1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Reunifikasi Jerman

Proses Reunifikasi Jerman

Pada malam menjelang tanggal 3 Oktober 1990, di Berlin, ribuan warga merayakan reunifikasi Jerman. Perundingan-perundingan berat yang dijalankan para politisi berakhir.

Saat kembang api raksasa menerangi angkasa, air mata tampak di wajah orang-orang yang berkumpul di sekitar gedung parlemen Jerman Reichstag di Berlin. Mereka menjadi saksi satu kejadian sejarah, yang baik oleh warga Jerman maupun warga Eropa lainnya dianggap mustahil. Melalui satu revolusi damai, warga Jerman Timur berhasil menggulingkan sistem politik sosialis dan mendepak para pemimpin Jerman Timur. Semuanya berjalan tanpa satu tembakan pun, tanpa kekerasan dan tidak seorangpun yang terluka. Pada tanggal 3 Oktober, Jerman Timur menyatukan diri dengan Jerman Barat – warga Jerman kembali hidup bersama dalam satu negara.

Flash-Galerie Richard von Weizsäcker wird 90 Wiedervereinigung 1990

Di tangga gedung Reichstag, dari kiri ke kanan, Menlu Hans-Dietrich Genscher, Hannelore Kohl, Kanselir Helmut Kohl dan Presiden Richard von Weizsäcker (Foto: dpa)

Presiden Jerman Barat kala itu, Richard von Weizsäcker, mengaitkan momen bersatu kembali Jerman dengan bersatunya benua Eropa. "Kami warga Jerman sadar atas tanggung jawab kami dan dengan bersatunya Eropa kami menginginkan perdamaian di dunia," kata von Weizsäcker, sebelum kembang api disulut.

Malam Yang Panjang

Minggu-minggu menegangkan yang melelahkan telah dijalani Kepala Kantor Kanselir Rudolf Seiters. Sebagai orang kepercayaan Kanselir Helmut Kohl, ia turut ambil bagian dalam begitu banyak peristiwa selama 12 bulan terakhir. Pada malam sebelum perayaan penyatuan kembali, Rudolf Seiters harus menginap di Bundeshaus, kantor pemerintahan Jerman Barat. Akan tetapi, tidak terlintas keinginan untuk tidur.

"Di kepala saya terlintas kembali perundingan yang saya lakukan mengenai izin untuk keluar dari Jerman Timur bagi mereka yang mengungsi ke Kedutaan Besar Jerman di Praha, Ceko, kejadian dengan Hans-Dietrich Genscher di atas balkon kedutaan di Praha, pidato saya ketika Tembok Berlin runtuh, pada saat Helmut Kohl berada di Warsawa (Polandia), dan juga pidato teramat penting yang disampaikan Helmut Kohl di depan gereja Fraunkirche di Dresden."

Helmut Kohl Rudolf Seiters

Kanselir Helmut Kohl (tengah) didampingi Kepala Kantor Kanselir Rudolf Seiters dalam rapat kabinet, 23 Agustus 1990 (Foto: AP)

329 Hari Yang Menegangkan

Tanggal 9 November 1989, Tembok Berlin runtuh. Sampai tanggal 3 Oktober tinggal tersisa 329 hari. Bagi para politisi Jerman Barat dan Timur, masa tersebut merupakan hari-hari perundingan rumit dengan keputusan penting. Kesulitan terutama dihadapi politisi Jerman Timur, yang sebagian besar memang baru memegang jabatan. Dari pemerintahan kesatuan sosialis, para anggota parlemen yang terpilih dalam Pemilu Maret 1990, membentuk struktur pemerintahan federal dengan mendirikan negara-negara bagian baru, yang nantinya bisa disatukan dengan negara Jerman Barat.

Selain itu, aparat pengawasan pemerintah dihapuskan dan mata uang Deutsche Mark mulai diberlakukan. Bahwa semuanya harus berjalan dengan cepat, memang bisa dipahami. Sejak gerakan reformasi melanda Eropa Timur, di mana-mana warga menuntut kebebasan untuk melakukan perjalanan dan menuntut perubahan sistem politik.

Gorbatschow und Weizsäcker

Presiden Richard von Weizsäcker (kanan) bersama pemimpin Uni Sovyet Michail Gorbachov bei einem Empfang in Schloss Augustusburg. (Foto: Regierungonline)

Angin pembaharuan ini dipicu oleh slogan "Glasnost dan Perestroika" atau tranparansi dan reformasi, yang dihembuskan oleh bekas Uni Sovyet. Glasnost dan Perestroika menyebar cepat, menimbulkan demonstrasi-demonstrasi besar di negara-negara Eropa Timur. Rudolf Seiters masih ingat, "Ini menyangkut masalah kendali yang sangat hati-hati terhadap satu proses, yang bukan hanya menimbulkan kekhawatiran serta ketakutan di Moskow saja, akan tetapi juga di negara-negara Eropa Barat."

Jendela Menuju Penyatuan

Impian bersatu kembalinya negara Jerman dipandang skeptis oleh negara-negara utama Eropa. Jerman dikuatirkan akan kembali menjadi negara yang terlalu kuat di benua ini. Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dengan terus terang menentang reunifikasi Jerman. Demikian pula Presiden Perancis Francois Mitterand bukan merupakan pendukung Jerman yang bersatu.

Bildgalerie Helmut Kohl und Mitterand

Presiden Perancis Francois Mitterand menyambut Kanselir Helmut Kohl dalam KTT Eropa di Strassburg pada tahun 1989 (Foto: AP)

Perkembangan yang terjadi di Eropa juga mendapat tentangan dari Uni Sovyet. Karena negara ini merasa kuatir dengan makin berkurangnya pengaruh terhadap negara yang tergabung dalam Pakta Warsawa. Sementara di Barat, orang khawatir akan terjadinya kudeta, mengulingkan kekuasaan Mikhail Gorbachev, sebagai pemberi izin bagi penyatuan kembali Jerman.

Reunifikasi Jerman di Mata Dunia

Warga Jerman dapat dikatakan beruntung. Karena pada masa, yang nantinya disebut "Jendela Menjuju Penyatuan" di tahun 1990 ini, tidak ada peristiwa dunia penting lainnya yang terjadi. Tidak ada peristiwa yang dapat mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari proses penyatuan kembali Jerman ini.

Jika saja proses reunifikasi dimulai lebih lambat, mungkin Jerman sampai kini masih terbelah dua. Karena pada awal Agustus 1990, mata dunia internasional mulai diarahkan pada Irak, yang melakukan invasi ke Kuwait serta memaklumatkan Kuwait sebagai provinsi baru milik Irak. Pertengahan 1991, dunia juga harus menahan nafas, menyaksikan usaha beberapa petinggi militer dan bagian dari Tentara Merah untuk menggulingkan Mikhail Gorbachev. Seandainya usaha kudeta ini terjadi setahun lebih awal, pada tahun 1990, kemungkinan proses reunifikasi Jerman akan berjalan lebih rumit dan panjang. Akan tetapi tahun 1990 memang milik Jerman. Jerman menjadi fokus dunia pada saat itu.

Dresden Deutsche Einheit

Warga kota Dresden merayakan penyatauan kembali Jerman pada malam menjelang tanggal 3 Oktober 1990 (Foto: dpa)

Parlemen Gabungan

Sisa-sisa kembang api masih berserakan di jalanan kota Berlin, ketika anggota parlemen Jerman Barat dan Jerman Timur duduk bersama mengadakan pertemuan. Dua bulan kemudian dilangsungkan pemilu parlemen untuk seluruh Jerman bersama yang pertama kali sejak tahun 1932. Pemilu ini dimenangkan secara mutlak oleh koalisi Kristen-Liberal dengan Helmut Kohl sebagai pemimpinnya.

Laporan Pilihan