1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jelajah Jerman

Program Anti Kekerasan di Penjara

Sebuah organisasi anti kekerasan menggelar program pencegahan kekerasan di penjara-penjara Jerman. Sasarannya bekas anggota ekstrim kanan dan Islamis.

ARCHIV - ILLUSTRATION - Ein Justizbeamter schließt am 05.09.2007 einen Häftling in seinen Haftraum

Ilustrasi Penjara

Program anti kekerasan mencoba membongkar cara berpikir kelompok radikal yang cenderung menggunakan kekerasan. Organisasi Violence Prevention Network (VPN) bekerjasama dengan rumah tahanan dan menawarkan program ini di penjara-penjara Jerman.

VPN menawarkan konsultasi dan seminar, terutama bagi pendukung ekstrim kanan Neonazi atau jaringan Islamis yang ada di penjara. Para tahanan harus mendaftar untuk ikut pelatihan ini. Peminat seminar cukup banyak, sehingga banyak peserta harus menunggu cukup lama sampai mendapat tempat dalam seminar.

"Biasanya yang ikut anak muda. Mereka sadar bahwa mereka terlalu sering melakukan kekerasan. Mereka ingin mengubah itu, supaya kalau bebas, mereka tidak terjebak kekerasan dan masuk penjara lagi", kata Judy Korn dari VPN. Seminar anti kekerasan tidak hanya berfokus pada emosi perserta, melainkan juga pada ideologi kekerasan.

Frustasi dan tanpa perspektif

Tujuan seminar anti kekerasan adalah untuk mencegah radikalisasi berkelanjutan, yang kemudian berkembang menjadi potensi kekerasan dan teror. Banyak anggota kelompok Islamis berasal dari negara-negara Arab, namun ada juga yang berasal dari keluarga Jerman. Anak-anak muda ini merasa frustasi dan tidak punya masa depan. Mereka kemudian terjerat ideologi kekerasan yang membenci segala sesuatu yang berasal dari barat.

Pengikut kelompok ekstrim kanan situasinya tidak jauh berbeda. Mereka juga merasa frustasi dan tidak melihat perspektif bagi masa depan mereka. Lalu mereka bertemu dengan orang-orang yang punya ideologi kebencian terhadap warga asing. Teroris ekstrim kanan seperti Uwe Böhnhardt dari kelompok NSU sudah sejak muda dikenal sebagai pelaku kekerasan dan pernah masuk penjara, sebelum menjadi pembunuh.

VPN menyoroti pola dan ideologi kekerasan. Lebih dari 700 tahanan sudah mengikuti seminar dan pelatihan VPN. Program ini cukup berhasil. Menurut sebuah penelitian ilmiah, dari mereka yang pernah mengikuti seminar anti kekerasan, hanya 13 persen yang kemudian ditahan lagi karena melakukan kekerasan. Sedangkan dari mereka yang tidak mengikuti pelatihan, 41,5 persen kembali melakukan kekerasan.

Kekurangan dana

Sekalipun cukup berhasil, VPN mengalami kesulitan mengumpulkan dana untuk melanjutkan program anti kekerasan. Kementerian Dalam Negeri memang memuji kerja VPN, namun menyatakan hanya bisa memberi dana pada awal program ini, tapi tidak ada dana untuk program selanjutnya.

Menurut Judy Korn, pemerintah federal dan pemerintah negara bagian sekarang saling melempar tanggung jawab. Sebenarnya Kementerian Kehakiman setuju agar program ini dilanjutkan. Tapi pembiayaannya harus ditanggung oleh Kementerian Dalam Negeri.

Jika tidak ada bantuan dana, VPN harus menghentikan programnya akhir tahun ini. Padahal Judy Korn mengatakan, program pencegahan kekerasan jauh lebih murah daripada biaya menahan pelaku kekerasan. "Untuk ikut seminar, biayanya sekitar 7500 sampai 8000 Euro untuk setiap peserta. Sedangkan kalau seseorang ditahan lagi karena melakukan kekerasan, biayanya bisa lebih dari 70.000 Euro."

Laporan Pilihan