1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Proses Demokratisasi Tunisia Terancam?

Setelah serangan di Tunisia, pakar Afrika Isabelle Werenfels lihat ancaman terhadap proses demokratisasi Tunisia. Pemerintah harus beri reaksi dengan kepala dingin, katanya dalam wawancara dengan Silvia Engels, dari DLF.

Silvia Engels: Pers dan masyarakat umum tampaknya menuntut langkah keras pemerintah. Apakah serangan ini jadi tanda bahwa Islamisme tambah kuat di Tunisia?

Isabelle Werenfels: Saya pikir, keadaan keamanan di Tunisia sudah lama semakin buruk. Sebenarnya sejak akhir 2012 sudah tampak, contohnya, di perbatasan dengan Aljazair ada kelompok yang secara khusus menyerang aparat keamanan. Dan keadaan sekarang tambah buruk. Kita melihat ada kelompok, yang tampaknya mendukung Islamic State (IS). Kita juga melihat persaingan dan kerjasama antar kelompok teroris. Semua itu menyebabkan semakin gencarnya serangan dan upaya serangan. 2013 juga terjadi pembunuhan terhadap dua politisi, yang dilakukan jihadis. Jadi itu tidak terjadi tiba-tiba. Dan saya pikir orang harus hati-hati menggunakan nama IS. Karena kita tidak tahu sejauh mana mereka beroperasi, sejauh mana kelompok di Tunisia berkaitan dengan IS atau sekedar memakai nama IS untuk ikut naik daun.

Dalam bulan-bulan terakhir banyak laporan, bahwa simpatisan IS dari Tunisia tambah banyak. Mereka bertolak ke Suriah dan Irak untuk ikut berperang. Apakah mereka yang kembali ke Tunisia mendapat pengaruh besar di kalangan teroris negara itu?

Memang diduga demikian, dan itu juga diperhatikan di Jerman. Yang kembali diperkirakan sekitar 500 orang. Memang orang harus hati-hati menyebut angka. Mereka yang kembali tentu ada pengaruhnya di negara asal, tapi dari Tunisia dan dari negara lain kit juga mendengar, mereka yang kembali sudah tidak berilusi lagi. Kita tidak bisa memukul rata, bahwa yang kembali sudah jadi tambah radikal. Mereka mungkin sudah tahu bagaimana IS sesungguhnya setelah melihat sendiri di Suriah. Masih harus dilihat lagi bagaimana sikap mereka yang kembali. Libya juga sekarang jadi tempat pelatihan dan persembunyian orang-orang Tunisia yang radikal. Dan seperti sudah disingguh, di perbatasan dengan Aljazair juga ada kelompok-kelompok yang aktif.

Sejauh mana kelompok-kelompok ini punya potensi mencegah terbentuknya demokrasi di Tunisia?

Dr. Isabelle Werenfels SWP

Dr. Isabelle Werenfels


Saya pikir, mereka tidak akan bisa sepenuhnya menyebabkan destabilisasi. Untuk itu rakyat Tunisia terlalu bersatu. Aparat keamanannya juga tidak lemah, walaupun perlu sokongan, dan dari Eropa dukungan tambah kuat. Saya pikir masalahnya lain. Masalahnya, proses demokratisasi sedang dalam fase kritis sehingga rentan. Sekarang institusi dibangun dan UUD mulai dilaksanakan. Sekarang kehakiman yang independen baru terbentuk dan pelaksanaan hukum. Jika sekarang, misalnya UU anti teror yang sudah sangat ketat dan bermasalah dari segi HAM, semakin diperketat, maka akan timbul bahaya, bahwa akibat perang terhadap terorisme kebebasan begitu dibatasi, sehingga hukum dirugikan. Itu artinya, proses demokratisasi akan terhenti. Saya pikir itu yang harus dikhawatirkan, bahwa demokrasi akhirnya tidak penting lagi, melainkan hanya keamanan saja.

Sejauh mana bahaya tambah besar, bahwa sektor ekonomi penting seperti turisme menderita kerugian?

Saya pikir itu masalah tambahan. Ini bukan sektor wisata saja, melainkan juga investasi asing. Itu sangat penting bagi Tunisia dan sudah berkurang, sejak revolusi 2011. Jika kesengsaraan sosial-ekonomi tambah besar, berutama di daerah-daerah di mana kelompok jihadis kuat, tentu bahaya perekrutan meningkat. Itu ibaratnya lingkaran setan, dan kita hanya bisa berharap, bahwa pemerintah Tunisia tetap berkepala dingin, dan Eropa tetap mendukung Tunisia, juga secara ekonomi, di samping keamanan. Tapi diawasi agar tidak menjadi represi lagi, seperti dilaksanakan pemerintah Ben Ali yang diselubungkan dalam perjuangan lawan terorisme.

Isabelle Werenfels adalah peneliti dan pakar Timur Tengah dan Afrika pada Stiftung Wissenschaft und Politik.

Interview: Silvia Engels (ml/vlz)

Laporan Pilihan