1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Proses Keanggotaan Rusia dalam WTO

Jika semua berjalan lancar, tahun 2011 depan Rusia akan menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia, WTO. Pernyataan itu, atau mirip dengan itu, sudah bertahun-tahun dilontarkan kalangan ekonomi.

default

Juru bicara WTO Keith Rockwell

Jalan menuju keanggotaan WTO biasanya memang makan waktu lama. Tetapi 17 tahun seperti dalam kasus Rusia, adalah rekor paling lama. Tak heran jika politisi Rusia menuduh adanya taktik pencegahan bermotif politik dari pihak Uni Eropa atau Amerika Serikat.

Sebaliknya, kalangan diplomat di markas WTO di Jenewa menyatakan kurangnya pemahaman pihak Rusia tentang aturan permainan WTO. Kunci bagi solusinya terletak di Moskow, kata juru bicara WTO, Keith Rockwell, "Proses menjadi anggota dan kecepatannya, dikendalikan dari ibukota negara yang melamar. Karena seringkali, langkah reformasi yang dituntut untuk menjadi anggota WTO, sulit dilakukan. Jelas ini yang terjadi dalam kasus Rusia. Ada beberapa sektor dalam ekonomi Rusia yang mendapati proses bergabung dengan WTO sangat sulit."

Moskow harus melakukan perundingan keanggotaan dengan setiap anggota WTO, yang saat ini berjumlah 153 negara. Tidak semua perundingan bilateral berjalan mulus. Contohnya Georgia. Tetangga kecil di selatan Rusia itu sudah 10 tahun menjadi anggota WTO dan memanfaatkan status ini untuk menggunakan hak vetonya. Sejak konflik pada pertengahan 2008, Georgia memblokade proses keanggotaan Rusia. Ukraina juga tidak kunjung memberi lampu hijau. Anggota WTO selebihnya menjalin kesepakatan dagang dengan Moskow.

Rusia adalah kekuatan ekonomi terbesar di luar WTO. Setelah menjadi anggota, larangan impor yang semena-mena, kenaikan pajak secara drastis dan pembatasan impor, tidak mungkin lagi dilakukan tanpa menuai sanksi. Negara pengekspor seperti Jerman akan menarik untung dari akses ke pasar yang lebih mudah, demikian diyakini Keith Rockwell dari WTO.

Di Jenewa, orang tidak terheran-heran ketika PM Vladimir Putin pada Juni 2009 menyatakan, Rusia membatalkan upayanya untuk menjadi anggota WTO. Sebagai gantinya, Rusia bersama Kazakhstan dan Belarusia berniat masuk WTO sebagai kesatuan pabean. Tetapi sementara ini, Rusia kembali berunding tentang keanggotaannya sendiri.

Dua tahun sebelumnya, saat menjabat sebagai presiden, Putin juga kehilangan kesabaran dan menyebut WTO "kolot, tidak demokratis dan tidak fleksibel". Tak ada yang menyimpan dendam, kata Keith Rockwell, juru bicara WTO, mengomentari episode itu. "Kami bermuka tebal di WTO ini. Kami pernah dihina lebih buruk dari itu. Kami dengan senang hati akan mengundang Tuan Putin untuk berkunjung ke sini. Mungkin saat Rusia menjadi anggota WTO, ia bersedia datang dan kami akan senang menyambutnya di sini."

Claudia Witte/Renata Permadi

Editor: Asril Ridwan