1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Program Atom Iran Masih Picu Kontroversi

19 Februari 2012

Program atom Iran yang kontroversial tidak hanya mengundang kritik tapi juga sanksi. Meski demikian Israel menyerukan sanksi lebih ketat bagi Iran.

https://p.dw.com/p/145V5
Iran's President Mahmoud Ahmadinejad watches from a control room as nuclear fuel rods are loaded into the Tehran Research Reactor in Tehran, in this still image taken from video February 15, 2012. Iran trumpeted advances in nuclear technology on Wednesday, citing new uranium enrichment centrifuges and domestically made reactor fuel, in a move abetting a drift towards confrontation with the West over its disputed atomic ambitions. REUTERS/IRIB Iranian TV via Reuters TV (IRAN - Tags: SCIENCE TECHNOLOGY POLITICS TPX IMAGES OF THE DAY) IRIB - NO ACCESS IRAN/BBC PERSIAN TV/VOA PERSIAN NEWS NETWORK -- INTERNET ACCESS: NO ACCESS IRAN/BBC PERSIAN TV / VOA PERSIAN NEWS NETWORK WEBSITES (RESTRICTION IMPOSED LOCALLY BY IRANIAN AUTHORITIES) NO SALES. NO ARCHIVES. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. IT IS DISTRIBUTED, EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS. IRAN OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN IRAN
Presiden Ahmadinejad kunjungi reaktor atom IranFoto: REUTERS/IRIB

Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak menyerukan untuk pengetatan sanksi terhadap Iran. Sanksi-sanksi baru harus diputuskan dengan cepat, demikian dikatakan Barak Sabtu (18/02) saat kunjungannya di Jepang. Jika tidak Iran dapat mencapai apa yang disebut zona imunitas. Yang dimaksud Menteri Pertahanan Israel itu adalah kemungkinan stadium program atom Iran, yang tidak dapat dihentikan lagi dengan serangan senjata.

Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda dalam pertemuan dengan Barak di Tokyo mengatakan, negaranya akan berupaya mengurangi impor minyak dari Iran. Saat ini 10 persen kebutuhan minyak Jepang diimpor dari Iran.

Menurut pemberitaan harian “Washington Post” awal Februari lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta memperingatkan kemungkinan serangan Israel terhadap instalasi nuklir Iran dalam bulan-bulan mendatang dan menyampaikan kecemasannya.Mengenai itu Ehud Barak mengatakan, dukungan Amerika Serikat untuk keamanan Israel mencapai kemajuan amat besar dan mendalam. Paling tidak di negara-negara barat terdapat konsensus, bahwa tidak ada pengeculian untuk opsi tindakan. Demikian ditekankan Menteri Pertahanan Ehud Barak terkait kemungkinan serangan.

Ehud Barak, Minister of Defense and Deputy Prime Minister of Israel, speaks during a plenary session at the World Policy Conference at the Hofburg palace in Vienna, Austria, on Sunday, Dec. 11, 2011. (Foto:Ronald Zak/AP/dapd)
Ehud BarakFoto: dapd

Sementara itu Menteri Pertahanan Inggris William Hague menolak dilakukannya serangan militer terhadap Iran. Dalam wawancara yang dipublikasikan harian Inggris The Daily Telegraph, Sabtu (18/02), Hague mengatakan saat ini serangan terhadap Iran tidak menjadi favorit pemerintah Inggris. Aksi serangan mengandung kerugian yang besar.

Uni Eropa Nilai Iran Bersedia Berunding

Dalam sengketa mengenai program atom Iran, pejabat tinggi urusan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton secara berhati-hati menyampaikan optimisme untuk kemungkinan pembicaraan baru dengan Teheran. Tanggapan Iran baru-baru ini terhadap tawaran pembicaraan, dapat berarti bahwa negara itu bersedia untuk berunding. "Saya menahan diri sekaligus bersikap optimis. Reaksi Iran menunjukkan bahwa upaya dua jalur pihak barat dalam konflik ini benar. Sanksi-sanksi dan tekanan terhadap negara itu sebagai tanggung jawab kami terhadap masyarakat internasional, menurut saya telah menunjukkan efeknya. Tapi tentu saja kami ingin menyelesaikannya melalui pembicaraan.“

Secretary of State Hillary Rodham Clinton, right, and EU High Representative Lady Catherine Ashton, left, shake hands after signing of the US-EU framework at the US State Dept. Building in Washington, Tuesday, May 17, 2011. (AP Photo/Pablo Martinez Monsivais)
Catherine Ashton (kiri) dan Hillary ClintonFoto: AP

Demikian dikatakan Ashton Jumat (17/02) lalu di Washington, usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Clinton menilai surat dari Iran sebagai jawaban yang mereka tunggu. Namun kedua politisi menekankan, bahwa surat itu harus dikaji secara seksama.

IAEA Harapkan Informasi Konkrit

Sementara itu Badan Energi Atom Internasional IAEA melakukan upaya baru untuk memperoleh informasi tentang program atom Iran yang kontroversial. Minggu (19/12) IAEA mengirimkan kembali tim pakar ke Teheran dengan harapan mulai Senin (20/02) akan memperoleh akses sepenuhnya ke lokasi, melihat dokumen-dokumen dan melakukan pertemuan dengan wakil-wakil pemerintah. Kunjungan tim pakar IAEA akhir Januari lalu, menurut Badan Energi Atom Internasional tidak memberikan hasil konkrit.

Dyan Kostermans/dpa/DW/AFP

Editor: Marjory Linardy