1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Program Bayi Tabung "Murah"

Bagi pasangan yang tidak bisa memperoleh keturunan secara alami, program bayi tabung adalah salah satu alternatif yang menolong. Namun, biaya yang tinggi menghambat banyak pasangan untuk mencobanya.

Para dokter di Belgia mengembangkan teknologi bayi tabung yang "lebih murah" untuk diterapkan di negara-negara berkembang. Di sana, sistem bayi tabung yang selama ini digunakan sering tidak mampu dibiayai oleh kebanyakan pasangan.

Biaya Jauh Lebih Murah

Senin (08/07/13), para peneliti mengatakan mereka mempermudah proses tersebut sehingga biayanya hanya sekitar $260 untuk setiap siklus bayi tabung. Hasilnya tidak beda jauh dengan program konvensional IVF (In-vitro-Fertilisation) yang sudah dikenal sebelumnya.

Harga metode yang baru hanya 10 hingga 15 persen dari biaya IVF biasa dan memberi sinyal bahwa penanganan kemandulan suatu saat bisa diakses secara universal. Demikan tutur Elke Klerkx dari Genk Institute for Fertility Technology.

Pentingnya Masalah Kemandulan

Sekitar lima juta bayi tabung telah dilahirkan sejak Louise Brown, bayi tabung pertama yang lahir di tahun 1978. Tapi program ini tidak banyak diterapkan pasangan di negara berkembang karena biayanya yang terlalu tinggi.

Louise Brown Retortenbaby 1978

Louise Brown bayi tabung pertama di dunia

"Penanganan kemandulan mungkin adalah masalah layanan kesehatan yang paling diabaikan di negara-negara berkembang. Padahal menurut WHO, lebih dari 2 juta pasangan mengalami masalah tersebut," tambah Klerx.

Untuk bisa menghemat biaya, Klerkx dan koleganya menggunakan metode kultur embrio yang tidak memerlukan alat laboratorium mahal seperti di klinik-klinik IVF Eropa atau Amerika Utara. Biaya klinik IVF bisa mencapai 3 juta Euro. Tapi menurut Klerkx, laboratorium versi murah hanya membutuhkan kurang dari 300.000 Euro.

Konsep Belum Matang

Pembangunan laboratorium di Genk diperkirakan akan selesai November tahun ini dan menyediakan pelatihan bagi dokter dari negara-negara berkembang.

Para pakar fertilitas yang menghadiri pertemuan tahunan masalah reproduksi dan embriologi Eropa di London berpendapat, sistem tersebut memang bisa membawa IVF ke seluruh penjuru dunia termasuk Afrika. Tapi mereka juga memperingatkan, laboratorium eksperimen baru dibangun di Belgia, sementara sasaran akhirnya adalah negara berkembang. Jadi dibutuhkan ujicoba lebih besar di beberapa negara berkembang, sebelum menerapkannya secara menyeluruh.

Laporan Pilihan