garda Revolusi sebagai "saudara penyelundup kita."

Boleh jadi kesepakatan nuklir dan prospek pasar terbuka di Iran tahun depan dianggap sebagai ancaman terhadap bisnis gelap Pasdaran dan provokasi militer adalah salah satu bentuk upaya mereka mempertahankan status quo.

Dugaan itu diperkuat oleh Mayor Jendral Muhammad Ali Jafari, Panglima Garda Revolusi yang beberapa bulan silam mengecam kesepakatan nuklir Wina, karena dianggapnya telah melanggar "garis merah. "Kami tidak akan pernah menerimanya", tegas pentolan Pasdaran itu.

rzn/as (dari berbagai sumber)

Laporan Pilihan